Berita Terkini
Nasional

Nilai Ekspor Kakao Tembus US$ 2,65 Miliar, Hilirisasi Jadi Kunci

Oleh Ramli Akhmad · Minggu, 15 Februari 2026 01:20 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Nilai Ekspor Kakao Tembus US$ 2,65 Miliar, Hilirisasi Jadi Kunci

PUBLIKSATU, JAKARTA – Kinerja kakao nasional menunjukkan sinyal positif. Setelah menghadapi tantangan produktivitas dalam beberapa tahun terakhir, produksi kakao Indonesia diproyeksikan semakin meningkat pada 2026.

Berdasarkan data Statistik Perkebunan, produksi kakao pada tahun 2024 tercatat sebesar 617 ribu ton dari luas areal 1,37 juta hektare. Pada 2025 (angka sementara) produksi berada di kisaran 616 ribu ton, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi 635 ribu ton dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare.

Kenaikan ini menjadi momentum penting di tengah penguatan harga kakao global dan meningkatnya permintaan pasar internasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebangkitan kakao nasional harus diarahkan pada peningkatan produktivitas dan percepatan hilirisasi.

“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus memperkuat hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri,” ujar Mentan Amran.

Diketahui sekitar 99 persen kebun kakao nasional dikelola oleh perkebunan rakyat dengan kontribusi produksi mencapai lebih dari 616 ribu ton pada 2024. Tercatat sekitar 1,50 juta kepala keluarga pekebun menggantungkan hidup pada komoditas ini.

Salah satunya, di Sulawesi masih menjadi tulang punggung produksi nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen atau sekitar 378 ribu ton. Sementara Sumatera menyumbang sekitar 164 ribu ton. Untuk penyumbang produksi utama dari Lampung dan Sumatera Utara.

Di sisi perdagangan, nilai ekspor kakao Indonesia pada 2024 mencapai 348 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 2,65 miliar.

Data BPS yang diolah Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan tren ekspor kakao Indonesia dalam periode 2021–2025 tetap menunjukkan peran signifikan di pasar global, dengan sejumlah negara tujuan utama di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat mengatakan, lonjakan harga kakao domestik pada 2025 sejalan dengan kenaikan harga biji kakao fermentasi internasional.

“Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang mengalami penguatan signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. Karena itu, kami mendorong peningkatan kualitas, terutama fermentasi, agar harga di tingkat pekebun bisa optimal,” ujarnya.

Menurutnya, momentum harga tinggi harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi sektor kakao berbasis hilirisasi. Pemerintah mendorong penguatan industri pengolahan, mulai dari biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi, agar nilai tambah tidak berhenti di hulu.

Bagikan