Berita Terkini
Nasional

Bank Indonesia Tolak Uang Mbah Saliyem yang Terbakar

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Kamis, 13 Desember 2018 19:29 WIB · 3 menit baca
Bank Indonesia Tolak Uang Mbah Saliyem yang Terbakar
Uang mIlik Mbah Saliyem yang tak sengaja terbakar

PUBLIKSATU, Nasi sudah menjadi bubur. Mbah Saliyem, warga Dusun Bulu RT 1 RW 3 Desa Baleharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ini harus pasrah. Lansia 79 tahun ini tiap hari meratapi uang Rp 4,5 juta yang tidak sengaja dibakar warga. Karena dikira sampah saat gotong royong membersihkan rumahnya, Jumat (7/12).

"Saliyem salah satu warga yang mendapatkan program bedah rumah. Pekan lalu rumahnya sudah selesai dibedah. Namun kondisi masih berantakan. Jadi warga iuran buat bersih-bersih rumahnya. Namanya bersih-bersih, barang-barang yang kotor dan tidak terpakai dibakar. Ternyata ada uang Mbah Saliyem yang dibungkus dengan plastik dimasukan dalam senik turut terbakar," kata Danang Erawanto, Camat Eromoko kepada Jawa Pos Radar Solo.

Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Muhammad Arifin, pengelola Taman Pendidikan Al quran (TPQ) Al Hidayah, Dusun Bulu, Desa Baleharjo, Eromoko yang masih tetangga Saliyem berinisiatif membawa sisa uang terbakar untuk ditukar ke Bank Indonesia (BI) di Surakarta (Solo).

"Saya kemarin (Senin 10/11) ke Solo, bermaksud menukarkan uang milik Mbah Saliyem," kata Muhammad Arifin.

Namun, harapan uang tersebut bisa ditukar pupus, setelah Muhammad Arifin mendapatkan penjelasan dari petugas di BI. Api membakar rata-rata 50-75 persen bagian uang kertas pecahan Rp 100 ribuan milik Mbah Saliyen. Padahal, BI hanya bisa menukar uang yang terbakar atau rusak 25 persen saja.

"Sampai sana di beri tahu petugas bank kalau uang (milik Saliyem yang terbakar) tidak bisa ditukar," katanya.

Sehari semalam Muhammad Arifin salah satu satu yang peduli dengan peristiwa yang dialami Mbah Saliyem hanya bisa merenung, mencari cara bagaimana menyampaikan ke Mbah Saliyem bahwa uangnya tidak bisa ditukar. Jelas, Arifin khawatir Mbah Saliyen akan sedih, menangis dan shok lagi seperti waktu itu, waktu mengetahui uangnya terbakar.

"Saya akhirnya njawil (mencolek) teman-teman untuk urunan (iuran, donasi). Alhamdulillah terkumpul lumayan. Akan kami berikan ke Mbah Saliyem," katanya.

Rabu petang, Muhammad Arifin bergegas ke rumah Mbah Saliyem. Seperti biasa, Mbah Saliyem duduk di teras rumahnya pada bangku bambu tuanya. Rumahnya memang sudah tampak lebih baik, tembok dari batako, bukan lagi rumah bertembok anyaman bambu dan papan. Arifin dan juga warga sekitarnya tahu betul, kalau sampai Mbah Saliyem tahu uangnya tidak bisa ditukar, bakal pingsan dan histeris. Arifin, terpaksa berbohong.

“Sejak kejadian itu selalu bertanya, "duitku piye, duitku piye," ( uangku bagaimana) begitu terus. Maka kita terpaksa berbohong, kita berikan bantuan itu bilangnya uang sudah ditukar dari BI. Kita juga bilang ke Mbah Saliyem, kalau penukarannya dari BI bertahap. Karena donasinya juga bertahap, rencananya ada yang dari kelompok tani, ada yang dari anak-anak TPA,” katanya. (kwl/bun)

(rs/kwl/fer/JPR)