Sehari, 400 Anjing Dibunuh Untuk Dikonsumsi di Solo

PUBLIKSATU, Tingkat konsumsi daging anjing di Kota Solo tergolong cukup tinggi. Dari data yang dimiliki oleh komunitas pecinta anjing Dog Lover Solo, terdapat sekitar 100 warung makan daging anjing di Solo.
Dari jumlah tersebut, rata-rata setiap warung makan menghabiskan empat ekor anjing.
"Jadi dalam sehari, rata-rata ada 400 anjing yang dibunuh untuk dikonsumsi. Kalau itu dikalikan sebulan kan jumlahnya sangat banyak," terang anggota komunitas, Go Mustika kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Banyaknya anjing yang dibunuh setiap harinya ini, menurut Mustika, sangat tidak mungkin jika anjing-anjing tersebut didapatkan dari peternakan. Hal ini karena, untuk beternak anjing juga butuh waktu dan tidak mungkin bisa secepat itu.
Menurutnya, ada jangka waktu yang cukup lama untuk anjing bisa bereproduksi lagi. "Kami paham sekali mengenai masa kesuburan anjing itu usia berapa, berahi itu usia berapa, hamil dan melahirkan semua butuh waktu tidak mungkin kalau itu dari peternakan," terangnya.
Sebagai seorang pecinta anjing, Mustika paham benar bahwa seekor anjing memiliki masa hamil lebih kurang dua bulan. Dalam setiap kehamilan biasanya akan lahir 5-7 ekor anak anjing. Anak anjing akan dirawat oleh ibunya sampai bisa mandiri lebih kurang selama 1,5 bulan.
"Sedangkan ini, setiap hari bisa menyediakan lebih kurang 400 anjing untuk warung makan," imbuhnya.
Mustika justru menaruh kecurigaan jika anjing-anjing tersebut didapatkan dari penjual atau mencuri. Hal ini sebagaimana banyak laporan yang masuk kepadanya. Bahwa para pemilik anjing mengaku anjingnya sudah diracun atau dicuri. Jika sampai hal itu terjadi, Mustika menambahkan, para pengonsumsi daging anjing juga harus lebih berhati-hati. Mengingat, racun yang ada di dalam tubuh anjing juga bisa berbahaya.
Selain itu, Mustika juga mengatakan, ancaman lain yang harus diwaspadai saat mengonsumsi daging anjing adalah ancaman penyakit rabies. Menurutnya, virus tersebut sangat mungkin menular pada manusia yang mengonsumsi daging anjing. Meskipun, banyak pecinta daging anjing yang mengatakan bahwa dirinya masih sehat dan tidak terkena virus rabies.
"Ancaman penyakit, yang utama rabies memang banyak pemakan anjing yang tidak kena rabies. Virus tersebut menular step by step, beberapa ekor yang terjangkit rabies dan dikonsumsi ada pula yang dalam proses terkena virus tersebut," pungkasnya.
Sementara itu, salah satu pengelola warung rica-rica, Bobby Himawan mengatakan usaha yang digeluti bosnya tersebut tidak seperti kebanyakan kedai makan pinggir jalan, karena lebih berbentuk bisnis rumahan, karena lebih ke menerima pesanan dan tak memakai embel-embel spanduk apapun.
"Pembeli kami selama ini ya dari mulut ke mulut tahunya. Dan setiap hari kita habiskan sekitar 3-4 ekor anjing," kata pria yang saban harinya bekerja di Warung Waung milik Pak Poyo di Jatingaleh, Semarang.
Bobby meyakini jumlah itu sudah cukup banyak untuk satu warung RW. Ia menyebut rata-rata pelaku usaha serupa paling mentok hanya menghabiskan daging anjing dengan jumlah ekor separuhnya.
"Beberapa saya punya kenalan yang menjalankan bisnis sama, mereka biasa habis satu sampai dua ekor per hari. Tapi tetap ada juga yang sampai tiga atau empat, tapi nggak tiap hari seperti kami. Karena kan beberapa juga jualannya digabung sama menu lain. Kalau kami ini kan buka sudah cukup lama dan sudah banyak yang tahu. Lagipula di Semarang nggak kaya di Solo yang dijualnya sudah kaya kerupuk saja. Pemasok di sini nggak sebanyak di sana, bahan baku anjingnya," cetusnya.
(apl/dho/gul/JPC)