Berita Terkini
Sultra

HUT Infanteri ke-70, Danrem: TNI AD Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 21 Desember 2018 16:15 WIB · 3 menit baca
HUT Infanteri ke-70, Danrem: TNI AD Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan
Danrem 143/HO, Kolonel Arm Dedi Nurhadiman saat memimpin upacara HUT Infanteri ke-70

PUBLIKSATU, KENDARI - Dalam upacara memperingati HUT Infanteri ke-70 yang digelar di Mabes Korem 143/Halu Oleo (HO), Komandan Korem (Danrem) Kolonel Arm Dedi Nurhadiman, meminta kepada semua personel TNI Angkatan Darat (AD) agar tidak melupakan sejarah perjuangan pada 19 Desember 1948 saat mengusir penjajah Belanda dari Bumi Pertiwi.

"Kita tidak boleh melupakan sejarah perjuangan pada tanggal 19 Desember 1948, dimana saat itu Infanteri melakukan perlawanan dan mengusir penjajah Belanda pada agrezi militernya di Indonesia," tegas Danrem, pada saat membacakan amanat Danpussenif Kodiklatad, Brigjen TNI Teguh Pudjo Rumekso, Rabu (19/12).

Dikatakan, satuan korps Infanteri hingga saat ini telah mengharumkan nama baik Korps Infanteri, dimana selama ini telah mendukung tugas pokok TNI AD. Tumbuh dan berkembangnya Infanteri sebagai korps terbesar di AD tidak pernah terlepas dari sejarah perjuangan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.

"Salah satu catatan peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah adalah saat Infanteri menghadapi agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948. Dimana pada saat itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengeluarkan perintah kilat No. 1/Pb/D/1948 yang ditujukan kepada Angkatan Perang RI untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu perintah siasat No. 1/1948 tertanggal 12 Juni 1948, untuk melawan musuh dengan melaksanakan perang rakyat semesta," jelasnya.

"Saat itu pasukan yang hijrah melaksanakan aksi wingate (Infiltrasi) dengan cara Long March kembali ke wilayah masing-masing dan membentuk Wehrkreise (kantong-kantong kekuatan) sebagai titik-titik kuat pertempuran gerilya. Bentuk dan siasat pertempuran yang digunakan tersebut merupakan taktik dan strategi prajurit Infanteri untuk melanjutkan perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan," sambung Dedi Nurhadiman mengisahkan.

Dari peristiwa 19 Desember 1948 tersebut kata Dedi Nurhadiman, terdapat nilai-nilai ketokohan, patriotisme dan kepemimpinan dari seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dengan nilai kejuangan, profesionalisme keprajuritan dan sifat pantang menyerah serta nilai kemanunggalan TNI dengan rakyat yang harus selalu terpatri dalam jiwa, sikap dan tindakan setiap prajurit Infanteri.

"Untuk mengabadikan nilai-nilai tersebut, maka TNI AD menetapkan hari tersebut sebagai Hari Infanteri dan dalam peringatan saat ini mengambil tema dengan semangat yuddhawastu pramukha prajurit Infanteri mengabdi dan membangun bersama rakyat," paparnya.

Makna tema tersebut, sambung Dedi Nurhadiman, juga memancarkan semangat pengabdian perjuangan tanpa akhir untuk terus memperkokoh kemanunggalangan bersama rakyat, serta membangun sinergisitas dengan segenap komponen bangsa lainnya sebagai kekuatan bela negara dalam sistem pertahanan semesta.

"Untuk itu, saya mengajak agar semua TNI AD menanamkan niat dan mantapkan ikhtiar menjadi komitmen bersama, memahami, dihayati dan diimplementasikan secara cerdas dan bijak, sesuai dengan peran, tugas serta fungsi tanggung jawab masing-masing dalam mendukung pencapaian tugas pokok TNI AD," tandasnya.

Sebelum menutup sambutannya, Dedi Nurhadiman kembali menegaskan, bahwa keberadaan satuan Infanteri yang dilengkapi dengan Alutsista dan perlengkapan tempur yang modern, memberikan semangat baru untuk terus mengantisipasi berbagai perubahan dengan melakukan revisi, reaktualisasi, dan redefinisi doktrin, strategi dan taktik bertempur, untuk mampu mengimbangi pola pertempuran modern ke depan. (m4)