Mahasiswa Sultra Rentan Masuk Jaringan Radikalisme, RESYS Beri Penguatan

PUBLIKSATU, BUTON - Research and Empoverment Institute (RESYS) bersama Pemerintah Kabupaten Buton dan Kodim 1413 Buton menggelar seminar pendahuluan kegiatan penguatan peran dan fungsi Intelijen daerah di Aula kantor Bupati Buton, Senin (8/10/18).
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penguatan peran dan fungsi kedudukan Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) kabupaten/kota dalam hal koordinasi Intelejen Negara untuk menangkal paham radikalisme di Kabupaten Buton.
Giat ini juga bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bentuk koordinasi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi Kominda Kabupaten/Kota berdasarkan Permendagri No 16 Tahun 2011 dengan Kominda Provinsi berdasarkan Perpres No 67 Tahun 2013.
Serta, untuk mengetahui dan menganalisis kendala yang terjadi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pada kegiatan Inteljen dalam hal koordinasi Intelijen Negara di daerah dalam mengkal paham radikal di Kabupaten Buton.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber handal diantaranya Dosen UHO, Marsi Sumule, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Buton, La Ode Rahman mewakili Bupati Buton, La Bakry dan Pabung Buton, Mayor Inf, Gidion Skoda mewakili Dandim 1413 Buton, Letkol Inf Davy Darma Putra.
Dalam kesempatan ini, Marsi Sumule G mewakili Direktur Research and Empoverment Institute (RESYS), Sirajuddin menjelaskan berdasarkan hasil survei Badan Nasional penanggulangan terorisme (BNPT) 2017 menyebutkan, 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi terindikasi tertarik paham radikal.
"Satu diantaranya Sulawesi Tenggara," kata Marsi Sumule G.
Marsi menjelaskan ciri-ciri yang dapat dikenali dari sikap dan paham radikal kepada seseorang diantaranya intoleran atau tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, fanatik dalam hal ini selalu merasa benar sendiri dan mengangkab orang lain salah serta Eksklusif dan revolusioner atau cenderung menggunakan cara kekerasan untuk mencapai tujuan.
Menurut Marsi, ada beberapa faktor yang memotivasi seseorang bergabung dalam jaringan radikalisme dan terorisme diantaranya faktor domestik yakini kondisi dalam negeri yang semisal kemiskinan, ketidakadilan atau merasa kecewa dengan pemerintah.
Faktor internasional, yakni pengaruh lingkungan luar negeri yang memberikan daya dorong tumbuhnya sentimen keagamaan seperti ketidak adilan global, politik luar negeri yang arogan dan imperialisme moderen negera adidaya dan faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit dan leksikal.
Ditempat yang sama, Pabung Buton, Mayor Inf, Gidion Skoda, dalam kesempatan ini hanya mejelaskan secara umum tentang paham radikalisme.
Menurutnya, potensi radikalisme di wilayah Sulawesi disebabkan konflik komunitas, bentrok antara kelompok masyarakat, paham idiologi lain, unjuk rasa anarkis, konflik politik, aktifitas geng motor dan terorisme.
Gidion menjelaskan hal ini dipengaruhi persaingan kepentingan, pendidikan formal dan informal, rasa tidak puas, tayangan kekerasan di media publik dan kesenjangan sosial. (Mo1)