Lawan Racun Demokrasi, Mendagri : Lebih Baik Adu Program dan Gagasan

PUBLIKSATU, MANADO – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengajak semua elemen untuk bersama-sama melawan yang namanya racun demokrasi. Mengingat pesta demokrasi Pemilu 2019 akan dilaksanakan.
Menurutya, lebih baik para kontestan Pemilu baik Pilpres maupun Pileg saling beradu program dari pada harus menebar kampanye-kampanye hitam.
Racun demokrasi yang dimaksud Tjahjo ialah politik uang, kampanye-kampanye yang berisi fitnah, hasutan, menghina, berujar kebencian, provokasi hingga SARA. Olehnya itu, dalam pesta demokrasi nantinya masyarakat sebelum memilih perlu mengetahui rekam track record orang yang akan dipilih. Baik itu calon anggota DPRD, DPR RI, Wali Kota, Bupati, Gubernur hingga presiden dan wakil presiden.
“Lebih baik adu program, adu konsep, gagasan, melihat track record, baik itu calon anggota DPRD, DPR, wali kota, bupati, gubernur hingga Capres, cawapres. Supaya dalam konteks membangun bangsa ke depan kita harus siap mampu menjabarkan sila-sila dalam Pancasila, komit dengan UU 1945, menjaga NKRI, menjaga kemajemukan bangsa. Itu intinya,” kata Tjahjo saat menghadiri acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental (PKN-REVMEN) Tahun 2018 di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (26/10).
Selain itu, dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) juga harus dibangun dari dalam diri masing-masing individu. Misalnya, sebagai warga negara harus mengikuti dasar negaranya. Begitu juga sebagai manusia yang memiliki keyakinan masing-masing. “Peningkatan sumber daya manusia dimulai dari dalam diri kita sendiri. Sebagai warga negara mengikuti dasar negaranya, ideologinya. Sebagai manusia kita punya agama dan keyakinan. Kita ikuti aturan yang ada,” tambahnya.
Ditempat yang sama, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpom), Soedarmo mengatakan Revolusi Mental dimaksudkan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkarakter melalui gerakan hidup baru guna mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku manusia Indonesia seutuhnya. Presiden Joko Widodo bahkan mengatakan bahwa konsep Revolusi Mental yang digagasnya memiliki relevansi dan kontektualisasi yang sama dengan konsep Trisakti yang pernah diutarakan oleh Bung Karno.
“Sama dengan Tiga Pilar yang diutarakan Bung Karno yaitu, Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan lndonesia yang berkepribadian secara sosial budaya,” kata Soedarmo.
Lebih lanjut, praktek revolusi mental dalam kehidupan sehari-hari bertujuan menjadi manusia yang berintegrasi, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu, merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.
PKN-REVMEN tahun 2018 dilaksanakan dengan tujuan membangun sinergi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk percepatan revolusi mental dengan melalui berbagai program dan strategi serta sebagai sarana informasi dan komunikasi terkait dengan revolusi mental dan capaiannya. Selain itu juga untuk menunjukkan ke masyarakat aksi nyata pemerintah dalam mengimplementasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental.
PKN-REVMEN Tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Utara melibatkan kurang lebih 15.000 peserta dilaksanakan dengan mengutamakan aksi nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, Dunia Pendidikan, dan Kelompok Masyarakat) dengan mengutamakan pencapaian target indikator setiap program gerakan lndohesia Melayani, Indonesia Tertib, Indonesia Bersih, Indonesia Mandiri dan lndonesia Bersatu, dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial.
“Terdapat beberapa alasan menarik dibalik penetapan Provinsi Sulut adalah kondisi sosio-kultural, kemajemukan masyarakat Manado dan sekitarnya merupakan potret indah dalam merangkai keberagaman dan cerminan kehidupan inklusif yang melindungi minoritas,” paparnya.
Selain itu, posisi strategis Manado sebagai representasi Indonesia Timur jadi faktor penting untuk penyebaran implementasi 5 Gerakan Nasional Revolusi Mental. Meski terpisah jauh secara geografis namun tetap mewujudkan Indonesia bersatu, mandiri dan melayani. PKN-REVMEN juga diisi dengan berbagai kegiatan terkait dengan revolusi mental antara lain temu nitizen dalam rangka Revolusi Mental, forum dialog bela negara, pembauran kebangsaan, pemberdayaan Ormas, adat istiadat dan kepercayaan, Rembuk Nasional (Gerakan Indonsia Melayani, Tertib, Mandiri, Bersih dan Bersatu), pameran revolusi mental, pagelaran seni budaya, karnaval revolusi mental dan berbagai kegiatan terkait lainnya.
“Dengan dilaksanakannya PKN-REVMEN mampu menjadi sarana informasi dan komunikasi terkait revolusi mental bagi masyarakat serta menjadi ajang untuk menunjukan keberhasilan Revolusi Mental Indonesia. Kegiatan ini juga sebagai media untuk mengevaluasi pelaksanaan GNRM sehingga kedepan tujuan pelaksanaannya dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan,” tutupnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, Menko Bidang Polhukam, Wiranto, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB), Syafruddin dan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo.
(HRM/FIN)