Berita Terkini
Muna

November, Perumahan Transmigrasi di Kecamatan Tiworo Tengah Dihuni

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 20 Oktober 2018 13:31 WIB · 2 menit baca
November, Perumahan Transmigrasi di Kecamatan Tiworo Tengah Dihuni
Pakrun

PUBLIKSATU, MUNA BARAT - Warga transmigrasi di Kabupaten Muna Barat (Mubar) bakal bertambah lagi. November mendatang, 10 kepala keluarga (KK) asal Jawa akan memasuki kawasan perumahan transmigrasi yang terletak di Desa Lakabu dan Momuntu, Kecamatan Tiworo Tengah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Mubar, Pakrun mengatakan, sejumlah fasilitas di lokasi pemukiman sudah disiapkan sebelum para warga asal pulau Jawa itu tiba. Fasilitas yang sudah disediakan itu, masjid, puskemas pembantu, balai desa, rumah petugas, gedung SD dan rumah penduduk.

"Perumahan kita sudah bangunkan dan siap untuk ditempati. Sejauh ini fisilitas yang dibutuhkan itu tidak ada masalah. Makanya sudah diagendakan untuk penempatan. Tinggal menunggu orangnya yang akan tiba pada November nanti," ungkapnya.

Kata dia, yang akan menempati kawasan transmigrasi itu berjumlah 25 KK. Sebanyak 10 KK dari Jawa Barat dan Jawa Timur, sementara 15 KK penduduk asli Mubar. Masing-masing KK menghuni 1 rumah yang sudah dibangun sejak tahun lalu.

"Rencananya, warga asal Jawa Barat dan Jawa Timur ini tiba di Kendari sekitar 31 Oktober. Jadi kemungkinan memasuki awal November, sudah masuk di wilayah transmigrasi," katanya.

Selain disiapkan fasilitas umum dan perumahan, dalam kurun 1 tahun penempatan, para warga transmigrasi akan diberi dijaminan hidup (Jadup), sebagai pemenuhan kebutuhan awal mereka. "Ada Jadup selama 1 tahun. Jadi warga tinggal masuk saja,"tuturnya.

Bentuk pola hidup mereka nanti, pola hidup nelayan. Jadi sumber kehidupan ada di laut. Apakah itu nelayan tangkap ikan atau nelayan budidaya laut lain. Jadi lahan 1 ada di laut. Tidak disiapkan lahan untuk bercocok tanam.

“Kalau untuk lahan, kita hanya siapkan untuk pekarangan stengah hektar. Mereka tidak diberikan lahan bercocok tanam sebagai petani. Karena pola kehidupan nelayan. Jadi mereka tidak bergerak pada pertanian atau perkebunan, tetapi nelayan atau budidaya laut lainnya,” pangkasnya. (p5)