Ditemui Sosok Pria Dalam Mimpi, Nenek Waa'i Pilih Hidup Sebatangkara di Dalam Hutan dan Tak Menikah

JIKA kebanyakan orang memilih tinggal di pemukiman yang cukup ramai karena ingin hidup bertetangga serta dekat dengan keluarga, berbeda dengan Waa'i. Nenek berusia 75 tahun itu malah memutuskan untuk tinggal sebatang kara di hutan.
Laporan: Saniun--- Buton Pos
DI dalam rumah kebun yang berukuran 2 x 4 meter, nenek Waa'i hidup seorang diri. Rumah yang dikelilingi pohon bambu, sebagian besar dibangun dari papan serta beratapkan seng. Jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga, diperkirakan sekitar satu kilometer.
Menurut penuturannya, ia sampai memutuskan untuk tinggal seorang diri di hutan, bermula dari mimpi yang mempertemukannya dengan sesosok pria. Dalam mimpi itu, sosok pria yang ia temui menyuruhnya untuk menjauh dari keluarga dan tinggal di hutan bahkan sampai melarangnya untuk menikah. Dan, seluruh perintah yang ia peroleh dalam mimpi tersebut dipatuhi oleh nenek perawan itu. Alhasil, di usianya yang telah menyentuh angka 75 tahun saat ini, nenek Waa'i masih tetap berkomitmen dengan perintah untuk tidak mengakhiri masa lajangnya.
“Awalnya saya lihat dalam mimpi bahwa saya harus tinggal di sini (hutan). Dan saya dilarang menikah oleh lelaki tua dalam mimpi saya. Sehingga sampai saat ini saya belum menikah,” ungkap Waa’i saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.
Di masa mudanya, Waa'i menghabiskan hidupnya dengan bersawah. Orang tuanya memiliki lahan yang cukup luas di sekitaran Kelurahan Kaisabu Baru Kecamatan Sorawolio. Dari aktivitasnya bersawah ini, kemudian Waa'i mendapatkan insiden kehilangan penglihatan lantaran terkena racun hama pada saat menyemprot padi sekitar sepuluh tahun lalu.
Setelah kedua belah matanya tidak bisa melihat, memaksa nenek Waa'i berhenti bersawah dan memutuskan untuk menetap di rumahnya yang berada di hutan.
Banyak hiruk pikuk yang dirasakan nenek Waa’i dalam kesendiriannya di tengah hutan. Salah satunya, pernah dililit ular berbisa di malam hari. Untungnya, nenek Waa’i dengan keterbatasan penglihatan masih dapat menyelamatkan diri dengan cara memotong ular tersebut menggunakan pisau dapur yang ia miliki.
Meski kondisi matanya sudah tidak bisa melihat, namun nenek Waa'i masih bisa melakukan aktivitas seperti memasak, memberi makan ternak. Kebetulan ia ada ayam beberapa ekor. Sementara untuk beraktivitas di luar rumah, nenek Waa'i mengandalkan tali sebagai penuntun jalan yang sengaja dibentangkan pada batang-batang pohon jambu. Sehingga dalam melakukan aktivitasnya bisa sedikit terbantu.
"Kalau mau mandi atau ambil air di kali, saya berpegangan di tali. Kebetulan ada bentangan tali yang menuntun untuk ke kali. Itu dibuat sama ponakan," terangnya.
Buta dan puluhan tahun tinggal sendiri di dalam hutan, membuat nenek Waa’i mengharapkan uluran tangan warga setempat untuk makan setiap harinya.
“Saya sering dibawakan makanan sama keluarga, kadang juga tetangga. Kalau saya tidak dibantu saya mau makan apa. Sedangkan beraktivitas saja saya sudah dibantu pakai tali sebagai penuntun,” ujarnya.
Meski memiliki keterbatasan, banyak warga dari berbagai penjuru mendatangi dan mempercayai bahwa nenek Waa’i merupakan “orang pintar” dan bisa mengobati orang sakit.
“Walaupun makanan sering dibawakan oleh warga tetapi saya juga punya uang. Uang itu pemberian dari orang yang datang berobat. Tadi pagi juga ada yang datang sebelum kalian,” pungkasnya.
Nenek Waa’i bersikeras menolak jika nantinya ada orang atau siapapun yang ingin mengobati matanya. Karena menurut pengakuannya, ia dilarang sama sosok pria yang ia pernah temui dalam mimpi untuk mengobati matanya yang saat ini sudah tidak bisa melihat.
"Tidak bisa. Saya tidak mau kalau dioperasi. Saya dilarang sama lelaki yang ada dalam mimpi," akunya.
Salah seorang pegawai Kelurahan Kaisabu mengaku, setiap ada bantuan dari Dinas Sosial Baubau yang disalurkan melalui kelurahan, nenek Waa’i selalu mendapat bantuan tersebut.
“Setiap ada bantuan pasti dikasih. Kalau bukan dari Dinsos, dari Baznas,” tandasnya. (***)