Budaya Topang Destinasi Wisata Sultra

PUBLIKSATU, KENDARI - Pengembangan destinasi wisata yang ada di wilayah Sultra sebaiknya dengan lebih menonjolkan karakteristik budaya. Pasalnya, sebagian besar potensi destinasi wisata yang ada di daerah ini bernuansakan simbol atau corak peninggalan budaya yang bisa dikembangkan sebagai potensi keunikan tersendiri dari daerah lainnya.
Hal tersebut diungkapkan Kadis Pariwisata Sultra, Syahruddin Nurdin melalui Kasi Sumber Daya Manusia (SDM), La Ode Ali Ahmadi, Kamis (27/12).
Dia menganjurkan kepada kabupaten/kota yang ada di Sultra agar pengelolaan destinasi wisata harus dengan warna karakteristik budaya dari produk pariwisata yang bisa dijual.
"Mengenai potensi untuk keunikan destinasi wisata yang ada di Sulawesi Tenggara, baik itu di wilayah daratan maupun kepulauan, banyak berpotensi nilai keunikan budaya dan historisnya. Karena realita di lapangan, setiap wilayah di Sulawesi Tenggara masih menyimpan keunikan sejarah dan corak budaya tersendiri yang bisa dipublikasikan sebagai salah satu destinasi wisata yang bisa dijual demi kelestarian budaya itu sendiri," jelasnya.
Ali Ahmadi mengatakan, untuk wilayah di Sultra tidak harus menampilkan destinasi wisata mengenai panorama pantainya atau keindahan bawah laut seperti yang ada di Wakatobi. Namun, setiap wilayah haruslah lebih menggali potensi keunikan budaya serta artefak ataupun peninggalan masa lalu yang bisa dipublikasikan untuk mendatangkan kunjungan wisata dengan nilai historis sebagai nuansa pengembangan pengetahuan.
"Sehingga dengan mengembangkan serta mengadirkan nuansa keunikan budaya sebagai icon destinasi wisata, dapat memberikan edukasi serta menambah pemasukan anggaran daerah (PAD) baru. Namun harus ditunjang dengan fasilitas pendukung sarana prasarana seperti home stay, kendaraan wisata, fasiltas keamanan untuk kenyamanan wisatawan, tour gait, pernak pernik miniatur daerah, serta fasiltas pendukung lainnya," ujarnya.
Arkiolog pemegang sertifikat Asessor Kopetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi itu menguraikan, bahwa untuk pengembangan destinasi wisata, seperti di Kota Baubau ada benteng eks Kesultanan Buton sebagai benteng terluas di dunia, di Muna dengan keunikan layang-layangnya dan gua, Buteng sebagai potensi daerah 1001 gua-nya, Buton dengan festival budaya tua dan kain tenunnya, Wakatobi dengan pantai dan panorama bawa lautnya, benteng serta tariannya, Busel dengan benteng pertahanan, bunker Jepang dan budayanya serta jejak perjalanan Gajah Mada, Butur dengan bentengnya serta di wilayah daratan di beberapa tempat masih banyak peninggalan situs peninggalan penjajahan Jepang yang unik sebagai penunjang destinasi wisata di Sultra.
"Karena produk ini mempunyai harga jual dan mempunyai khasanah budaya sebagai pembentukan karakteristik dengan mengembangkan destinasi wisata budaya di Sultra. Karena untuk di Indonesia mengenai gugusan kebudayaan, sangat unik dan jarang dimiliki oleh negara lain," pungkasnya. (m4)