Berita Terkini
Nasional

Usai Banjir Bandang, Rumah Warga Masih Penuh Lumpur

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Jumat, 28 Desember 2018 20:10 WIB · 3 menit baca
Usai Banjir Bandang, Rumah Warga Masih Penuh Lumpur
PENUH LUMPUR : Rumah-rumah warga yang masih tertutup lumpur akibat banjir bandang

PUBLIKSATU, NEGARA – Sisa-sisa banjir bandang, Minggu (23/12) dini hari lalu masih terasa. Warga di sepanjang aliran Sungai Biluk Poh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, kemarin (27/12) belum bisa beraktivitas seperti biasanya. Ini lantaran sebagian besar rumah warga yang diterjang banjir masih dipenuhi lumpur dan juga banyak yang porak-poranda. Tidak hanya itu, beberapa warga juga mengalami kesulitan air bersih karena sumur milik mereka penuh dengan lumpur.

Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group kemarin di sejumlah rumah warga di Biluk Poh Kangin, beberapa warga yang menjadi korban banjir di luar lansia dan anak-anak tampak berusaha membersihkan sisa lumpur yang sangat tebal dan licin tersebut. Beberapa warga ini terlihat mengalami kesulitan karena tebalnya lumpur yang memenuhi hampir seluruh bagian rumah mereka. Sementara untuk warga khususnya lansia dan anak-anak memilih bertahan di posko pengungsi yang telah disiapkan.

Keterbatasan alat yang bisa dipakai untuk membersihkan lumpur dan sampah kiriman ini menjadi kendala utama beberapa warga yang terpaksa harus bertahan menempati rumahnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan yakni kotor, gelap dan minim air bersih. “Sementara mengungsi dulu, karena kami punya bayi. Semuanya habis terbawa arus, kalaupun ada barang yang bisa diselamatkan kondisinya penuh lumpur. Dapur kami juga hancur dan belum bisa diperbaiki,” ujar Komang Suardana.

Kondisi yang sama juga dialami Gusti Ngurah Putu Eka Santika yang merupakan tetangga Komang Suardana. Rumahnya juga masih tertutup lumpur tebal termasuk sumur air yang berada di pekarangan rumahnya. Diakui Eka, sejak dua hari terakhir, ia dibantu beberapa tetangga harus menguras sumur yang penuh lumpur tersebut agar airnya bisa dipakai sambil menunggu aliran air dari PDAM bisa tersambung lagi. “Sumurnya kami kuras, mudah-mudahan airnya segera bisa dipakai sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu pasangan suami istri Yulista dan Gunawan Wibisono warga lainnya yang juga menjadi korban berharap bisa segera kembali menempati rumahnya meskipun dengan kondisi seadanya. “Ibu mertua saya sebenarnya pingin pulang. Kami juga ingin masak di rumah agar lebih nyaman. Bersyukur tadi dapat bantuan kompor dan gas dari donatur,” ujarnya yang saat ditemui bersama suaminya kemarin sedang berusaha membersihkan rumah mereka sehingga bisa segera ditempati.

Mereka mengaku tidak mempermasalahkan tinggal dalam kondisi gelap-gelapan tanpa aliran listrik yang penting bisa di rumah. “Kami cuma butuh kasur dan bantal juga pakaian layak pakai. Karena semuanya hancur dan penuh lumpur,” terang Yuliata.

Sementara itu, Manager PLN Rayon Negara, Ida Bagus Respati mengatakan, hingga saat ini sejumlah rumah warga terdampak banjir bandang memang belum bisa dialiri listrik. Hal ini dikarenakan ada beberapa kerusakan pada instalasi listrik rumah warga yang terkena banjir bandang sehingga belum bisa dilakukan penyambungan listrik. “Sangat berisiko jika listrik tetap terpasang karena ada kerusakan instalasi. Apalagi warga masih melakukan pembersihan, sehingga kondisinya berbahaya bagi warga,” ujarnya.

Pihaknya lanjut Surya Respati akan kembali menghidupkan listrik jika nantinya semua instalasi listrik milik warga sudah dinyatakan aman. Dikonfirmasi terpisah Kepala BPBD Jembrana, I Ketut Eko Susilo Arta Permana mengatakan warga yang tidak bisa tinggal di rumahnya akibat terkena dampak banjir saat ini sudah berada di posko darurat di Balai Subak Banjar Bilukpoh. Dikatakan Eko, hingga saat ini terhitung sebanyak 55 KK yang tinggal di posko darurat tersebut.

(bx/tor/yes/JPR)