SMA 8 Surakarta Raih Predikat Sekolah Adiwiyata Nasional 2018

PUBLIKSATU, SOLO - SMPN 8 Surakarta (Depanska) meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional (SAN) 2018, yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH). Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Kepala SMPN 8, Triad Suparman di di Gedung Manggala Wanabakti KLKH, Jumat (21/12) lalu. Triad mengatakan penghargaan tersebut merupakan wujud apresiasi atas usaha yang telah dilakukan sekolah. Khususnya dalam upaya melaksanakan perlindungan, dan pengelolaan lingkungan selama dalam proses pembelajaran.
”Ada empat komponen yang harus dilaksanakan sekolah agar mendapatkan predikat sebagai sekolah adiwiyata. Yaitu kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif, dan pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Ini sejalan dengan visi SMPN 8, yakni berprestasi, berwawasan lingkungan berdasarkan iman dan taqwa,” beber Triad kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Triad mengungkapkan perolehan predikat Sekolah Adiwiyata Nasional ini tidak lepas dari peran semua warga sekolah. Pihaknya menggerakkan seluruh guru, karyawan, dan siswa untuk bekerjasama dengan kompak menjaga lingkungan sekolah. Mulai dari dalam kelas, ruangan, halaman, dan lingkungan sekitar sekolah.
”Bahkan siswa tidak keberatan, jika setiap hari secara bergantian membuang sampah. Yakni dari kelas menuju tempat pembuangan akhir di gerobak yang sudah disediakan sekolah. Sampah yang ada di sekolah sudah dibedakan antara sampah organik dengan anorganik. Tujuannya, agar ada sampah yang bisa digunakan lagi. Misalnya, sampah dari daun bisa diolah menjadi pupuk. Sementara sampah dari plastik bisa dikreasikan menjadi hasil karya seperti kerikil plastik, vas, hingga hiasan yang bisa dipajang di kelas,” jelasnya.
Lanjut Triad, program sekolah adiwiyata bisa terlaksan juga berkat dukungan dari komite, alumni, dan warga sekitar sekolah. Berbagai program inovasi dilaksanakan untuk mendukung sekolah adiwiyata. Sebut saja, Gerakan Pungut Sampah (GPS), penghijauan, pengurangan penggunaan plastik, dan pengelolaan sampah.
”Kami memang sangat memperhatikan kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan sesama. Dengan adanay suasana bersih dan sehat, tentu proses belajar mengajar terasa lebih menyenangkan,” sambungnya.
Sebelumnya, SMPN 8 sudah mendapatkan penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Kota pada 2015 dan Tingkat Provinsi pada 2016. Usai mendapatkan penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional, SMPN 8 wajib mempersiapkan diri menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri.
“Kami harus mampu membina minimal 10 sekolah yang ada di sekitar kami untuk meraih predikat Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten atau Kota. Semoga penghargaan ini dapat memicu warga sekolah dan sekolah lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Perubahan kecil yang dilakukan untuk lingkungan sekitar akan berdampak besar bagi kelestarian di seluruh dunia,” pungkasnya.
Selain SMPN 8, ada tiga sekolah lainnya yang mewakili Kota Surakarta menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional. Yakni SMPN 1, SMPN 9, dan SMAN 3.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta, Etty Retnowati mengungkapkan sekolah-sekolah tersebut menjadi pelopor sekolah ramah anak bagi siswa di Kota Bengawan.
”Sekolah dengan predikat Adiwiyata Nasional ini kan segar, banyak pohon. Sehingga menjadi ramah anak. Anak sehat dan waras,” tandasnya. (aya/nik)
(rs/aya/per/JPR)