Berita Terkini
Sultra

Jeritan Hati Warga Sekitar Tambang di Konut, Mata Pencaharian Lumpuh, Hanya Dapat “Uang Debu”

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Minggu, 18 November 2018 13:43 WIB · 4 menit baca
Jeritan Hati Warga Sekitar Tambang di Konut, Mata Pencaharian Lumpuh, Hanya Dapat “Uang Debu”
Ilustrasi kampung Bajo

PUBLIKSATU, Warga etnis bajo di Desa Morombo Pantai, Kecamatan9 Lasolo, Konawe Utara hanya bisa meratapi nasib mereka. Manusia perahu begitulah julukan mereka. Segala aktivitas dilakukan di atas perahu yang juga menjadi rumah bagi mereka. Kehadiran perusahaan tambang, membuat hidup mereka makin susah. Sumber duit (mata pencaharian) lumpuh.

Desa Marombo Pantai, Kecamatan Lasolo merupakan salah satu wilayah yang didiami etnis bajo. Mereka lebih banyak menggantungkan hidup melalui hasil laut. Dulu mereka bergelimang, tapi kini harus gigit jari. Tahun 2010, menjadi hari kelam bagi warga bajo yang mendiami daerah itu.

Puluhan izin usaha pertambangan (IUP) diterbitkan mengitari pemukiman mereka. Aktivitas pertambangan mematikan seluruh aktivitas mereka. Mata pencaharian lumpuh. Hasil laut tidak bisa lagi diharapkan.

Kondisi memiriskan itu sangat dirasakan Cingpolo (45), salah satu warga bajo yang mendiami Desa Marombo Pantai. Ia lantas berkeluh kesah dengan hadirnya aktivitas penambangan di daerahnya.

“Tahun 2008, kami masih bisa buang kail di belakang rumah. Bisa dapat ikan. Sekarang buang kail pasang pukat (jaring) lumpur yang didapat. Lumpurnya itu sudah sampai satu meter lebih,” ujar Cingpolo mengawali kisah kehadiran pertambangan di desanya, kemarin (16/11).

Safruddin alias Cingpolo bercerita, kampung halamanya sebelum ada tambang menjadi “surga” bagi aneka ragam biota laut. Baik ikan, kepiting, kerang maupun teripang masih bisa didapatkan di arela pemukiman mereka.

Namun, sejak 2008 silam berubah drastis. Memasang kail dan pukatpun sulit mendapatkan hasil laut. Terkecuali, kata Cingpolo, mencarinya dilakukan jauh dari pemukiman.

“Bisa kodapat ikan, kerang dengan teripang kecuali melaut keluar jauh. Kalau di pesisir ini susah sekali dapat,” katanya dengan nada sedih.

Tak hanya hasil laut, di darat juga kondisinya sangat gersang. Tak ada lagi, kesejukkan atas rindangnya pepohonan yang mengitari pemukiman, sebagaimana 10 tahun silam. Lereng pegunungan yang dulunya hijau, kini tidak ada lagi. Sekarang, malah debu saja yang didapat akibat aktivitas kendaraan tambang yang keluar masuk.

Kehadiran ratusan alat berat yang menggusur lereng bukit dengan suara dentuman alat berat dan kendaraan yang silih berganti memuat ore nikel menjadi ancaman bagi warga setempat. Hanya radius 100 meter dari atas pemukiman warga bajo di desa itu, menjadi jalan houling perusahaam nikel yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan warga.

“Masuknya tambang ada juga bagusnya. Tapi lebih banyak buruknya. Kalau dulu kita pergi cari teripang bisa dapat sampai kiloan. Hasilnya, dalam satu minggu bisa dapat Rp 300-600 ribu. Kalau perbulannya, bisa dapat Rp 3-5 juta. Sekarang susah sekali dicari itu teripang,” timpal Saena, warga Desa Marombo Pantai lainnya.

Cingpolo dan Saena mengaku hanya mendapat uang kompensasi dari perusahaan. Warga mengistilahkan dengam “uang debu”. Besaran nyapun tak seberapa. Uang debu diberikan sesuai dengan jumlah tongkang perusahaan yang keluar.

“Bervariasi uang debu dikasih. Kadang Rp 300 ribu, kadang juga Rp 600 ribu. Tergantung tongkang yang keluar berapa,” sambung Cingpolo.

Bila dirasionalisasikan, antara penghasilan sebelum usaha pertambangan masuk, Cingpolo mengaku lebih banyak pundi-pundi keuangan yang didapatkan dari hasil melaut. “Kami ini yang menggantungkan hidup di laut, makin susah cari uang. Makanya, kita sering sampaikan sama perusahaan supaya kami diperhatikan. Kasian kami ini yang berprofesi sebagai nelayan,” ungkapnya dengan nada sedih.

Dari pantauan Kendari Pos, pemukiman warga bajo di Desa Marombo Pantai, Kecamatan Lasolo masih jauh dari kata layak. Pemukiman warga yang berada di atas perairan mengitari pinggiran pantai itu, tak satupun rumah penduduk yang memiliki pembuangan tinja. Rata-rata warga di wilayah itu membuang hajatnya langsung terjun bebas ke laut.

Padahal, puluhan perusahaan pertambangan mengambil bahan baku ore di lokasi desa mereka. Beberapa perusahaan tambang disebut-sebut menjadi biang terjadinya kerusakan lingkungan di Desa Marombo Pantai. Perusahaan pertambangan yang melakukan penambangan di lokasi, diantaranya PT KNN, PT Unaaha Bakti, PT Bososi Pratama, PT Massimpo Dalle.

“Semestinya perusahaan pertambangan memperhatikan lingkungan warga. Jangan mematikan penghidupan warga. Apalagi mematikan sumber mata air warga. Perusahaan juga semestinya memberikan rasa nyaman dan aman bagi warga,” tukas Ketua Komisi II DPRD Konut, Makmur. (b/*)