Dirjen Hortikultura: Persiapan HPS Capai 90 Persen

PUBLIKSATU, KENDARI - Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) merupakan momentum terbaik. Karena tidak hanya diperingati di Indonesia, namun seluruh anggota PBB ikut berpartisipasi. Saat ini Sulawesi Tenggara (Sultra) ditunjuk sebagai tuan rumah dalam rangka perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang ke-39.
Persiapannya hingga kini sudan mencapai 90 persen. Dimana pendirian Food and Agriculture Organization atau FAO dalam konferensi 1943, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. HPS tahun ini mengusung tema internasional, "Our Actions are Our Future, Healthy Diets for #ZeroHunger World." dan tema nasional adalah “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”.
Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa tema ini tentunya sejalan dengan strategi pembangunan pertanian. Kementerian Pertanian 2015-2019, yaitu menjadikan pangan sebagai basis produksi dan ekspor melalui penyediaan bahan baku bio industri.
"Untuk kesiapan pelaksanaan Hari Puncak Kegiatan HPS di Sulawesi Tenggara sudah mencapai 90 persen, baik dari kesiapan lokasi maupun kesiapan pelaksanaan. Saat ini peserta daerah yang sudah konfirmasi kurang lebih 2.500 orang, terdiri dari 34 provinsi diantaranya dihadiri 15 orang Gubernur, tiga Wakil Gubernur dan 57 Bupati/Walikota yang hadir bersama para petugas, KTNA, petani dari wilayahnya masing-masing," ungkapnya.
Lanjutnya, kegiatan tersebut juga akan dihadiri 14 Duta Besar Negara Sahabat, enam organisasi internasional yang dirangkaikan dengan acara Diplomatic Tour dengan melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Labela, Kecamatan Besilutu, Kabupaten Konawe. Dimana ini menjadi kebanggaan dan penghargaan bagi masyarakat Sultra untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan HPS ke-39 oleh karena itu diperlukan kekompakan dan kerjasama yang solid dalam menyukseskan acara tersebut.
"Puncak acara dilaksanakan pada tanggal 2 Nopember 2019 dengan menampilkan komoditas utama yaitu kakao dan sagu. Karena Kakao ini kita punya 1,7 juta hektar. Di Sulawesi ada 1 juta hektare, di Sulawesi Tenggara sendiri ada kurang lebih 260 ribu hektar dan Produktivitasnya masih rendah, sehingga ini yang menjadi tantangan kita untuk menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitasnya,” jelas Prihasto.
Dirjen yang akrab dipanggil Anton menyebutkan HPS kali ini juga menjadi momen kebangkitan sagu. Karena sagu merupakan komoditas sumber karbohidrat pangan alternatif masa kedepan, apalagi sagu berada di Sulawesi Tenggara. Dimana Sagu merupakan salah satu tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim. Berbeda dengan tanaman sumber pangan lainnya yang mudah terpengaruh perubahan iklim, artinya kebutuhan akan pangan utama bisa diperoleh dari komoditas ini.
"Tinggal kita perlu perhatikan teknologi pasca panennya karena sagu sangat potensial, bukan hanya berada Sulawesi Tenggara namun juga berada di Papua, Maluku, Sumatera dan Kalimantan itu luar biasa. Negeri Indonesia kaya akan aneka macam pangan sagu dan ini adalah kearifan lokal yang kita miliki dan prospektif, buang mindset bahwa sagu hanya menjadi masakan orang Timur. Karena berbicara mengenai lumbung pangan dunia, jangan hanya berbicara beras, akan tetapi sagu, ubi, jagung bahkan sukun dan akan disajikan menjadi aneka olahan sagu menjadi berbagai jenis olahan makanan pada HPS," tandasnya.
Anton menambahkan bahwa penyelenggaran HPS tahun ini akan memberikan manfaat yang luar biasa, karena di lokasi acara puncak pelaksanaan HPS terdapat beberapa gelar teknologi yang tentunya bisa menjadi referensi bagi para petani mengembangkan teknologi tepat guna. Selain itu, terdapat rangkaian kegiatan berupa seminar temu bisnis, pameran dan aneka lomba yang berguna bagi petani dan masyarakat umum. Serta akan ada kegiatan festival pangan lokal yang menampilkan produk komersial yang berbahan baku pangan lokal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.
"Saya berharap agar pelaksanaan HPS tahun 2019 ini dapat digunakan sebagai ajang promosi sarana produksi, benih, sarana pengendalian OPT ramah lingkungan, alat dan mesin pertanian, aneka teknologi terkini beserta produk segar dan olahannya. Juga sebagai sarana bersatunya semua pemangku kepentingan termasuk pelaku usaha pertanian untuk bersama-sama meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor serta peningkatan kesejahteraan petani. Juga melalui HPS diharapkan dapat mendorong dan menjaring investasi pertanian di dalam dan luar negeri," pungkasnya. (m1)