Berita Terkini
Baubau

Begini Cerita Ike Mahasiswi UMB Asal Sulteng, Tentang Kondisi Palu

Oleh Redaksi Publiksatu / Heri · Rabu, 3 Oktober 2018 19:50 WIB · 3 menit baca
Begini Cerita Ike Mahasiswi UMB Asal Sulteng, Tentang Kondisi Palu
Ike Afriani

PUBLIKSATU, BAUBAU - Ike Afriani (21) gadis asal Morowali Utara Kolonodale Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang sudah tiga tahun menjadi mahasiswi pada FKIP Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Buton ini, hingga saat ini belum mengetahui kabar 10 temannya yang menjadi korban gempa dan tsunami, yang mengguncang Donggala dan Palu, Jumat (28/9/2018) lalu.

"Ya, ada yang belum didapat, ada sekitar sepuluh teman se-kelasku yang belum ditemukan," kata Ike Afriani, saat di temui jurnalis publiksatu.co, di pelataran Kotamara, (1/10/2018).

Ike Afriani menceritakan, baru satu temannya bernama Rian yang selamat dari gempa dan tsunami. Pada saat gempa dan tsunami Rian berada di kampus dekat jembatan kuning yang kini ambruk.

"Dari teman saya yang tadi baru-baru menelpon, Rian dan dia Alhamdulillah selamat, saat kejadian Rian sedang berada di kampus di daerah jembatan kuning yang sekarang sudah putus akibat gempa," tuturnya.

Ike mengatakan, dari Rian pihaknya mendapatkan informasi kondisi di Palu dan sekitarnya, sekarang sangat memprihatinkan.

Dari Rian pula, lanjut Ika, ia mendapatkan informasi bahwa terdapat satu kampung tenggelam, akibat gempa dan tsunami.

"Ada satu kelurahan yang hilang namanya Desa Sigi, itu sangat luas tetapi dia sudah tenggelam," kata Ike.

Ike juga menceritakan, ada pun kondisi Pantai Talise saat ini sudah seperti kota mati. Sementara terkait kondisi keluarganya di Sulteng, ada beberapa keluarga Ike yang menjadi korban gempa. Karena keterbatasan alat transportasi, jenazah keluarganya tersebut tidak dapat diantar ke rumah duka.

"Keluarga-keluarga dari kampung saya yang di Morowali Utara ada beberapa yang sudah meninggal. Cuma di infokan agar datang jenazahnya di rumah sakit Bhayangkara yang ada di Palu," jelas Ike.

Yang lebih parah, kata Ike, di Palu orang yang membawa bantuan dijarah di tengah jalan, sehingga menghambat penyaluran bantuan kepada korban.

Ia melanjutkan bahwa salah satu temannya hari ini belum makan, kabar tersebut diperoleh langsung dari temannya saat menghubunginya. Makanan yang ada yakni hanyalah stok makan yang tidak terbawa tsunami dan saat ini sudah mulai habis.

"Tadi ada teman saya yang menelpon mengatakan belum makan sampai sekarang," tambahnya

Gadis yang kos di lorong Nasional ini menambahkan, pihaknya baru dapat berkomunikasi dengan orangtua pada Minggu pagi. Sebelumnya ia tidak dapat berkomunikasi langsung dengan orangtuanya yang berada di Kolonodale, Morowali Utara.

"Pada saat kejadian jaringan komunikasi putus total. Sehingga kita yang berada diluar daerah khawatir, karena tidak bisa mendapatkan kabar dari sana. Komunikasi kemarin (Minggu) sekitar jam 7, jam 8, tapi cuma jaringan internet, nanti agak siang tadi baru bagus bisa menelepon," kata Ike.

Dari informasi orangtuanya bahwa pada saat gempa terjadi getarannya sangat keras terasa hingga Kolonodale.

"Morowali cuma hanya gempa saja tapi gempanya agak besar juga, tapi Alhamdulillah tidak kenapa-kenapa," jelasnya.

Ia pun menjelaskan kondisi kakaknya berada di Palu yang dalam kondisi selamat.

"Dia di Lagarutu, dan sudah dijemput dari Pemdanya masing-masing.

Dan belum dapat kabar terbaru keadaan kakak kandungku saat ini," ujarnya. (mo2)