Jubir PSI: Capres Diharapkan Paham Konstitusi Bukan Ayat Suci

PUBLIKSATU, Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia, Dedek Prayudi, menilai bahwa tes membaca Alquran tidak relevan dalam proses pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden. Politikus yang akrab disapa Uki ini menilai bahwa partainya sejak awal berpendirian bahwa ibadah adalah ranah personal, bukan untuk dipertontonkan sebagai alat dan syarat meraih suara.
PSI tetap konsisten bahwa tes membaca kitab suci agama apapun tidak relevan karena itu tidak termaktub di dalam konstitusi kita.
"Capres diharapkan membaca dan paham ayat-ayat konstitusi bukan ayat-ayat suci. Sedangkan agama adalah ranah personal, jauh lebih mulia dari sekadar alat meraih suara," ujar Uki dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Senin (31/12).
Uki menganggap bahwa ritme permainan politik identitas yang diterapkan Badan Pemenangan Nasional, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kini berbalik menyudutkan mereka. Ia menyindir beberapa pernyataan tim BPN yang bernuansa politisasi agama, di antaranya adalah yang diucapkan politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais.
Masih segar rasanya ketika Amien mengelompokkan koalisi partai politik dengan sebutan partai Allah dan partai setan. Juga beliau menganalogikan pilpres ini dengan perang agama, yakni perang badar dan perang uhud.
"Apalagi kalau kita bicara soal Capres Cawapres pilihan Ijtima Ulama yang seolah mewakili pilihan agama tertentu," katanya.
Sehingga seolah-olah mereka adalah barisan Tuhan, dan lawan politik mereka adalah musuh. Seolah-olah siapapun yang berseberangan pilihan politik dengan mereka maka akan mendapat ganjaran neraka. Tuhan jauh lebih mulia daripada sekadar juru kampanye mereka.
"Sekarang mereka kena batunya dan kelimpungan sendiri menghindari tantangan baca Alqur'an dari ulama Aceh. Publik bertanya-tanya kenapa calon yang katanya mewakili Islam baca Quran saja takut," ungkapnya.
Tapi sekali lagi kalaupun Prabowo tidak bisa baca Alquran tidak membatalkan pencalonannya sebagai capres. Karena di negara Pancasila ini tidak ada kewajiban colon presiden bisa baca ayat-ayat Alquran.
"Karena yang penting paham ayat-ayat konstitusi, punya visi, misi dan program kongkret untuk rakyat. Ini yang tidak dimiliki Pak Prabowo," pungkasnya.
(gwn/JPC)