Berita Terkini
Nasional

Mentan Amran: Pangan adalah Alat Pertahanan Negara, Indonesia tak lagi bergantung Impor

Oleh Ramli Akhmad · Kamis, 2 April 2026 02:56 WIB · 2 menit baca
Mentan Amran: Pangan adalah Alat Pertahanan Negara, Indonesia tak lagi bergantung Impor

PUBLIKSATU, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pangan kini bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan instrumen strategis dalam menjaga kedaulatan dan pertahanan negara.

Di tengah ancaman krisis global, Indonesia dinilai semakin tangguh setelah berhasil meningkatkan produksi dan menekan ketergantungan impor pangan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Stadium General Pasis SeskoAU Angkatan ke-64 TP 2026 yang digelar di Gedung Widya Mandala I Sesko AU Lembang, Jawa Barat pada 1 April 2026.

“Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat,” tegas Mentan Amran.

Mentan Amran menekankan bahwa ketergantungan impor merupakan titik lemah sebuah negara, terutama dalam situasi krisis global. Ketika negara produsen menahan ekspor, negara pengimpor akan langsung terdampak.

Karena itu, pemerintah mengambil langkah strategis dengan meningkatkan produksi dalam negeri, menekan impor secara bertahap, serta memperkuat cadangan pangan nasional. Hasilnya mulai terlihat nyata.

Berdasarkan data internasional, termasuk dari United States Department of Agriculture (USDA), produksi pangan Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan.

Kementerian Pertanian (Kementan) juga mencatatkan capaian bersejarah dengan stok beras nasional mencapai 4,3 juta ton, dan ditargetkan meningkat menjadi 4,5 juta ton dalam waktu dekat. Capaian ini menegaskan posisi ketahanan pangan nasional yang semakin kuat di tengah dinamika global.

“Ini bukan hanya ekonomi, ini soal kedaulatan. Pangan adalah bagian dari sistem pertahanan negara,” ujarnya.

Keberhasilan ini membawa Indonesia keluar dari posisi sebagai negara importir menuju pemain yang mulai diperhitungkan secara global. Bahkan, kebijakan pengendalian impor Indonesia disebut mulai berdampak pada dinamika harga pangan dunia.

Sejumlah negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, hingga Kanada mulai mempelajari strategi Indonesia dalam meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas pasokan.

“Yang membedakan kita adalah keberanian mengambil keputusan dan kecepatan bertindak,” kata Amran.

Selain pangan, Mentan Amran juga menyoroti pentingnya kemandirian energi sebagai bagian dari pertahanan nasional. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar

di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.