Pertama di Indonesia, 45 Menit Sampah Diolah Menjadi Listrik

PUBLIKSATU, SOLO – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta Mendekati ujung tahun 2018 mendapat kado, yakni terealisasinya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo. Kepastian ini setelah ditandatangani perjanjian jual beli listrik (PJBL) antara PT PLN dengan pelaksana proyek PLTSa Putri Cempo PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP).
Penandatanganan dilaksanakan di pendapa rumah dinas wali kota Loji Gandrung, kemarin (28/12). Disaksikan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo dan pejabat Kementerian Koordinator Kemaritiman, Solo menjadi kota pertama dari 12 kota di Indonesia yang bakal melaksanakan proyek strategis nasional pengelolaan sampah.
“Dengan ditandatanganinya perjanjian ini kami bisa langsung memulai pengolahan sampah sebesar 5 mega watts. Langkah awal adalah kita akan membangun infrastruktur,” ucap Direktur SCMPP Elan Suherlan.
Pembangunan infrastruktur diperkirakan menghabiskan waktu satu tahun. Setelah itu PLTSa Putri Cempo akan mulai beroperasi secara komersial. “Sesuai dengan rencana, paling lambat 28 Maret 2019 kami akan mulai bangun infrastruktur. Selesai maksimal 28 Maret 2020. Kontrak PJBL sendiri berakhir hingga 28 September 2041,” terangnya.
SCMPP menggunakan teknologi gasifikasi. Sebuah sistem yang diklaim pertama di Indonesia dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Menurutnya, metode gasifikasi telah digunakan bertahun-tahun untuk mengubah batubara menjadi gas sintetik. Gas sintetik itulah yang dapat dikonversi menjadi bentuk energi lain, salah satunya adalah energi listrik.
Proses dimulai dengan memilah sampah dari material yang tidak dapat diproses seperti kaca, logam dan beton. Setelah itu dimasukkan dalam reactor wet pyrolisisi untuk diolah menjadi slurry selama 45 menit dengan suhu 250 derajat celcius dan tekanan 23 Bar. Setelah itu dikeringkan dan dipress kemudian dicetak menjadi briket biochar sesuai dengan ukuran.
“Briket itulah yang menjadi bahan baku gasifikasi sampah untuk dikonversi menjadi energi listrik,” ujarnya.
Biochar yang dihasilkan dari proses ini akan memiliki nilai kalor sekitar 5.000 kkal/kilogram dengan kadar air 10 hingga 15 persen.
Sementara itu Asisten Deputi Infrastruktur Pertambangan dan Energi Kemenko Kemaritiman Yudi Prabangkara optimistis proyek PLTSa di Solo bakal diikuti kota lain di Indonesia. Pemerintah pusat mendorong daerah lain untuk mengelola sampah dengan baik demi masa depan lingkungan.
“Ini merupakan salah satu solusi dari persoalan besar lingkungan khususnya tentang pengelolaan sampah dengan benar. Tugas pemkot dan pemda hanya satu, yakni membangun dan mengolah sampahnya dengan baik,” katanya. (irw/bun)
(rs/din/rud/per/JPR)