Berita Terkini
Buton

Tim Penilai Kemensos Tinjau TKSK Lasel

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 21 September 2018 19:56 WIB · 2 menit baca
Tim Penilai Kemensos Tinjau TKSK Lasel
Tim Penilai Kemensos tinjau TKSK Lasel

PUBLIKSATU, BUTON - Dua tim penilai pilar-pilar sosial teladan tingkat nasional dari Kementerian Sosial RI meninjau langsung Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Lasalimu Selatan, Kamis 20 September 2018.

Didampingi pihak Dinas Sosial Kabupaten Buton, sekira pukul 10.30 Wita kedua tim Dede Yulia dan Deni Prasetyo Utomo sampai di Kantor Kecamatan Lasalimu Selatan. Kedatangan mereka disambut hangat. Ada pengalungan sarung Buton dan tarian oleh warga setempat di bawah pendampingan camat, Jusmina Lanjaa SH dan TKSK Lasalimu Selatan Amrun SSos.

Usai itu, sekira pukul 11.50 Wita barulah mereka bersama-sama menuju lokasi komunitas adat tertinggal yang telah ditetapkannya sejak 2005 lalu di Dusun Wapeu, Desa Lasalimu, Kecamatan Lasalimu Selatan untuk meninjau langsung kebenaran capain TKSK Kecamatan Lasalimu Selatan, Amrun dalam mendirikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nafiu yang mambuatnya masuk nominasi 20 besar dalam seleksi pilar-pilar sosial di Jakarta beberapa waktu lalu.

Usai meninjau lokasi, salah satu tim penilai Kementerian Sosial RI, Deni Prasetyo Utomo mengharapkan kerja keras Amrun dapat tertular dengan yang lainnya.

"Kebetulan saya ditugaskan dalam penilaian TKSK berprestasi ke wilayah Lasalimu Selatan. Alhamdulilah saya lihat memang kerja kerasnya luar biasa," ujarnya kepada Wartawan di lokasi peninjauan.

-

Deni menjelaskan apa yang telah dilakukan Amrun telah sesuai dengan apa yang telah dipaparkan saat mengikuti seleksi pilar-pilar sosial di Jakarta beberapa bulan lalu. Sayangnya, hasil penilaian masih dirahasiakan.

"Penilaian kita ini khusus kita yang tau. Bukan hanya ini aja nanti kita penilaian dengan warga bagaimana si Amrun ini gitu,"

Lokasi yang sama, tim lain, Dede Yulia menjelaskan relawan TKSK dihadirkan untuk membantu tugas kementerian di level kecamatan dari unsur masyarakat, bukan PNS dan non PNS.

Hanya saja, TKSK mendapat bekal pelatihan. Terpenting, kata Dede, awalnya 2009, TKSK terbentuk dari karang taruna dan pekerja sosial masyarakat aktif.

Dede menjelaskan sebagai pekerja level kecamatan, TKSK berkoordinasi dengan camat dan Dinas Sosial untuk mengerjakan program-program Kemensos.

"Dari merekalah TKSK itu diangkat. Mulai ada itu mulai tahun 2009 sampai dengan sekarang. Posisinya bekerja di level kecamatan dan selalu berkoordinasi dengan camat dan Dinas Sosial tentunya ya. Karena Dinas Sosialkan yang punya program-program dari Kemensos," ujarnya.

Lanjut Dede, selain di Kecamatan, di Kabupaten ada koordinator TKSK Kabupaten. Begitupun Provinsi.

"Hari ini mereka hadir semua," terangnya.

Dede menjelaskan, hari ini bersama Deni, mereka ditugaskan untuk mengklarifikasi apa yang Amrun paparkan dalam seleksi pilar-pilar sosial. Yakni bagaimana perjuangan Amrun membantu masyarakat memecahkan persoalan-persoalan. Tidak hanya kegiatan Kemensos. Juga mumutus mata rantai kemiskinan melalui pendirian sekolah.(Po1)