2020, Busel Targetkan Bebas Kasus Frambusia
Bagikan

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Sejumlah wilayah di Kabupaten Buton Selatan (Busel) pernah menjadi perhatian khusus akibat kasus frambusia. Penyakit ini menjadi perhatian Kementerian Kesehatan.
Tahun 2020 ini menjadi target eradikasi frambusia atau bebas dari penyakit menular tersebut.
Eradikasi Frambusia adalah upaya pembasmian yang dilakukan secara berkelanjutan untuk menghilangkan Frambusia secara permanen sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat secara nasional.
Plt Kadis Kesehatan Busel, La Ode Budiman mengatakan, beberapa kasus endemik frambusia menjadi perhatian khsusus pihaknya. Tahun ini survei serologi frambusia di Busel.
"Targetnya Busel akan eradikasi. Artinya sudah dilakukan dua tahun terakhir pemeriksaan darah usia 1-15 tahun," katanya.
Kata dia, dua tahun belakangan ini dari hasil pemeriksaan darah di Busel negatif semua untuk kasus frambusia. "Kita negatif maka kita bisa mengusulkan mendapatkan sertifikat bebas frambusia," katanya ketika ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Dua tahun lalu ada kasus frambusia di Busel di Kecamatan Batuatas dan Kadatua.
Ia menjelaskan, kasus frambusia ini sebenarnya bermula dari perilaku hidup bersih. Sedikit beruntung saat ini pertama Busel sudah UHC atau ketika masyarakat berobat itu sudah mendapatkan kartu jaminanya. Tidak lagi mengeluarkan uang.
Kedua Busel sudah tidak ada daerah terisolir. Antara desa dengan desa satunya sudah terakses. Infrastrukturnya juga sudah terus berbenah. Di Batuatas mulai membaik. Artinya tadinya tiap minggu dua kali, ini sudah ada tim.
Dikatakan, masalah sanitasi, sumber air bersih juga sudah ada. Tinggal prilaku hidup bersih masih menjadi tantangan bersama. "Tinggal digencarkan sosialisasi perilaku hidup sehat di kalangan masyarakat kita," harapnya.
Pekan lalu pihaknya sudah melakukan tata cara pengambilan sampel darah. Berikutnya akan turun lapangan sampai pada sasaran.
"Kalau ternyata nanti pada hasil surveinya maka kita sudah bisa mengusulkan sertifkat untuk bebas frambusia di Busel. Mudah-mudahan sudah tidak ada kasus frambusia di Busel," harapnya.
Seperti diketahui kasus penyakit frambusia ini diakibatkan karena sanitasi air bersih yang berbakteri. Kondisi ini hampir terjadi ditemukan kasus masyarakat di Kepulauan Batuatas dan Kadatua. Penyebaran penyakit frambusia ini melalui bakteri air bersih yang prosesnya hampir sama dengan HIV/Aids.
Untuk di Kecamatan Batuatas dan Kadatua, ini sudah diberikan pencegahan sejak 2016 lalu dengan memberikan pengobatan antibiotik pencegahan secara massal kepada masyarakat di wilayah tersebut.
Bisa dikatakan bebas bakteri frambusia di tubuh penderita jika tiga tahun berturut-turut tidak lagi ditemukan kasus yang sama.
Ciri penyakit frambusia seperti penyakit kulit yang mudah menular dengan ditandai gejala bintik-bintik kecil pada kulit yang letaknya berdekatan, setelah matang bintik-bintik tersebut merekah dan mengeluarkan nanah. Penyakit ini timbul akibat air bersih yang berkuman dan tidak sehat.
Dari data dihimpun media ini kasus penyakit frambusia di Busel sejak tahun 2010, 2011 sudah tidak ditemukan lagi. Namun ditahun 2012 terdapat kasus frambusia di wilayah Puskesmas Kadatua, jumlah pengobatan 2 orang.Sedangkan yang kena kontak langsung lima orang. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan kasus di wilayah itu dengan penderita enam orang, yang terjangkit atau kontak lima orang.
Setelah pemekaran Busel 2014 lalu, kasus frambusia tidak ditemukan. Namun tahun 2015 kembali ada dengan jumlah penderita 2 orang di wilayah Puskesmas Batuatas, satu orang di Desa Tolando Jaya dan satu orang di Desa Wambongi.
Setelah dilakukan pemberian obat pencegahan massal di tahun 2016 sampai dengan April 2017 lalu, kasus frambusia tidak lagi ditemukan.
Kini Busel masuk eradikasi frambusia. Ditargetkan tahun 2020 Busel bebas kasus frambusia. (aga)