Lisensi PSM Makassar Terancam, Ini Penyebabnya

PUBLIKSATU, BOLA – Lisensi PSM Makassar tercancam. Hal ini disebabkan gaji sejumlah pemain PSM Makassar U-19 yang tertunggak sampai juga ke telinga operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Pihak LIB pun meminta PSM untuk segera menyelesaikan tunggakan tersebut. Karena, jika sudah sampai ke AFC akan berpengaruh terhadap lisensi klub profesional PSM.
PT LIB selaku operator Liga 1 dan Liga 1 U-19 meminta seluruh klub yang memiliki masalah tunggakan untuk segera menyelesaikannya. Khususnya bagi PSM yang kini menunggak pembayaran gaji pemain selama tiga bulan.
COO PT LIB, Tigor Shalom Boboy berharap masalah yang membelit PSM junior tidak berlarut dan bisa segera diselesaikan. Sebab, masalah ini bisa berdampak pada status lolos bersyarat PSM dalam urusan lisensi AFC. “Cukup cepat selesaikan saja. Jangan sampai berlarut dan terpantau AFC,” harapnya.
Tigor pun coba memberi solusi. Jika gaji yang sesuai kontrak tak kunjung dibayar, pemain boleh melapor ke PT LIB. “Bisa lapor ke Liga. Tinggal dipotong kontribusinya,” terangnya.
Skuat PSM U-19 gugur di babak 8 besar Grup A Liga 1 U-19. Setelah itu pemain dan tim pelatih pun kembali ke kampungnya masing-masing. Namun tidak untuk 8 pemain dari luar daerah.
Kini masih ada 8 pemain dari luar Sulsel yang terpaksa masih menetap di mess PSM. Mereka menunggu gajinya dibayar sebagai modal transportasi pulang ke kampung halamannya. Di antaranya adalah Riko dan Roni dari NTT. Sarette dan Andika asal Ambon. Rigy dan Janu dari Pekanbaru, serta Luthfi dan Yusuf dari Kabupaten Mamuju.
Manajer PSM U-19, Ali Ghauli belum bisa dikonfirmasi soal tunggakan ini. Panggilan telepon dan pesan singkat belum dibalasnya. Salah seorang pemain PSM U-19 Roni mengaku, dalam kontrak ia digaji Rp 2,5 juta mulai Juli hingga Desember 2018.
“Baru dua bulan pertama yang dibayar. Dijanji mau dibayar (sisanya). Tetapi, belum tahu sampai kapan,” akunya.
Sementara itu, pelatih PSM U-19, Herrie Setyawan enggan berkomentar soal pemainnya yang belum digaji. Saat ini Herrie pun belum memastikan statusnya akan kembali melatih Ramang Muda musim depan.
“Saya masih pikir ulang. Lanjut atau tidak saya di PSM U-19. Saya harus bicara lagi dengan Pak Appi,” katanya.
Pelatih Akademi Bali United Kristal Kupang atau biasa disebut Bufos, Indra Jaya yang membawa dua pemain membela PSM U-19 mengaku kecewa melihat kondisi anak asuhnya yang ditelantarkan. Tak hanya itu, ia juga mengaku bahwa janji manajemen PSM untuk membayar ganti rugi tiket pemain yang lolos seleksi sebelumnya juga tak kunjung direalisasikan.
“Kalau belum bisa bayar gaji anak-anak paling tidak dibelikan tiket pulang. Masa kami diam saja,” keluhnya. (jpg/adw/JPC)