Berita Terkini
Busel

Pemkab Sikapi Polemik Tapal Batas Siompu dan Siobar

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 10 September 2018 16:51 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Pemkab Sikapi Polemik Tapal Batas Siompu dan Siobar
Masyarakat Siompu dan Siompu Barat bersitegang terkat tapal batas wilayah kecamatan

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Suasana pasca bersitegang dua kelompok masyarakat Kecamatan Siompu dan Siompu Barat, Sabtu (8/9) lalu, terkait polemik perbatasan kini mulai berangsur kondusif. Pemkab berjanji akan mencari solusi terkait polemik perbatasan itu.

Insiden bersitegang dua kelompok masyarakat dua kecamatan di pulau penghasil jeruk itu terkait perbatasan yang tak kunjung ada titik temu. Padahal, masyarakat di dua kecamatan ini masih dalam satu rumpun.

"Sudah kondusif, sudah ada pertemuan dua belah pihak kecamatan yang difasilitasi Pemkab Busel yang dihadiri Plt Bupati Busel, Kapolres Buton, DPRD Waket Pomili Womal, tokoh masyarakat dan sejumlah Kades," kata Kades Kamoali, Kecamatan Siompu Barat, Musliadi, kepada media ini.

Menurutnya, polemik perbatasan itu terjadi karena kesalahpahaman. Masyarakat dua kecamatan belum menemui titik temu terkait perbatasan antara dua kecamatan serumpun itu.

Dalam pertemuan itu kata dia, melahirkan beberapa solusi, diantaranya terkait polemik perbatasan dua kecamatan itu akan dicairkan solusi. Dua tokoh masyarakat, tokoh adat dua kecamatan yang mengetahui riwayat sejarah akan menggelar pertemuan untuk dicocokkan data fakta historis dan klaim antara dua pihak yang berpolemik.

Dalam pertemuan tadi juga, disepakati akan membentuk paguyuban antara dua kecamatan Siompu dan Siompu Barat. Sehingga hal-hal yang harus dibahas terkait Siompu Barat dan Siompu agar selalu didudukan bersama dalam paguyuban.

Kades dua periode ini mengaku, insiden bersitegang di perbatasan itu sudah clear. Tidak ada persoalan lagi. Sudah kondusif. Lebih mengedepankan rasa persaudaraan dan persatuan. Pihaknya mengedepankan rasa persatuan persaudaraan kedamaian dan keamanan keluarga besar dua kecamatan tersebut. Sehingga pihaknya berbesar hati untuk memaafkan dan berjiwa besar.

"Iya memang ada insiden, saya mungkin hadir di saat waktu yang tidak tepat. Meskipun saya berniat baik untuk agar bagaimana kita daerah ini aman-aman saja, ternyata sampai di TKP sudah ribut dan bersitegang," katanya ketika dikonfirmasi media ini.

Musliadi memastikan, dalam forum pertemuan yang dihadiri Plt bupati dan Kapolres dan seluruh warga dan Kades, ia juga mengutarakan permohonan maaf setulus-tulusnya kepada keluarga besar Kecamatan Siompu tak resah atas insiden Sabtu (8/9) lalu. "Saya pun dengan ikhlas hati tidak akan melakukan penuntut secara hukum atas insiden diperbatasan tersebut," katanya. "Saya anggap persoalan itu sudah clear," ujarnya.

Terkait polemik perbatasan kata dia, Pemkab Busel sudah menyatakan menyikapi polemik itu untuk dicarikan solusi terbaik.

Menurutnya, saat mekarnya Kecamatan Siompu Barat dari Kecamatan Siompu, harusnya sudah ditetapkan dengan peraturan dan penentuan titik tegas tapal batas. Artinya, meskipun dalam bentuk patok-patok tidak permanen. Sehingga tidak terjadi polemik atau pergeseran tapal batas dua kecamatan tersebut.

Polemik tersebut sudah mencuat sejak beberapa tahun belakangan ini. Polemik perbatasan titik tegas tapal batas dua kecamatan ini mestinya sudah disikapi Pemkab Busel secara akurat, cepat dan tepat.

Ia juga mengaku, imbas atas insiden perbatasan dua kecamatan itu terjadi pengrusakan perahu nelayan milik warga Desa Biwinapada dan Nggula-Nggula, sekitar 69 perahu. Hal ini sangat disayangkan terjadi.

"Alhamdulillah, Pemda Busel dalam forum itu sudah turun tangan mengantispasi itu dengan menjanjikan mengganti perahu yang rusak demi nasib para nelayan ke depan," tukasnya. (aga)

Bagikan