Berita Terkini
Busel

Pesta Adat Ma'acia Burangasi Resmi Dibuka

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 22 Oktober 2018 13:58 WIB · 4 menit baca
Pesta Adat Ma'acia Burangasi Resmi Dibuka
PUKUL GONG: Plt Bupati Busel, H La Ode Arusani membuka pesta adat Ma'acia Burangasi

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Pesta adat Ma'acia tahun 2018 di Desa Burangasi, Kecamatan Lapandewa resmi dibuka Plt Bupati Busel, H La Ode Arusani, pada Sabtu (20/10) malam. Prosesi adat di Baruga Burangasi ini puncaknya pada 28 Oktober mendatang.

Sebelum acara puncak, pesta adat ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seni, budaya dan olahraga yang mulai digelar sejak dibuka hingga 27 Oktober mendatang.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pesta Adat Ma'acia Burangasi, La Rudi mengatakan, kegiatan pesta adat ini akan dimeriahkan berbagai kegiatan seni, olahraga dan budaya. Pada siang hari acara olahraga. Sedangkan pada malam harinya dimeriahkan kegiatan seni dan budaya.

Kata dia, lomba seni, budaya dan olahraga ini digelar untuk memperkuat persatuan dan kesatuan etnis Burangasi khususnya dan umumnya seluruh warga Busel. "Acara puncaknya tanggal 28 Oktober, Ma'acia di Baruga. Jadi seluruh etnis Burangasi diberbagai kecamatan, kabupaten yang tersebar di Buton, Baubau, Busel akan pulang kampung," katanya diamini unsur panitia, Zarmin.

Pesta adat Ma'acia, salah satu momen untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama warga. Pesta adat ini juga untuk menguatkan dan memperkenalkan budaya lokal Burangasi kepada generasi muda sehingga memahami budaya leluhur.

"Puncak lomba tanggal 27, penutupan lomba. Tanggal 28 acara puncak adat Ma'acia di Baruga. Kegiatan ini tiap tahun digelar," katanya.

Uniknya kata dia, etnis Burangasi ini meskipun sudah tersebar di beberapa daerah seperti Kabupaten Buton, maupun di luar pulau Buton, namun baruganya tetap satu di Burangasi.

"Baruganya cuman satu. Dari seluruh etnis Burangasi dimana saja, menyebar di beberapa desa di seperti di Kabupaten Buton, tapi Baruganya kita satu," jelasnya.

Pesta adat Ma'Acia ini sudah digelar puluhan tahun, sejak adanya kampung Burangasi. Tujuannya adalah, dalam pesta adat ini untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan, mewujudkan bentuk rasa bersukur kepada tuhan yang maha kuasa.

"Artinya, sudah berjalan satu tahun itu diberi kesehatan, diberi rizki, diberkahi keturunan dari Burangasi yang pergi mencari di luar daerah diberi rizki yang berkah, kesehatan. Ini sebagai bentuk rasa syukur kami," jelasnya.

Bentuk rasa syukur itu ditandai dengan pesta adat ini dengan makan bersama. Namun lebih dari itu, makna kesyukuran itu harus lebih taat kepada yang maha kuasa.

Dalam bahasa setempat, Ma'Acia berarti acara makan. Arti meluasnya, nilainya membagi hasil panen, nilai mensyukuri rizki tuhan yang maha esa. Untuk masuk musim tanam di tahun berikutnya, karena masuk musim hujan mereka berdoa, mensyukuri masa panen tahun ini.

Ia berharap, meskipun perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju, namun adat budaya Ma'acia ini akan tetap dipertahankan masyarakat Burangasi. Karena itu, seluruh kegiatan budaya, seni dipekenalkan sejak dini kepada generasi muda Burangasi.

"Insya Allah acara budaya ini tidak hilang. Ke depan kita akan terus kembangkan, termaksud situs-situs budaya akan terus diperkenalkan," ucapnya.

Rudi juga berharap, pesta adat ini bisa menjadi aset potensi budaya dan pariwisata. Lebih dari itu, sebenarnya generasi lebih mengenal kearifan lokal nenek moyang mereka, tentang cara hidup dan bermasyarakat. Karena nilai-nilai kearifan lokal itu mulai hilang.

Artinya, ritual itu bisa saja masih ada, tapi nilai-nilainya mulai tergerus perkembangan zaman. Inilah yang akan dikemas dalam kegiatan-kegiatan adat serta nilai-nilainya dapat dipahami generasi muda. Sehingga tetap dipertahankan sampai kapan pun.

"Bukan sekedar tarian sebenarnya, dan bukan sekedar upacara, tapi lebih pada pengenalan kearifan lokal, nilai kesukuran, tolong menolong, tenggang rasa dan gotong royong," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar generasi lebih mengenal budaya dan adat istiadat. Generasi itu menjadi generasi berkualitas unggul dalam pikiran, potensi ilmu pengetahuan, tapi ahlak juga dan kepribadianya tetap terjaga dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Lomba yang dimeriahkan diantaranya seni yakni Mangaru, Pangibi, Badenda, Cungka, Vokal Grup, Karaoke. Sedangkan bidang olahraga, voli ball, takraw, tenis meja, renang, dayung, ngkase-ase, tarik tambang, gasing dan lomba keagamaan diantaranya tilawah, hafalan ayat Alquran, wudhu, azan dan salat berjamaah tingkat SD.

Plt Bupati Busel, H La Ode Arusani mewacanakan akan menggelorakan seni dan budaya lokal yang ada di tiap desa di Busel. Sebab, budaya dapat menyatukan masyarakat dan mempererat tali silaturahmi antara sesama warga.

"Mungkin ada warga kita yang ada di luar sana, misalnya di Kadatua atau Siompu bisa pulang berkumpul di Burangasi. Karena itu, ke depan kita harus hidupkan acara seni dan budaya di tiap kecamatan. Tiap kecamatan harus menentukan hari ulang tahunnya, kemudian kita akan rayakan secara bersama-sama," katanya.

Artinya kata dia, ini akan dapat memperkuat tali silaturahmi, persatuan dan kesatuan warga dengan terus bersama-sama. Sisi lain ini juga salah satu wujud mendorong nilai-nilai kearifan lokal Busel.

Lanjut dia, Pemkab Busel mendorong pertumbuhan perekonomian saat acara nantinya. Karena wisatawan lokal akan berkunjung, keluarga perantau akan pulang. Roda perekonomian akan berputar.

"Kita akan suguhkan dengan masakan kuliner lokal yang ada di daerah kita, bukan masakan dari daerah lain. Warung-warung ina-ina kita akan laku," katanya. (aga)