Dari Dekat Workshop Peningkatan Kapasitas Usaha Pokdarwis
Bagikan

BAUBAU adalah daerah yang kaya potensi pariwisata. Bagaimana mengelolanya agar lebih produktif dan ekonomis? Secara ringkas diulas dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Usaha Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang digelar Dinas Pariwisata Sultra di Baubau, Senin (11/11).
Laporan: Irwansyah Amunu, Baubau
KETUA Asbakin (Asosiasi Bapak Angkat Indonesia) Sultra, Hernawati memperkenalkan konsep Comunnity Base Tourism (CBT) kepada puluhan Pokdarwis di aula salah satu hotel di Baubau, Senin (11/11).
Dijelaskan, konsep CBT, dari, oleh, dan untuk masyarakat. Hal tersebut dapat memberikan optimalisasi nilai tambah potensi pariwisata.
"Masyarakat yang kelola, yang jaga," katanya. Sebab jika dibangun Pemda, biasanya masyarakat masa bodoh.
Lantas dia menjelaskan salah satu desa yang pernah dikembangkannya di Yogyakarta. Diawali diskusi dengan salah seorang legislator yang berasal dari Dapil desa tersebut.
Saat itu, desa tersebut masyarakatnya mengais rezeki ke negeri jiran menjadi TKI. Memang secara geografis, desanya tandus, dan krisis air.
Hasil diskusinya, dibuat embung. Hasilnya, embung tersebut menjadi objek destinasi pariwisata favorit. Kini dalam sehari pengunjungnya dibatasi 1500 orang. Menariknya, dua tahun dikelola, ketua Karang Taruna desa tersebut sudah bisa beli mobil.
"Hari ini dibatasi tamu, mereka tidak ingin daerahnya rusak. Sekarang dalam setahun wisatawan antri. Saya masuk disitu, antri tiga bulan ketika hendak berkunjung bersama rombongan. Padahal saya yang mengembangkan desa wisata itu," ulasnya.
Saat ini, Hernawati mangaku sedang mengembangkan desa wisata di Kolaka. Dalam setahun diproyeksikan bisa meraup belasan miliar rupiah.
Hal tersebut, menurutnya bukan mustahil juga dilakukan di Baubau, Buton, Buton Selatan (Busel), dan Buton Tengah (Buteng). Sebab potensinya tidak kalah dengan desa binaannya di Kolaka.
Sebelumnya, Kadis Pariwisata Kota Baubau, Ali Arham mengapresiasi positif Workshop Peningkatan Kapasitas Usaha Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang digelar Dispar Sultra.
Diakui, iven serupa pernah dilakukan pada 2004. Sudah berlangsung 14 tahun silam. Diharapkan iven ini bisa terus berlangsung.
"Harapan kita pengembangan kepariwisataan bisa berkembang dengan baik. Sehingga kita bisa bersatu, tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kerjasama dengan Buton, Buton Selatan, dan Buton Tengah," ujarnya saat membuka acara.
Hikmah kegiatan ini, kata dia, bisa memanajemen Pokdarwis. "Ini embrio Pokdarwis, diharapkan setiap desa atau kelurahan membentuk Pokdarwis. Nantinya pemerintah hanya memfasilitasi," katanya.
Diakui, Baubau secara periodik terdapat kunjungan kapal pesiar. Diharapkan momentum tersebut kita bisa mempromosikan potensi pariwisata. "Untuk itu Pemkot Baubau sudah menyiapkan sejumlah iven pariwisata," aku Ali Arham.
Memang menjelang iven Festival Keraton Masyarakat Asean (FKMA) 2019, Dispar Sultra menggelar workshop peningkatan kapasitas usaha Pokdarwis).
Herawati Muchlisi, Ketua Panitia menjelaskan program hibah jalan daerah (PHJD) tahun 2019 antara lain melibatkan pihak Perhubungan, PU, dan Pariwisata. "Kita di Pariwisata meningkatkan kapasitas pelaku usaha," ujarnya.
Diharapkan Pokdarwis bisa melihat potensi produk yang bisa dikembangkan berbasis budaya lokal. Wujudnya dalam bentuk ekonomi kreatif (Ekraf), implementasinya, kriya dan kuliner.
"Baubau sudah bagus, sudah kuat. Melalui iven ini kita harapkan Pokdarwis bisa berperan dalam FKMA nanti. Wisatawan tidak lagi bawa rantang ke lokasi wisata, tapi sudah siap ada titik yang bisa dikunjungi dijalankan Pokdarwis," bebernya.
Maka itu, dua pembicara dihadirkan dalam acara yakni, Hernawati, Ketua Asbakin (Asosiasi Bapak Angkat Indonesia) Sultra, dan Andaria Lantang, praktisi pariwisata, dan konsultan travel di Sultra.
Herawati menjelaskan program ini berjalan selama tiga tahun. Tahun ini meliputi Kota Baubau, Kabupaten Muna, dan Kolaka.
"Nah, untuk workshop hari ini pesertanya bukan hanya dari Baubau, tapi juga dari Buton, Buton Tengah (Buteng), dan Buton Selatan (Busel)," kuncinya. (***)