Berita Terkini
Buton

Perusakan Inventaris Polri, Kapolda Sultra : Tausiah Lebih Hikmat Ketimbang Joget

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Senin, 22 Oktober 2018 16:18 WIB · 2 menit baca
Perusakan Inventaris Polri, Kapolda Sultra : Tausiah Lebih Hikmat Ketimbang Joget
Kapolda Sultra, Brigjenpol Iryanto bersama Kapolres Buton, AKBP Andi Herman di Desa Lawele

PUBLIKSATU, BUTON - Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, Brigjenpol Iryanto menuturkan peristiwa pembakaran Inventaris Polri di Desa Lawele, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton merupakan tindakan yang sangat memalukan. Sebab ia yakin masyarakat setempat tidak mau jika pesta tahunan itu dicederai dengan peristiwa tersebut.

Diketahui, peristiwa itu disebabkan karena sekelompok warga diduga dalam pengaruh alkohol. Mereka tidak mau menerima acara adat tahunan itu tidak mendapatkan izin hiburan malam, joget oleh aparat kepolisian.

"Namun di tengah-tengah pesta adat ada kejadian yang semua kita tidak inginkan saya yakin masyarakat Lawele tidak menghendaki pesta adat yang kita junjung bersama dicederai oleh peristiwa-peristiwa yang sangat-sangat memalukan," ujar Brigjenpol Iryanto saat melakukan pertemuan bersama masyarakat di Baruga Desa Lawele, Minggu 21/10/18

Dari itu, Iryanto mengharapkan peristiwa-peristiwa seperti itu tidak terulang lagi. Apalagi kata dia, negara Indonesia sangat menjunjung tinggi kearifal lokal dan adat istiadat setiap etnis. Dan budaya merupakan harta kekayaan bangsa.

"Untuk itu kami harapkan untuk kedepan jangan sampai terjadi lagi," sambungnya.

"Saat ini Negera kita, bangsa kita sangat menjunjung tinggi kearifan lokal. Adat istiadat dari setiap masyarakat. Setiap etnis yang ada di Indonesia. Harus kita junjung. Karena itu merupakan harta kekayaan kita. Budaya kita yang tidak akan luntur. Hilang begitu saja," ujarnya.

Kendati demikian, menurut Iryanto tidak semua budaya perlu dikembangkan.

"Harus kita hindari budaya-budaya yang tidak sesuai yang tidak cocok dengan akar masalah budaya kita. Bahwa bentuk rasa syukur seperti yang baru saja kita laksanakan oleh masyarakat Lawele itu ada disetiap etnis suku di Indonesia," katabta.

Berbekal pengalaman peristiwa ini, Iryanto berharap kedepannya kegiatan rasa syukur disetiap daerah perlu ditingkatkan. Sehingga perlu ada perbaikan-perbaikan.

Misalnya rangkaian adat kiranya dilaksanakan siang hari dan malam dilanjutkan dengan tausiah sebagai ungkapan rasa syukur masyakarat terhadap Tuhan yang Maha Esa.

"Untuk itu kedepan saya harapkan bahwa kegiatan bersyukur seperti yang barusan di Desa Lawele ini perlu untuk kita teruskan. Hanya saja perlu diatur kembali. Mungkin pelaksanaannya siang hari. Malam hari kita gunakan untuk tausiah bersyukur kepada Allah SWT. Tuhan yang maha kuasa," tukasnya.

"Itu akan lebih nikmat. Akan lebih bersahaja. Saya yakin para tokoh agama. Tokoh adat lebih-lebih akan meng amini. Akan setujuh silahkan nanti tahun depan kita adakan kembali kita atur ulang," sambung Iryanto. (Mo1)