Berita Terkini
Nasional

Sandiaga: Pemimpin Itu Harus Apa Adanya, Bukan Ada Apanya

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 30 November 2018 17:55 WIB · 3 menit baca
Sandiaga: Pemimpin Itu Harus Apa Adanya, Bukan Ada Apanya

PUBLIKSATU, JAKARTA – Calon wakil presiden Sandiaga Uno punya pandangan sendiri terhadap seorang pemimpin. Menurutnya sesuatu yang tidak direncanakan itu lebih terlihat natural dan tanpa pencitraan. Pemimpin juga harus demikian. Pemimpin harus apa adanya dan bukan dilihat dari ada apanya.

Hal itu dikatakannya saat mengunjungi sentra industri sepatu di Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/11). Daerah ini merupakan salah satu sentra pengrajin sandal dan sepatu tas di Kabupaten Bogor.

Kurang lebih ada 2.000 pelaku usaha kecil menengah (UKM) dan lebih dari 10.000 pekerja yang diberdayakan di sini. Kunjungan ke lokasi ini menurut informasi yang diterima FIN memang tidak direncanakan dan baru satu hari disetujui.

Sandi yang mengenakan kaos biru dan celana panjang coklat tanpa sungkan berbicara di bawah tenda dan duduk di tengah. Tak heran bila mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu langsung dikelilingi para pelaku dan pengepul sepatu yang ingin mencurahkan isi hatinya.

"Saya memang lebih suka begini. Tapi tendanya masih termasuk mewah. Saya tidak mau berjarak dengan masyarakat. Kalau nggak direncanakan jadi terasa lebih wajar tanpa pencitraan. Pemimpin itu harus apa adanya, bukan ada apanya," terang Sandi memulai pembicaraannya dengan masyarakat di Bogor, Kamis (29/11).

H Lutfi pemilik pusat pengrajin mengeluhkan persaingan yang mulai tidak sehat. Padahal di Taman Sari mampu memproduksi 1.000 kodi atau 20 ribu pasang sepatu dan sandal dalam sehari. Namun, pasar semakin sepi.

Pasar sekarang pembayaran banyak tersendat. Impor membanjir dari China. Mereka jual murah dan kuat, ini membuat persaingan tidak sehat. Belum lagi persaingan dengan pengrajin lain, terang H. Lutfi.

Hal senada diungkapkan Ketua UKM dan Pengrajin Taman Sari, Acu Juanda. Dia mengaku sepinya pasar juga tidak terlepas dari brand atau merek. Produk dari Kecamatan Taman Sari belum punya brand atau merek, sehingga tidak setenar produk Cibadayut, Bandung.

Kami nggak punya brand Pak. Jadi hanya sebatas pengrajin dan pengepul. Padahal merek-merek terkenal memesan sepatu di tempat kami. Serbuan importir dari China juga makin memperparah kondisi ini, jelas Acu.

Mendengarkan semua curahan hati para pelaku UKM, Sandi berjanji bakal menyerap aspirasi ini dan akan memperbaiki kondisi yang disampaikan H Luthfi dan Acu.

Gerakan OK OCE sudah kita perkenalkan di setiap daerah yang kita kunjungi. Tiap daerah akan punya nama sendiri, disesuaikan dengan karakteristik masing-masing. Karena setiap kota atau kabupaten punya karakteristik tersendiri, seperti industri sepatu Sukaresmi di Taman Sari ini, jelas Sandi.

Akan kita ciptakan gerakan yang kolaboratif dan partisipatif dari masyarakat. Gerakan ekonomi yang datang dari, oleh dan untuk masyarakat. Dari sekarang juga, kita bersama-sama menjemput perubahan ekonomi di negeri ini. 2019 harus ada pemerintahan yang kuat dan fokus pada masalah ekonomi, khususnya pada penyediaan dan penciptaan lapangan kerja serta harga-harga kebutuhan pokok yang stabil dan terjangkau. Termasuk di Industri sepatu di Kabupaten Bogor ini, tutup Sandi.

(RTS/FIN)