BPBD Buton Gelar Pelatihan Pemasangan Alat Panen Hujan

PUBLIKSATU, BUTON - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buton, menggelar pelatihan mitigasi struktur partisipatif pemasangan alat panen air hujan di Aula Kantor Camat Pasarwajo, Selasa (25/9).
Dalam pelatihan yang diikuti masyarakat Kecamatan Wabula dan Pasarwajo ini, BPBD Buton mendatangkan pemateri dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Aminuddin Hamza, dan Sri Wahyu Ningsih dari Komunitas Bayu Bening Yogyakarta.
Aminuddin Hamza ketika ditemui usai membawakan materi mengatakan, air hujan harus dimanfaatkan dan jangan dibiarkan terbuang sia-sia. Suatu kondisi ironis jika musim kemarau kekurangan air, sementara pada musim hujan kadang kebanjiran.
Menurutnya, beberapa wilayah Kabupaten Buton selalu dilanda kekeringan ketika musim kemarau. Atas itu, pihaknya mencoba memecahkan dan memberi solusi. Salah satunya dengan memberikan teknologi alat panen air hujan yang dapat disimpan di pemukiman warga, tempat ibadah, hingga perkebunan.
Daya tampungnya tergantung dari besarnya tandon. Bisa 1.200 sampai 3.000 liter. Tapi supaya bisa lebih banyak lagi menampung air hujan dapat diparalelkan mulai dua atau tiga tandon.
"Jadi nanti kalau turun hujan, airnya ditampung disitu. Sehingga begitu tiba kemarau warga tidak perlu jauh-jauh lagi mencari air," katanya.
Aminuddin menjelaskan, air hujan yang ditampung dapat digunakan untuk kebutuhan minum, masak, mandi dan sebagainya. Sejumlah daerah lain di Indonesia sudah cukup lama menggunakan teknologi ini. Di Buton baru sekarang.
Dalam pemasangan alat panen air hujan nanti, pihaknya berharap ada partisipasi masyarakat untuk bergotong royong. Tujuannya supaya bisa membuat sendiri dengan hanya bermodalkan tandon dan pipa.
Selain itu, Pemkab Buton juga diharapkan bisa menggerakan masyarakat agar program panen air hujan ke depan bisa menjadi gerakan komunal.
Sebelumnya diberitakan, BPBD Buton bakal menyimpan alat panen air hujan di 20 titik berbeda wilayah tujuh desa/kelurahan dalam dua kecamatan.
Selain mampu menampung air hujan dalam jumlah cukup banyak, teknologi ini juga dapat menjadi solusi krisis air bersih di musim kemarau. Utamanya di lokasi perkebunan warga, pemukiman penduduk, hingga tempat ibadah.
Bupati Buton, La Bakry, melalui Sekab Buton, LM Zilfar Djafar, dalam sambutannya mengatakan sangat mendukung program alat panen air hujan. Bagi pihaknya, ini merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah dalam mengatasi krisis air bersih di daerah pedesaan. Tentu hal ini sejalan dengan nawacita Presiden RI, Joko Widodo, dalam membangun bangsa dari pinggiran.
"Saya sangat mendukung dan menyambut gembira program alat panen air hujan ini. Mudah-mudahan bisa berjalan terus di tahun-tahun mendatang," kata LM Zilfar Djafar, dalam sosialisasi Mitigasi Struktural Partisipatif Panen Air Hujan yang digelar BPBD Buton di Aula Kantor Bupati Buton, Selasa (31/7).
Dijelaskan, program bantuan ini merupakan bagian dari penanganan bencana terutama di wilayah kering. Sehingga tujuan utamanya adalah membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Adapun tujuh desa yang beruntung mendapat bantuan alat panen air hujan yakni, Koholimombono, Wabula, Wabula 1, dan Wasuemba, Kecamatan Wabula. Kemudian, Desa Holimombo Jaya, Keluruhan Kombeli, dan Kelurahan Awainulu, Kecamatan Pasarwajo.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Butom, Syafruddin menjelaskan, selain membantu mengatasi krisis air, alat ini juga dapat digunakan untuk pengairan pertanian. Sebab, bisa berfungsi selayaknya waduk penampung air. Ketika hujan turun, alat akan menampung limpahan air melalui talang yang sudah terpasang.
Air yang tertampung, lanjutnya, akan diolah dengan sistim penyaringan halus guna menyaring berbagai kotoran yang terlarut di dalamnya sebelum digunakan. Kemudian, air hujan yang pertama kali turun bisa dikeluarkan dan digantikan dengan air hujan berikutnya.
Kabid Bencana dan Kesiapsiagaan BPBD Buton, Rizal Djalil menambahkan, pemilihan tujuh desa sebagai sasaran penyaluran bantuan alat panen air hujan karena di wilayah tersebut tidak memiliki sumber mata air yang baik. Selain itu, air yang digunakan masyarakat di sana selama ini rasanya asin.
“Kita tempatkan di sana karena air yang digunakan masyarakat terasa asin. Kemudian, di sana juga belum memiliki sumber mata air yang baik," katanya. (man)