WakatobiAIS dari Indonesia untuk Dunia (2)

BILA WakatobiAIS dioperasikan akan meningkatkan gensi perahu nelayan penggunanya meski berbobot kecil. Inilah salah satu kompatibilias transponder buatan Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi dipimpin Akmatul Ferlin tersebut.
Laporan: Irwansyah Amunu, Wakatobi
KOMPATIBILITAS WakatobiAIS, identitas kapal terpantau dari stasiun darat juga semua kapal yang ber-AIS. Bisa digunakan diseluruh dunia.
Seperti diketahui, pada malam hari kapal tidak bisa melihat kecuali ada cahaya atau senter. Kalau gelap disangka laut kosong, padahal bisa jadi ada perahu nelayan pencari ikan, sehingga bisa ditabrak kapal berbobot besar.
"Kalau ada alat ini, kapal dimonitor elektronik chart-nya, data elektronik muncul, ini diperlakukan sama dengan kapal, walaupun sampan kecil memuat satu orang. Jadi tidak akan tertabrak. Di Amerika bisa digunakan di kapal Yatch atau untuk mancing," jelas Arief Rahman ST, Perekayasa Pertama/Koordinator Laboratorium Sistem Pemantauan Kelautan (Simlan) LPTK Wakatobi.
Lazimnya karakteristik nelayan tuna Wakatobi menggunakan perahu motor atau bodi batang, kapasitas di bawah 5 gross tonnes (GT), setiap armada terdiri dari satu hingga dua orang nelayan. Daerah penangkapan tidak lebih dari zona propinsi, trip hanya satu hari (one day fishing), berangkat pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari, dan pulang sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 sore.
Rata-rata pendidikan nelayan kita rendah, tidak kuliah, maka WakatobiAIS dibuat mudah untuk nelayan, hanya memiliki tiga tombol saja. Kelebihan lainnya, ukuran kecil, tidak butuh banyak ruang di perahu nelayan kecil. Ringan, kurang dari 2 kg per unit, tidak membatasi muatan kapal.
Mudah dioperasikan semua, hanya terdiri dari tombol dan layar. Akurat, data yang dikirimkan dapat dipercaya, identitas, lokasi pergerakan, dan info lainnya. Tahan cipratan air, panas, dan kelembaban tinggi. Plus lebih murah dari harga instalasi AIS lengkap.
Saat ini WakatobiAIS belum diproduksi massal, sementara giat-giatnya pihak LPTK melakukan publikasi. "Pertama harus disadarkan ada alat seperti ini. Setelah orang sudah aware sebagai penolong manusia, kita harapkan ada produksi massal. Karena semakin banyak diproduksinya semakin ditekan harga belinya, semakin murah," harap Arief.
Disadari, lanjutnya, WakatobiAIS untuk kepentingan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selain keselamatan nelayan, juga pemantauan. Selama ini kegiatan pemantauan diwajibkan perusahaan perikanan untuk penangkapan, pasang transporder basisnya satelit, tapi harganya mahal. Dipandang tidak ada nilai tambah ekonominya, kalau WakatobiAIS pemantauannya akan inklud ketika nelayan mendapatkan manfaat.
"Kita balik paradigma, kalau dulu wajib, harus dipantau. Sekarang nelayan berlomba-lomba pasang ini untuk selamat, bonus untuk negara, terpantau," jelasnya. Apalagi secara hukum berdasarkan UU No. 17 tahun 2016, ada kewajiban pemerintah pusat atau pemerintah daerah untuk
menyiapkan perlengkapan keselamatan nelayan.
Sejauh ini sudah ada penyerahan WakatobiAIS secara simbolis dari Kepala BRSDMKP Prof. Sjarief Widjaja atas nama Menteri Kelautan dan Perikanan ke Bupati Wakatobi, H Arhawi. Sudah launching, tinggal pengurusan paten dan produksi massal.(****)