Tujuh Orang Tewas Terjebak Api, Jasad Korban Ditemukan Memeluk Anaknya

PUBLIKSATU, Belum hilang dari ingatan, musibah kebakaran di Jalan Merdeka II, Sungai Pinang, Samarinda yang menewaskan enam orang pada 17 April, Kemarin (18/12), peristiwa serupa kembali terjadi. Insiden kebakaran itu menyebabkan tujuh penghuni rumah di Jalan Jakarta, RT 66, Blok CK, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, tewas.
Suara bak kayu patah terdengar samar-samar di telinga Neneng Herawati Panjaitan (50). Perempuan paruh baya itu mendengar semakin jelas ketika masuk ke kamar anaknya. Matanya terpanah kala sepintas cahaya menguning kuat dari balik jendela. Kakinya bergerak cepat, keluar dari kediaman. “Baru di teras, api semakin membesar,” ucapnya sembari meneteskan air mata.
Bagaimana tidak, rumah yang terbakar itu adalah kediaman yang dihuni adiknya, Sri Rahayu Panjaitan (34) ibu rumah tangga yang sekaligus ketua RT setempat. Rumah korban juga berdampingan dengan rumahnya. Melihat kejadian itu, Neneng membangunkan suaminya, Nason Nadeak (52) dan anak-anaknya.
“Saya ambil selang lalu menyemprotkan air ke rumah yang terbakar. Saat itu belum banyak orang datang,” ujar Nason. Sedangkan Neneng, terus teriak meminta pertolongan. Daya dan upaya seolah sia-sia. Bukannya mengecil, api yang pertama muncul dari bagian depan itu terus membesar.
Akses menuju lokasi tidak sulit. Namun, waktu kejadian yang kebanyakan orang masih terlelap tidur, membuat tak banyak warga mengetahui. Nason sempat mengira suara kegaduhan istrinya itu adalah keributan di luar rumah.
Air mata Neneng tak berhenti ketika mendapat kabar bahwa adiknya Sri Rahayu Panjaitan tewas terpanggang. Bersama suami, Andi Ibrahim Bayu (43) dan kedua anak mereka, Alvira Putri Ananda Rahim (14) dan Muhammad Rafli (12). Bahkan, saat jasadnya ditemukan, Rahayu tengah memeluk anaknya, Ananda.
Sementara adik Neneng lainnya, yakni Ernawati Panjaitan (45) juga tewas bersama suaminya, Elhamsyah Arsyad (49) dan anaknya, Ilda Safira Putri (8). Dua kepala keluarga (KK) itu terjebak dalam bangunan. Diduga korban terlelap saat api berkobar. Sehingga sulit untuk menyelamatkan diri, lantaran api sudah membesar.
Dari pantauan Kaltim Post (Jawa Pos Group), rumah korban temboknya memang cukup tinggi. “Baru sekitar dua bulan rumah itu ditempati mereka (dua KK yang korban), sebelumnya di blok sebelah,” ujar Nason.
Sebenarnya, ada akses keluar lain selain pintu utama. Jalurnya hanya selebar sekitar 1 meter. Namun, api yang bermula dari bagian depan, membuat para korban tak bisa berbuat banyak. Dua tubuh ditemukan di kamar depan. “Rumah itu ada tiga kamar,” sambung Nason. Lima lainnya terpisah di bagian belakang.
Saharudin (34) adik kandung Ibrahim belum terlelap. Informasi peristiwa dini hari kemarin itu cukup membuatnya terenyak. “Saya hubungi semua, tapi tidak ada yang respons,” ujar pria yang terduduk dan terus berlinang air mata.
Semula pria itu tak percaya dengan kabar tersebut. Matanya tak bisa membendung air yang keluar ketika langkah kakinya tiba tepat di depan kediaman Ibrahim. Telepon genggamnya silih berganti dari kanan ke kiri, atau sebaliknya, menempel di telinga. Berusaha mengabarkan musibah tersebut kepada keluarga. “Pak, kakak saya, kemenakan, dan lainnya di mana?” tanyanya ke warga yang berusaha menjinakkan api.
Tubuhnya lemas saat petugas mendapati tujuh orang ditemukan meninggal di dalam rumah. Seketika, kabar duka menyebar, melalui pesan di grup WhatsApp (WA) keluarga, dan media sosial lain. Pagi hari kemarin warga mulai padat di sekitar lokasi. Sementara jasad tujuh korban yang terjebak di dalam rumah sudah dibawa ke RSUD AW Sjahranie, Samarinda.
Kasat Resrkim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono menuturkan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan mendalam. “Saya enggak bisa langsung kasih kesimpulan kalau pakai menduga, kami harus berdasarkan fakta-fakta,” ujarnya. Kemarin, tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polresta Samarinda ikut dalam proses pemeriksaan jenazah di ruang mortuary rumah sakit pelat merah.
Sudarsono bersikeras, penyelidikannya sedang berjalan. “Kalau memang ada indikasi sengaja dibakar, ya pasti kami usut. Sementara informasi yang mengarah ke sana itu tidak ada,” jelasnya.
Sudah empat saksi yang diperiksa polisi. Analisis sementara kepolisian, rumah di sekitar lokasi terlalu berdempetan. Sedangkan sisi bangunan kiri, kanan, dan belakang kediaman Ibrahim berdinding tembok. “Kalau kayu memang cepat menjalar,” tambahnya.
Ditegaskan Sudarsono, berkas penyelidikan pencari penyebab kebakaran itu ditangani Polsek Sungai Kunjang. “Kami hanya mem-backup. Koordinasi lebih lanjut di polsek,” pungkasnya.
(fab/jpg/JPC)