Berita Terkini
Nasional

Wartawan Antara: Media Massa Tidak Selalu Netral, Bisa Kena Pengaruh

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Selasa, 15 Oktober 2019 00:54 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Wartawan Antara: Media Massa Tidak Selalu Netral, Bisa Kena Pengaruh

PUBLIKSATU, Selain kasus dugaan tipikor, pengadaan kapal Sumekar III dan masalah infrastruktur maupun listrik di kepulauan dinilai layak diberitakan. Termasuk, pilkades dan dinamika di kantor legislatif.

Sederet topik itu, terungkap saat digelar diskusi bertajuk "Analisis Konten Media: Demam Ecek-Ecek dan Hegemoni Oligarki di Tanah Sumekar" pada Sabtu malam (12/10).

Abd. Aziz, ketua PWI Pamekasan yang menjadi narasumber menuturkan, konten media merefleksikan realitas. "Tapi, realitas tersebut tersaji dari hasil kompromi pihak penjual informasi kepada media dan pembelinya," ujarnya.

Jurnalis LKBN Antara itu lalu mengajak peserta diskusi untuk membaca teori Lasswell dan Pamela J. Shoemaker tentang The Mirror Aproach dan The Null Effect Approach.

Dijelaskan, media bisa dipengaruhi ideologi tertentu dan dipengaruhi individu si pewarta. Termasuk, dipengaruhi atasan si pewarta, extra media level dan media routines level.

"Media ecek-ecek bisa diukur lewat barometer analisis Alexa. Dalam KBBI, kata ecek-ecek berarti tidak sungguh-sungguh. Jadi, pengelolaan media yang tidak profesional dapat dimaknai sebagai media ecek-ecek," tegasnya.

Narasumber lainnya, Moh. Rifai, menambahkan, media-media yang profesional dan berintegritas di Sumenep tidak menulis soal status facebook dan ecek-ecek.

"Perhatikan Radar Madura, Kabar Madura, Kompas Group, Surya, Antara, dan media lainnya. Tidak satupun menulis status facebook. Sebab, tidak berdampak positif terhadap masyarakat luas," ujarnya.

Penasehat PWI Sumenep itu mengungkapkan, saat ini banyak wartawan dadakan. Mereka minus kompetensi karena tidak memiliki pengetahuan tentang jurnalisme dan tidak tahu kode etik.

"Banyak wartawan merangkap LSM, pengacara bahkan preman. Perusahaan medianya tidak memenuhi standar Undang-Undang. Kantornya seatap dengan LSM, kontraktor dan ada yang seruangan dengan toko," ungkapnya.

Sementara itu, Rudi Hartono, salah satu wartawan yang menjadi korban pelecehan oknum karyawan RSI Kalianget menyampaikan keluh kesahnya.

"Teman-teman wartawan di Sumenep seharusnya tidak terima, tersinggung dan sakit hati bila profesi wartawan dikatakan banci atau wartawan nol kecil. Tapi, hal itu tidak dipersoalkan teman-teman wartawan," sesalnya.

Diskusi yang dipandu dosen IAIN Madura Sulaisi Abdurrazaq itu, tidak hanya dihadiri insan pers. Tapi, juga diikuti perwakilan pengurus LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan aktifis mahasiswa. (radarmadura/jp)

Bagikan