Medsos Suburkan Kampret dan Kecebong

PUBLIKSATU, SUMENEP – Ludruk Santri bertajuk Menertawakan Diri di Akhir Tahun resmi dimulai Rabu (26/12). Selain seremoni pembukaan, hari pertama diisi diskusi kebudayaan bertema Post Truth Ayat-Ayat Medsos. Diskusi pertama tersebut dipandu Korlip JPRM Lukman Hakim AG dengan narasumber budayawan Mashuri.
Mashuri menyinggung peran media sosial (medsos) terhadap kehidupan masyarakat. Saat ini masyarakat memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap medsos. Karena itu, di era sekarang jaringan internet seolah menjadi kebutuhan mendasar. ”Mau tidur kita pegang HP. Bangun tidur yang dilihat pertama kali juga HP,” ujar pria kelahiran Lamongan itu.
Saat membuka HP, kecenderungan pertama yang dilihat yakni medsos. Baik Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan lainnya. Ironisnya, kata penulis buku Kisah-Kisah Pesugihan di Jawa, itu medsos tidak hanya berisi konten-konten positif. Pengguna media sosial juga kerap mengedepankan perasaan tanpa nalar dan pikiran.
”Hasilnya adalah masyarakat Indonesia yang semakin terfragmentasi, lebih didorong oleh emosi, dan mudah diradikalisasi karena kurangnya kontak serta tantangan dari luar lingkungannya,” jelasnya.
Medsos juga menjadi penyebab semakin tumbuh suburnya pertarungan antara kampret dan kecebong. Kampret dan kecebong merupakan simbol yang diambil dari ujaran kebencian, semacam asu, celeng atau babi, wedus, dan lain sebagainya.
”Yang tentu saja tidak berkumpar pada kisah kearifan kita yang dibuhul dalam fabel, cerita-cerita Tantri atawa Khalila dan Dimma dan sebagainya,” tegasnya.
Pengguna medsos rata-rata akan disuguhi hal-hal yang diinginkan. Mereka yang cenderung para pendukung capres tertentu akan disuguhi informasi tentang kebaikan tokoh tersebut. Sebaliknya, dia juga akan terus disuguhi informasi-informasi negatif tentang capres yang tidak disukai.
”Anda yang aliran politiknya kanan, maka Anda akan diarahkan ke kanan oleh medsos. Sebab, medsos punya algoritme sendiri,” imbuhnya.
Lalu bagaimana sikap pengguna medsos agar terhindar dari caci maki dan ujaran kebencian? Menurut dia, pengguna medsos harus bisa mengendalikan media yang digunakan. Caranya dengan menertawakan diri sendiri di medsos. Sebab dengan cara menertawakan diri sendiri, dia tidak akan sibuk mencari keburukan orang lain.
”Orang bicara sorga, sekali-kali kita ’piknik ke neraka’. Orang kalau terlalu serius bicara agama, kita tertawakan saja,” katanya sembari berseloroh disambut tepuk tangan peserta.
(mr/mam/luq/bas/JPR)