Berita Terkini
Busel

Cagar Budaya, Busel Miliki 33 Benteng

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 8 November 2018 14:06 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Cagar Budaya, Busel Miliki 33 Benteng

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Kabupaten Buton Selatan (Busel) sebagai eks kesultanan Buton kaya dengan potensi wisata budaya. Tercatat, ada 33 benteng pertahanan yang tersebar hampir diseluruh kecamatan di Busel.

Hal ini perlu diidentifikasi, ditelusuri sehingga Busel memiliki 33 benteng pertahanan yang ada seluruh wilayah. Sehingga dari kearifan lokal bisa menjadi unggulan.

Untuk mempertahankan dan melestarikan seluruh kekayaan budaya lokal, Dinas Kebudayaan Busel mengungkap dan melakukan pendataan sejumlah potensi budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan Busel Yusuf Hibali mengatakan, ini sebagai langkah awal untuk mengembangkan potensi budaya Busel. Semua potensi kebudayan yang ada di Busel bisa terungkap, yang belum terdata bisa diprogramkan tahun berikutnya.

Ini cukup menantang dirinya untuk melakukan penggalian lebih dalam lagi, karena di Busel memiliki cukup banyak benteng pertahanan di setiap wilayah.

"Mumpung masih ada tokoh sesepuh Busel yang masih mengetahui runutan sejarah budaya, seperti La Ode Alirman harus dimanfaatkan secara baik generasi saat ini. Ini aset besar," katanya.

Artinya lanjut dia, Bupati Busel sudah menggagas Busel Beradat. Karena itu, daerah ini harus tampil dengan nuansa jati diri sebagai daerah budaya.

Dengan pemetaan potensi pariwisata kebudayan peninggalan cagar budaya benteng, menurut Yusuf, menyimpan misteri untuk diungkap. Dari 33 benteng yang ada di Busel, itu aset terbesar untuk kearifan lokal pertahanan keamanan kesultanan di zamannya dan dipraktekan dalam ketahanan kedaulatan NKRI. Artinya, sejak dulu kala, sistem pertanahan nenek moyang pada zaman kesultanan Buton sudah ada.

"Jika hari ini mau direnovasi memerlukan dana yang besar. Kenapa leluhur Busel masa dulu bisa membangun, mengapa saat ini mau dipertahankan tidak bisa. Artinya, kita harus komitmen, ketika sudah jadi daerah otonom harus bisa membiayai itu. Apakah dari dana APBN atau APBD," ujarnya.

Semua situs ini merupakan aset budaya yang sangat mahal. Sebab, budaya itu sebuah karya yang harus dijaga dandi pertahankan sehingga Busel punyai jati diri.

"Sejak dilantik 31 Desember 2016 di era sebelum saya, belum ada data cagar budaya. Karena itu dilakukan pendataan yang dilakukan oleh staf dinas. Hasilnya, kita punya makam kuno, punya baruga 18, masjid wawoangi, 33 benteng pertahanan. Ada juga tarian. Olehnya itu kedepan sejumlah perngkat adat akan diberdayakan," katanya.

Ia menambahkan, Disbud tidak bisa berjalan sendiri, harus kerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan. Busel harus eksis di tingkat nasional. Sebagai daerah eks kesultanan Buton yang memiliki dinamika masyarakat, adatnya masih eksis, dan perlu didaftarkan di iven nasional.

"Karena disini peradaban masa lalu dan harus dipertahankan, di Busel adalah benteng pertanahan masa kesultanan Buton sebanyak 33. Artinya, dari jumlah itu daerah ini merupakan daerah pertahanan," tuturnya.

Langkah ini kata dia, salah satu upaya untuk menterjemahkan dan menjabarkan visi dan misi bupati menjadikan Busel Beradat. Selain itu, menjadikan kearifan lokal untuk potensi unggulan daerah sehingga bisa dikenal. (aga)

Bagikan