Berita Terkini
Nasional

Rugi Rp 600 Juta, PT Pertani Mundur dari Program BPNT

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 28 November 2018 17:05 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Rugi Rp 600 Juta, PT Pertani Mundur dari Program BPNT
ilustrasi

PUBLIKSATU.CO – PT Pertani harus mengambil sikap terkait banyaknya persoalan dalam penyaluran bantuan pangan non tunai (BPNT). Agar tak mengalami kerugian semakin besar, supplier bahan pangan jenis telur ini memutuskan untuk mengundurkan diri.

“Dari perhitungan sementara, perkiraan rugi mencapai 600 juta,” terang Syaiful Bahri, Manajer PT Pertani kemarin.

Pihak PT Pertani sendiri sudah menyalurkan sekira 22 persen telur dari pesanan agen E-warung, yang terpaksa ditarik menyusul temuan jeleknya kualitas sebagian telur (rusak, busuk, berbelatung).

Angka itu berasal dari jumlah akumulasi biaya operasional PT Pertani dalam proses penyaluran telur dan perhitungan lainnya.

“Dari telur yang kami tarik kemudian kita retur, termasuk tranport serta pengeluaran lain-lain,” bebernya.

Menurutnya, salah satu kendala penyaluran BPNT di Jombang lantaran amburadulnya sistem keagenan. “Ada agen yang menurut kami kooperatif. Permintaan diikuti betul, begitu barang datang agen mau cek. Kalau menemukan rusak disingkirkan sehingga tidak sampai ke KPM, selanjutnya dilaporkan dan langsung kami ganti,” lanutnya.

Selain itu, masalah menurutnya juga terjadi karena permintaan yang terlalu mendadak. ”Kami terima pesanan terlalu mendadak, kami cukup kelabakan. Sehingga kami ambil dari peternak tanpa kita sortir, langsung kami beli dan disalurkan ke agen,” imbuhnya.

Termasuk kendala terkait teknis penyaluran. ”Jadi beberapa permasalahan muncul. Begitu pengiriman telur sudah datang, berasnya tidak segera datang, sehingga telur harus nandon (disimpan) dulu menunggu beras datang,” bebernya. Belum lagi dampak dari cuaca, yang menurut Syaiful cuacanya panas sekali.

“Cuaca panas berpengaruh terhadap kualitas telur,” imbuhnya. Meski mengaku berat, namun dirinya mengaku legowo dengan kejadian ini. ”Ini menjadi pengalaman. Misalnya nanti ada permintaan ke kami, kami tetap siap melayani sesuai dengan komitmen. Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan,” sambungnya.

Syaiful juga membantah keras terkait kabar pemutusan kontrak. Pasalnya, pihaknya tidak pernah sama sekali terikat kontrak dengan tim koordinasi (tikor) bansos pangan Jombang. “Tidak benar ada pemutusan kontrak, kami tidak ada kontrak dengan tim koordinasi bantuan pangan Jombang. Kami hanya membantu, tidak ada sama sekali kerjasama di atas kertas,” tegas Syaiful Bahri.

Yang benar itu lanjut Syaiful, pihaknya menerima permintaan order dari para agen E-Warung di Jombang. “Jadi yang ada itu, kerjasama kami dengan agen. Kami dapat order dari agen terus kami layani. Kami komitmen, begitu ada laporan telur rusak langsung kami ganti, bukan malah disebarkan apalagi dibagikan ke KPM,” keluhnya. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

Bagikan