Seorang Bayi Lahir tanpa Anus dan Kelamin, Begini Cerita Ibunya Saat Mengandung

PUBLIKSATU, DENPASAR - Seorang bayi berusia 3,5 bulan bernama Made Bima Sastra dilahirkan dengan kondisi usus keluar, tanpa anus dan alat kelamin di salah satu Puskesmas Kintamani Bangli pada Juni 2018 lalu.
Kini Bima dirawat ke RS Bangli dan RSU Sanglah. Menurut ibu kandungnya, Luh Budiasih, Bima lahir prematur.
Bima hanya ditunggui sang ibu di Ruang Cempaka 3, RSU Sanglah, Denpasar, Minggu (11/11). Sementara bapaknya Komang Budayasa baru saja pulang ke Bangli untuk melihat ketiga putri lainnya yang ditinggal di rumahnya.
Keluarga kecil ini hidup sebagai seorang petani di Banjar Masem Dwi Tirta, Desa Batur Selatan, Kintamani, Bangli. Sang istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga diketahui mengidap asma sejak mengandung anak perempuannya yang nomor dua. Sakit itu pun bertahan hingga hampir 10 tahunan ini.
Luh sempat mengaku dua kali keguguran sebelum mengandung Bima. Saat mengandung sebenarnya ia rajin periksa kandungan. Hanya saja memang tidak melakukan USG lantaran keterbatasan biaya. Memasuki bulan kelima mengandung, Luh kerap merasakan nyeri di kedua pinggangnya. Hingga berjalan pun tertatih dan sangat pelan.
"Ndak ada apa - apa. Bidannya bilang sehat. Hanya ndak USG," ungkapnya.
Di usia kandungan memasuki tujuh bulan tepatnya bulan Juni 2018, Luh merasakan nyeri tanda - tanda akan melahirkan. Benar saja, Bima kemudian terlahir. Sayangnya saat itu Luh tidak diperkenankan untuk melihat bayinya.
"Lahiran normal. Dia nangisnya kenceng. Sedih saya. Saya nggak dikasih lihat sama bidannya," jelasnya.
Hari berselang pun sama saja kondisinya, Luh tetap tidak diperkenankan melihat bayinya saat itu. Selain itu bayinya sudah lebih dulu dirujuk ke RS Bangli. Barulah hari kedua setelah melahirkan, sang bidan memberitahu bahwa Bima terlahir dengan kondisi tanpa alat kelamin, tanpa anus, ususnya pun keluar dan ada benjolan di bagian punggung bawahnya. Seketika Luh langsung lemas. Namun sebagai seorang ibu, Luh tetap meneguhkan hatinya sendiri untuk kuat menghadapi cobaan.
"Baru hari keenam saya bisa lihat anak saya di sini (RS Sanglah). Anak saya sudah di sini, diantar oleh suami saya dan ambulans. Tapi saya tidak berani lihat bagian perut anak saya," ungkapnya.
Dengan kondisi demikan Bima kerap keluar masuk rumah sakit lantaran kondisi kesehatannya yang terkadang menurun. Dan untuk saluran ekskresi kemudian dokter membuatkan lubang dibagian perut kanannya.
Setelah dilahirkan Bima pun dirawat selama 26 hari di RS Sanglah. Setelah diperbolehkan pulang, dua hari kemudian Bima kembali menjalani rawat inap di RS Sanglah lantaran bekas operasinya bocor. Tiga belas hari kemudian Bima diperbolehkan pulang. Selang lima hari kemudian kembali lagi opname di RS Sanglah. Dan ini kali keempat rawat inap lagi di RS Sanglah sejak Rabu (7/11) sekitar pukul 24.00.
"Adek (Bima) sekarang udah agak membaik. Diarenya masih tapi muntahnya sudah berkurang. Masuknya sekarang kan karena diare, karena muntah. Saluran kencing ndak ada. Dulu waktu dia baru lahir ususnya keluar," ungkapnya dengan pandangan nanar.
Jika mengingat ususnya keluar dari lubang pusarnya, Luh kembali sedih. Dia sempat tidak sanggup menghadapi kondisi ini. Apalagi diakuinya mengurus Bima bukanlah hal yang mudah seperti bayi lainnya. Karena harus mengganti terus kantung penampung kotorannya. Dan juga memakai kateter untuk membantu saluran kencingnya. Sembari menunggu usianya pada 5 tahunan akan direncanakan pembuatan saluran kencingnya.
"Kan ususnya keluar. Dioperasi dimasukkan perutnya. Cuman kelamin dan lubang anusnya belum ada. Hanya ada benjolan di punggungnya. Saya ndak mau nyerah. Biar bagaimanpun saya tetap semangat. Kalau bukan anak saya, saya sudah ndak sanggup beginian mbak," ungkapnya sambil menangis.
Sesekali tampak Luh kembali ke ruangan Intermediate menilik kondisi Bima yang ditinggalnya. Meskipun dalam kondisi demikian diakuinya, Bima paling kuat menyusu di antara anak - anaknya. Sesekali memang dipasangi empeng karet, lantaran Luh tidak kuat menyusuinya.
Dengan bekal seadanya Luh menunggui anaknya tersebut. Pihaknya pun berharap ada bantuan yang dapat meringankan bebannya. Baik dari pemerintah setempat maupun komunitas.
(bx/afi/yes/JPR)