Jelang Sumpua di Kamaru, Masyarakat Lasalimu Ziarah ke Togo, Intip Sepenggal Sejarahnnya

PUBLIKSATU, BUTON - Tradisi ziarah menjadi salah satu kebiasaan masyarakat rumpun adat Kamaru, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton menjelang perayaan syukuran hasil panen di wilayah itu.
Salah satunya adalah berziarah ke benteng peninggalan leluhur masyarakat adat, di desa Togomangura, Kecamatan Lasalimu Senin, (23/9/2019), menjelang pesta adat yang bakal berlangsung pada 25 September 2019.
Tujuan ziarah ini selain mendoakan keluarga mereka yang telah tiada, juga dimanfaatkan untuk merawat dan membersihkan makam dan sebuah situs benteng peninggalan tempo dulu yang berada di selatan desa Togomangura tepatnya dalam hutan adat desa setempat.
Benteng ini dapat ditempuh sekitar satu jam dari ibu kota Kecamatan Lasalimu, Kelurahan Kamaru. Akses menuju benteng ini salah satunya lewat jalan tani sebelum batas desa togomangura dan Suandala.
Saat memasuki jalanan itu, jalan itu tidak terlalu luas sehingga paling pas untuk sepeda motor. Ada simpangan jalan ketika melewati jalan ini, Namun keduanya sama-sama menuju benteng. Belok kekiri menjadi pilihan yang pas untuk para pengunjung
Nantinya jalan itu akan sampai di pintu masuk benteng. Meskipun begitu, masi memerlukan waktu sekitar 25 menit lagi, dengan jalan kaki sambil menelusuri hutan perbukitan barulah sampai ke benteng yang merupakan saksi sejarah perkembangan masyarakat rumpun kamaru.
Benteng itu masi alami. Belum ada petunjuk dan informasi disetiap situs. Didalam benteng ini terdapat bekas mesjid dan sejumlah pemakaman. Ada juga sebuah meriam.
Tak kalah menariknya, didalam areal benteng terdapat sebuah kuburan gantung dan goa yang konon memiliki tujuh ruangan. Untuk mengapai setiap satu ruangan harus melewati celah yang sempit.
Dilokasi ziarah, Ketua Lembaga Adat yang disebut Bonto Kamaru, La Raga menjelaskan hanya ada tiga pintu akses masuk didalam benteng ini. Ada lawana Lawele tepatnya bagian barat benteng, Lawana Kamaru, Bagian utara dan dan lawana Wasuamba tepat di berada di timur benteng.
"Lawana Lawele. Lawana Kamaru. Lawana Bonelalo," ujar dia kepada publiksatu.co.
Sementara itu, menurut penuturan ketua penyelenggaran pesta adat, Supardin S menjelaskan dalam kesempatan ini masyarakat adat sekaligus melakukan ziarah di makam Sultan Buton ke 5 yakni La Balawo yang terdapat dalam benteng.
Ia menjelaskan La Balawo pada saat itu berkuasa dari tahun 1617-1619. Ia dikenal juga sebagai Sultan Abdul Wahab. Masyatakat disini menyebutnya Sangia Watole.
"Sangia Watole, Nama kecilnya la Balaowao, Abdul Wahab. Tahun 1617-1619," ujarnya.
Ia menjelaskan tepat dibawa makam La Balawo terdapat makam Wa Ode Kolensusu. Sedangkan bagian selatan makam merupakan lokasi untuk tempat peristirahat.
Ia menyebutkan banyak aturan adat jika memasuki areal benteng ini. Misalnya saja, jika melewati kuburan tak boleh membelakangi dan berjalan lurus kedepan. Harus menyamping menghadap makam sembari berjalan.
Tidak hanya itu, ia bercerita, dahulu untuk melindungi masyarakat. Diluar benteng ditanami dengan rumput gatal. Masyarakat setempat menyebutnya Delato. (Cro2).