Angin Puting Beliung Sapu Ratusan Rumah di Cirebon, Bayi Jadi Korban
Bagikan

PUBLIKSATU, Angin puting beliung menerjang kawasan Desa Panguragan Kulon dan sekitarnya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (30/12) sore. Akibatnya, ratusan rumah di desa tersebut mengalami porak-poranda tersapu hembusan angin kencang.
Kasie Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon, Eman Sulaeman mengatakan, peristiwa angin puting beliung menyapu wilayah Desa Panguragan itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB.
Diketahui, angin puting beliung itu terbentuk langsung dari daratan dari arah barat menuju timur. Akibatnya, tak sedikit warga setempat ketakutan melarikan diri. Bahkan, sejumlah warga mengalami luka akibat tertimpa material bangunan.
Peristiwa bencana alam itu, Eman menyebutkan tercatat sudah satu orang menjadi korban keganasan angin puting beliung. Korban merupakan seorang bayi berusia dua tahun, asal Blok Karang Moncol, Desa Panguragan Kulon.
"Keterangan sementara, sudah ada satu korban, yaitu bayi tiga tahun. Luka-luka cukup banyak. Kami belum mendata semuanya, ada ratusan rumah rusak. Kami masih di lokasi untuk mengevakuasi," ujarnya, Minggu (30/12).
Terpantau, angin meliuk-liuk kencang menyapu semua material yang dilewatinya. Atap-atap rumah milik pun berterbangan. Tak hanya itu, sejumlah bangunan baik rumah dan fasilitas publik seperti masjid dan sekolah rusak parah tak luput dari terjangan puting beliung.
Eman menyebutkan, data sementara baru dua desa di Kecamatan Panguragan yang terdampak angin puting beliung. Desa Panguragan Kulon dan sebagian Desa Kalianyar.
Eman menegaskan, selama beberapa hari terakhir cuaca di Cirebon kondisinya mendung berawan. Menurutnya, selama sepekan terakhir cuaca di wilayah Cirebon cukup tenang.
"Kemarin cuaca baik, hanya mendung-mendung saja. Kami imbau warga Cirebon selalu waspada dan berhati-hati. Segera berlindung bila cuaca mulai buruk disertai angin kencang," ujarnya.
Sementara seorang warga asal Desa Panguragan Kulon, Dian, 29, mengaku kaget saat detik-detik angin kencang menerjang kawasan tempat tinggalnya. Warga hanya bisa pasrah saat angin datang tiba-tiba.
"Cepat banget anginnya. Tiba-tiba langsung menerjang ke arah sini (rumah warga)," tuturnya.
(wiw/JPC)