Berita Terkini
Nasional

Reuni 212 Dinilai Sebagai Panggung Gratis Untuk Prabowo

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Selasa, 4 Desember 2018 18:34 WIB · 2 menit baca
Reuni 212 Dinilai Sebagai Panggung Gratis Untuk Prabowo

PUBLIKSATU, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, ketidakhadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Reuni 212 sangat merugikan dirinya. Absennya Jokowi membuat Reuni 212 menjadi panggung gratis bagi Prabowo Subianto.

Pangi melihat, kehadiran Prabowo bisa mendorong dukungan dari umat Islam semakin menguat. Kehadiran mantan Danjen Kopassus itu dianggap mencerminkan keberpihakan terhadap umat.

"Tidak bisa dipungkiri Reuni 212 mengerdilkan Jokowi. Acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Istiqlal dihadiri sedikit orang," ujar Pangi dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Selasa (4/12).

Menurut Pangi semestinya Jokowi tidak membiarkan panggung besar umat Islam tersebut dinikmati Prabowo. Pangi menilai, jika Jokowi hadir, maka Reuni yang digelar Minggu (2/12) lalu itu akan menjadi panggungnya, layaknya aksi 212 terdahulu.

"Semua sorot mata dan kamera akan tertuju pada Jokowi, Prabowo hanya akan menjadi pelengkap saja," katanya.

Tidak hanya itu, kehadiran Jokowi dalam reuni tersebut bisa menjadi pertimbangan kembali sebagian massa Reuni 212. Mereka boleh jadi akan memutuskan untuk memilih Jokowi.

Namun gara-gara absennya Jokowi itu, massa Reuni 212 hampir bisa dipastikan akan semakin mantap meninggalkan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

"Nasi sudah jadi bubur. Momentum politik sudah berlalu dan Prabowo mendapat poin istimewa. Selain Prabowo menemukan momentumnya dan berhasil melakukan konsolidasi politik menjelang hajatan pilpres lima tahunan," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Pangi berpendapat, Jokowi dan timnya perlu mengakui kepiawaian dan kemahiran tim lingkaran Prabowo menggoreng sentimen dan berselancar dengan papan isu.

"Tidak ada kata lain selain tim Jokowi segera berbenah diri dan lebih jeli membaca fenomena dan peristiwa penting hajatan politik jika tidak ingin terus-terusan tergilas oleh kuatnya arus yang menginginkan perubahan," ungkapnya.

(gwn/JPC)