Berita Terkini
Busel

Kekurangan Gizi Tinggi, Locus Stanting di Busel

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 14 Oktober 2019 15:40 WIB · 3 menit baca
Kekurangan Gizi Tinggi, Locus Stanting di Busel
La Ode Budiman

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Sebagai upaya penanganan permasalahan stunting di Indonesia. Dari 17 kabupaten/kota di Sultra. Tiga kabupaten menjadi locus stanting, salah satunya sasaranya di Kabupaten Buton Selatan (Busel).

Persoalan penanganan kekurangan gizi ini akan menjadi fokus perhatian Pemkab melalui dinas kesehatan Busel tahun 2020 mendatang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memastikan kesiapan dan implementasi rencana aksi intervensi spesifik dan sensitif di lokus prioritas stunting.

Monitoring dan Evaluasi terpadu ini dilaksanakan untuk penurunan angka stunting, dari pemetaan dan riset terdapat beberapa tempat yang didapati angka stunting yang signifikan salah satunya Kabupaten Busel.

"Sasaran locus stanting kekurangan gizi ini di Kabupaten Busel. Karena kita masih banyak masalah kekurangan gizi. Dari sampel survei di Busel sangat besar kasusnya. Dari jumlah sekian ribu yang liat sasaran itu Busel sangat besar," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Busel La Ode Budiman ketika ditemui di ruang kerjanya.

Sayangnya, Budiman enggan menyebutkan angka detail kekurangan gizi buruk di Kabupaten Busel.

Kata dia, tahun 2020 nanti locus stanting persoalan gizi. Karena ini program nasional dan dari 17 Kabupaten/kota di Sultra ini tahun 2020 tiga kabupaten lokus stanting persoalan gizi termaksud Kabupaten Busel.

"Kekurangan gizi di Busel ini menyebar hampir seluruh Busel. Namun yang tertinggi termaksud wilayah Siompu dan Siompu Barat," katanya.

Ia menjelaskan, permasalahan gizi ini tidak hanya menjadi tanggungjawab dinas kesehatan. Namun lintas sektor. Karena indikatornya ada dua.

Indikatornya, kata dia, yakni secara spesifik dan sensitif. Peran spesifik itu ada di Dinas Kesehatan 30 persen bisa menyelesaikan. Tapi 70 persenya adalah indikator sensitif tadi. Angka 70 persen itu semua OPD ikut terlibat dengan pesoalan gizi. Termaksud kementrian agama, ketahanan pangan, pertanian, perikanan. Kerena masalah asupan gizi.

"Ketersediaan pangan yang ada didaerah. Kalau kita di bidang kesehatan kita melihatmya dari sisi pelayanan. Mulai saat hamil sudah dilakukan kontrol sampai melahirkan dilanjutkan hingga dengan usia dua tahun anak tersebut. Karena ini periode emas 1000 hari pertama kehidupan. Ini yang kami jaga," terangnya.

Ia menjelaskan, pada saat hamil pihaknya sudah memantau pertumbuhan ibu hamilnya, masa kehamilan tiga bulan harus diperiksa. "Jadi kedepanya kita 2020 fokus skala prioritas peningkatan status gizi," ujarnya.

Ia menambahkan, karena status gizi ini periode emas generasi masa depan kita. Kalau gizinya sudah bagus maka insya Allah generasi masa depan akan bagus. Karena apapun bisa dicapai.

"Tapi tidak melupakan program yang sudah dilakukan juga saat ini," jelasnya.

Dalam upaya penanggulangan penanganan stunting Kementerian Kesehatan telah menyusun rencana aksi intervensi secara holistik integratif yang melibatkan seluruh program terkait. Agar implementasi rencana aksi tersebut berjalan dengan baik, memerlukan koordinasi dan peran aktif serta monitoring dan evaluasi progam di pusat, provinsi, kabupaten dan Puskesmas.

Program penurunan stunting ini tidak bisa berjalan sendiri, semua dinas harus bergerak, pemerintah daerah juga lebih fokus untuk upaya investasi masa depan dan jangka panjang.

Terkait adanya angka gizi buruk stunting perlu adanya upaya pengukuran yang jelas sehingga harapannya tidak ada lagi kasus stunting khususnya di Busel. Salah satu upaya yang dapat di lakukan untuk menurunkan prevalensi stunting adalah melakukan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Untuk intervensi gizi spesifik dilakukan melalui pemberian Tablet Tambah Darah dan promosi serta suplemen gizi makro dan mikro. Selain itu juga dilakukan penatalaksanaan gizi kurang/buruk, pemberian obat cacing dan zinc untuk manajemen diare.

Intervensi ini disusun berdasarkan siklus hidup. Sedangkan untuk intervensi gizi sensitif dilakukan melalui pemantauan tumbuh kembang, penyediaan air bersih, pendidikan gizi, imunisasi, pengendalian penyakit, penyediaan jaminan kesehatan, Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, Nusantara Sehat, serta akreditasi Puskesmas dan rumah sakit. (aga)