Tahun Depan Ekonomi Jatim Tumbuh Lebih Tinggi

PUBLIKSATU.CO - Perkembangan ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian pada tahun depan diperkirakan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (Jatim). Dari sisi eksternal, kenaikan harga minyak dunia dan potensi perang dagang Amerika-Tiongkok bisa menekan pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, dari sisi internal, potensi risiko terutama berasal dari pengetatan kebijakan moneter, kenaikan upah minimum, serta gangguan cuaca El Nino.
Meski masih terdapat risiko pada 2019, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih kuat dan kondusif. Inflasi pun tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2019 diproyeksikan berada pada rentang 5,4-5,8 persen, sedangkan inflasi masih akan berada pada kisaran targetnya, yaitu 3,5 persen ±1 persen.
Berbagai shock dan skenario terhadap perekonomian Jatim menunjukkan dampaknya tidak melebihi rentang proyeksi. Dapat disimpulkan, perekonomian dan inflasi Jatim memiliki ketahanan yang cukup baik.
Prioritas kebijakan BI pada 2019 diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi dengan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan. Dari sisi kebijakan moneter, pengendalian inflasi diperkuat melalui peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kerja sama antar-TPID, dan peningkatan ekspor komoditas unggulan dalam rangka penurunan current account deficit (CAD).
Kebijakan makroprudensial akan bersifat akomodatif untuk mendorong intermediasi perbankan serta peningkatan surveilance sistem keuangan. Untuk mendorong pengembangan UMKM, pengembangan klaster akan difokuskan pada pengendalian inflasi (antara lain, beras organik, bawang merah, dan sapi) serta penurunan defisit transaksi berjalan melalui ekspor seperti batik dan kopi. Juga, dorongan pengembangan pada UMKM Go Digital serta integrasi dengan usaha syariah.
Sesuai dengan hasil riset growth strategy BI, beberapa sektor yang bisa dikembangkan adalah sektor kopi, kulit dan alas kaki, serta pariwisata. Ketiganya memiliki potensi yang bagus untuk pengembangan ekspor, menarik devisa, serta mengurangi defisit transaksi berjalan.
Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Di antaranya, daya dorong pertumbuhan yang masih bertumpu di kabupaten/kota di wilayah ring I, dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pengurangan ketergantungan bahan baku impor dan optimalisasi implementasi kebijakan kemudahan berinvestasi, serta perluasan akses pasar. Selain itu, pembangunan infrastruktur interkonektivitas di Jatim dan pangsa kredit/pembiayaan perbankan pada sektor pertanian yang relatif masih kecil.
Dalam rangka mengatasi gap pertumbuhan antardaerah di ring I (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, Pasuruan) dan daerah lain khusus di pedesaan, Bank Indonesia akan mendorong sektor pertanian. Dengan demikian, pendapatan dan perekonomian di daerah pedesaan bisa meningkat.
Peningkatan pangsa kredit pertanian akan terus didorong. Yakni, melalui kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, OJK, perbankan, korporasi, maupun asosiasi penggiat UMKM pertanian. BI mengajak bank dan lembaga keuangan untuk tidak hanya memandang pertanian sebagai sektor risiko tinggi, tetapi juga ikut memikirkan cara memperkecil risiko di sektor pertanian dan meningkatkan aksesibilitas keuangan petani.
Jatim sebagai perekonomian terbesar kedua di Indonesia selalu memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi jika dibandingkan nasional. Pada triwulan III 2018, Jatim tumbuh 5,40 persen (YOY) lebih tinggi daripada nasional yang hanya 5,17 persen. Terutama didorong kinerja investasi dan net ekspor antardaerah.
Tingginya pertumbuhan ekonomi Jatim juga ditopang pertumbuhan sektor utama yang secara konsisten lebih tinggi daripada nasional. Yaitu, sektor industri pengolahan, realestat, perdagangan, transportasi, dan jasa perusahaan.
Investasi sebagai salah satu pendorong utama ekonomi Jatim didorong pembangunan infrastruktur pemerintah dan investasi industri. Dalam mendukung peningkatan investasi di Jatim, Bank Indonesia bersinergi dengan pemerintah daerah melalui berbagai kegiatan Regional Investor Relation Unit (RIRU).
Perekonomian Jatim juga didorong aktivitas perdagangan antardaerah. Maluku, Jawa Tengah, dan Balinusra merupakan mitra dagang utama Jatim di sepanjang 2018 dengan pangsa hingga 41 persen. Peningkatan perdagangan antardaerah tersebut merupakan salah satu langkah strategis untuk memitigasi perlambatan ekspor luar negeri.
Ke depan, dalam menghadapi tantangan yang masih berat, diperlukan sinergi antarseluruh institusi dengan semangat bersama untuk mewujudkan Indonesia dan Jatim yang semakin makmur, inklusif, sejahtera, serta berkeadilan.
*) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur; Sebagaimana disampaikan pada pertemuan tahunan BI
(res/c5/kim)