Jelang Natal, Polres Sorong Kota Antisipasi Gesekan dan Radikalisme

PUBLIKSATU, Gesekan antar umat beragama selalu diantisipasi di Kota Sorong. Terutama jelang perayaan Natal tahun ini.
Wakapolres Sorong Kota, Kompol Hengki Kristanto Abadi mengatakan, pihaknya terus menjaga kerukunan antar umat beragama di wilayah hukum tersebut. Terlebih diketahui, populasi muslim dan kristen jumlahnya sepadan, sekitar 50 persen.
"Sehingga, jika terjadi polarisasi agama ini akan sangat berbahaya," ujarnya di Polres Sorong Kota, Sorong, Papua Barat, Rabu (12/12).
Dia menjelaskan, setidaknya ada beberapa tipe gerakan radikal di Sorong Kota . Pertama yang berbasis ideologi politik, sama dengan di Manokwari. Kedua isu agama. "Tetapi kita fokus pada yang kedua, isu agama," tegas dia.
Untung saja, masyarakat di Kota Sorong toleransi antar umat beragamanya cukup tinggi. "Kemudian menghargai hak-hak beribadah orang lain itu juga sangat tinggi," ucap Hengki.
Untuk radikalisme sendiri, pihaknya melakukan upaya-upaya penangkalan. Sebab segala potensi munculnya paham dan tindakan radikal paati ada.
Setiap permasalahan di Sorong, bisa menjadi potensi. "Nah kita lebih baik itu mencegah daripada itu muncul, jadi bahasanya mencegah lebih baik daripada mengobati," tutur Hengki.
Cara mengantisipasinya sebagai contoh dengan menggelar diskusi bersama sejumlah tokoh masyarakat dan agama. Dari diskusi itu, pihaknya mendapat penjelasan rill terkait permasalahan yang ada di Sorong dan inovasi untuk menyelesaikannya.
"Kita mencoba mencari ide-ide, kreasi-kreasi, inovasi-inovasi yang datang dari masyarakat sendiri yang betul-betul mengerti tentang akar masalah, yang betul-betul mengerti tentang kebijaksanaan lokal, dalam kita bisa mengatasi permasalahan yang terjadi di wilayah hukum Polres Sorong Kota," pungkas Hengki.
(dna/JPC)