La Bakry Komitmen Tingkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Buton

PUBLIKSATU, BUTON - Pemerintah Kabupaten Buton dibawah kepemimpinan La Bakry berkomitmen untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di daerahnya.
"Misi kita yang paling utama adalah bagaimana meningkatkan IPM di Kabupaten Buton," ujar Bupati Buton dalam Raker Dinas Pendidikan di pelataran pelabuhan Desa Nambo, Kecamatan Lasalimu baru-baru ini.
La Bakry menyebutkan meskipun ada peningkatan, IPM Kabupaten Buton masih tergolong rendah di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, ada beberapa indikator yang menyebabkan rendah IPM tersebut. Salah satunya, rata-rata lama sekolah penduduk.
Berdasarkan hasil pendataan instansi terkait, lama usia sekolah di Buton hanya menghabiskan waktu selama tujuh tahun. Padahal, menurut La Bakry setiap anak yang menamatkan sekolah dasar di Buton rata-rata menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Oleh itu, Bupati Buton tidak yakin dengan sajian data itu. Sebab, ada logika yang ia tidak terima. Pasalnya, sekolah di Buton semua sudah dimudahkan. Sekolah gratis dan sarana sekolah telah didekatkan kepada masyarakat melalui sekolah satu atap.
"Ini kalau kita dibilang pendidikan kita lama tujuh tahun saya tidak yakin! Bagaimana caranya itu data dia masuk di instansi yang terkait? Atau jangan-jangan kita punya dinas ini masih datanya tidak benar. Cobah dilihat lagi persekolah. Kan sudah ada di dinas to? Ada. Ada logika yang belum bisa saya terima," tegas La Bakry.
La Bakry menjelaskan semestinya lama sekolah di Kabupaten Buton rata-rata 12 tahun. Menurutnya, Hal ini dikarenakan setiap lulusan SD selalu beranjak masuk di pendidikan SMP begitupun SMP jika lulus pasti menempuh pendidikan SMA.
"Tidak ada lagi itu anak-anak lulus SD dan dia tidak masuk SMP. Atau selama SMP baru satu tahun dia sekolah terus gagal dia. Drop out. Semiskin-miskinnya kita punya masyarakat di Kabupaten Buton pasti dia dorong anaknya untuk sekolah. Semiskin-miskinnya dia," terang La Bakry.
Menurut Bupati, hanya ada tiga kategori dalam penilaian IMP. Diantaranya, Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi.
Nanti kesehatan kita bicara sendiri lagi nanti untuk kesehatan. Karena yang dinilai IPM itu hanya tiga. Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi.
"Jadi orang Indonesia itu otaknya cerdas, badannya sehat, kantongnya penuh. Maka tiga kriteria itu diambil. Tentu untuk menyebabkan kita bisa mencapai itu tidak mudah. Tetetapi saya yakin. Tidak dicapai satu dua orang tetapi kerja bersama-sama," ujarnya.
Selain lama sekolah, ada juga kualitas pendidikan. Nah, kualitas ini menurut La Bakry menjadi kerja keras semua.
"Kualitas itu kalau sekolah dan gurunya itu di ibaratkan pabrik dan mesin-mesin pengolah sumber daya manusia,maka tentu yang paling penting selain memang bahan baku dari anak-anak, dari orang tua, dari keluarga tetapi tergantung prosesinya, kalau sekolah dan guru-gurunya itu pabrik dan mesin. Tergantung pabrik dan mesinnya," terangnya. (Cro2)