WakatobiAIS dari Indonesia untuk Dunia (3-selesai)

INSIDEN kebakaran kapal penumpang yang dialami Akmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi menginspirasi terciptanya WakatobiAIS. Apa kehebatannya?
Laporan: Irwansyah Amunu, Wakatobi
WAKATOBIAIS inovasi 100 persen dari LPTK, sudah berjalan selama dua tahunan dimulai sejak 2016. Hingga kini telah dua kali menjalani uji coba.
Menurut, Arief Rahman ST, Perekayasa Pertama/Koordinator Laboratorium Sistem Pemantauan Kelautan (Simlan) LPTK Wakatobi, tahun ini prototipenya untuk tipe dua lebih hebat dari pertama. "Kalau ini pasif, hanya bisa ngirim. kalau yang baru kita pasang display untuk bisa chatting antar alat," ujarnya seraya menunjukkan WakatobiAIS revolusi satu.
Ditanya berapa harga WakatobiAIS, diungkapkan kalau untuk risetnya, satu unit bisa menelan puluhan juta rupiah, karena membeli modulnya dari luar negeri. Namun jika diproduksi massal, bisa pesan board untuk kebutuhan kita sendiri, fitur-fitur lainnya dihilangkan lebih kecil, dan ramping. "Ini bisa kirim dan terima, ke depan kita hilangkan fungsi terimanya, hanya kirim saja," terangnya.
Sehingga ditargetkan harganya tidak jauh dengan GPS, mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta. Kepastian nominalnya tergantung produksi dan pabrikasi.
Berapa lama WakatobiAIS bertahan dioperasikan?
Bisa sampai dua hari, bahkan dalam risetnya sampai tiga hari, tergantung transmit-nya. Semakin sering transmit, semakin cepat habis baterainya. Menggunakan tiga baterai, cara melakukan charger seperti baterai senter, setengah jam satu baterai penuh.
WakatobiAIS belum ada di Indonesia, bahkan di dunia belum ada yang mengkhususkan untuk perikanan. Selama ini di dunia bikin peralatan semacam ini untuk peralatan darurat. "Tidak bisa tracking, hanya bisa kirim SOS saja, kita lebih lengkap. Mudah-mudahan bisa produksi massal secepatnya supaya bisa dimanfaatkan nelayan tradisional," harapnya.
LPTK Wakatobi sudah mempunyai infrastruktur darat, fasilitas WakatobiAIS untuk menutupi kekurangan dalam memantau kapal kecil. Namun bukan berarti WakatobiAIS hanya bagi kapal kecil, tapi kapal besar pun bisa.
Diakui, kapal rute Baubau-Wanci, Baubau-Kendari, dan trayek lain dalam sehari rata-rata 30 kapal. Padahal volumenya bisa lebih dari tiga kali lipat bila ditambah dengan kapal tuna. Diprediksi satu kelurahan mempunyai di atas 10 perahu. Sayangnya banyak yang belum memiliki AIS.
Wakatobi sebagai daerah bercorak kepulauan, yang hanya memiliki tiga persen wilyah darat, transportasi laut menjadi urat nadi. Ketidakpastian di laut imbasnya bisa berdampak pada pariwisata. Pelancong tak berani kalau jalan-jalan hilang, ditemukan setelah dua hari, apalagi saat musim arus dan gelombang ganas.
Mengambil sampel di Wakatobi karena memiliki radar, kemudian ada taman nasional perairannya dilintasi tidak boleh sembarang masuk dan beraktivitas merusak. Maka itu, WakatobiAIS salah satu jawaban.(****)