Berita Terkini
Sultra

Lebih Dekat dengan Senator Sultra, Amirul Tamim (1)

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 31 Oktober 2019 14:59 WIB · 6 menit baca
Lebih Dekat dengan Senator Sultra, Amirul Tamim (1)
MZ Amirul Tamim. FOTO: publiksatu.co

SATU periode berada di DPR RI, Dr H MZ Amirul Tamim MSi kembali masuk Senayan. Hanya saja kali ini sebagai anggota DPD. Apa perannya sebagai senator? Berikut petikan wawancara wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu kepada mantan Wali Kota Baubau dua periode ini.

--Bagaimana peran bapak setelah kembali ke Senayan namun dengan amanah yang berbeda sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sultra?

Kita tahu bahwa DPD konten optimalnya sebagai wakil daerah, dari 34 propinsi. Anggotanya tiap propinsi empat orang.

Sesuai putusaan MK, tugas DPD tidak jauh beda dengan DPR, punya tugas pengawasan, legislasi, dan termasuk anggaran. Tetapi tentu dalam kondisi yang tida berbeda itu, tapi Kita tahu fungsi legislasi yang paling besar ada di DPR dan pemerintah.

Kaitannya dengan kapasitas saya sebagai wakil Sultra yang ada di DPD, disana empat komite. Komite I bidang pemerintahan, Komite II, infrastruktur, sarana dan prasarana. Komite III, pendidikan dan sosial. Komite IV, bidang keuangan.

Kami sepakat dari empat senator Sultra, saya sebagai dianggap senior dari tiga senator lainnya, tentu meminta bagaimana pembagian komite-komite diserahkan ke senator. Pada waktu itu sebagai senior saya menyerahkan kepada teman-teman lain, silahkan memilih komite sesuai dengan kapasitas yang dimiliki atau diidam-idamkan ketika mereka maju sebagai anggota DPD. Dipilihlah Komite I, II, dan III dari masing-masing teman-teman itu. Yang tidak dipilih Komite IV bidang keaungan. Saya disitu.

Tentu tugasnya juga tidak kecil, terkait bidang keuangan khususnya terkait tranfser daerah, di dalamnya ada dana desa. Bagaimana efektifnya. Juga terkait peran-peran perbankan dalam memberikan permodalan agar masyarakat daerah bisa memperolehnya.

Karena mitra Komite IV, selain Menteri Keuangan, Bank Indonesia, OJK, Statistik, pengawasan BPK, BPKP jadi hampir sama mitranya dengan ketika saya ada di Komisi XI DPR RI. Jadi ini bisa membantu peran-peran khususnya dalam memberikan kontribusi terkait pembangunan daerah.

--Secara teknis peran apa yang dimainkan membantu daerah dalam kaitannya di Komite IV untuk Sultra?

Yang tentu urgensinya terkait pelaksanaan APBN 2020 karena sudah diketuk oleh DPR, dimana pada waktu itu saya ada di DPR. Besaran transfer daerah sudah teralokasi dalam APBN 2020.

Langkah lebih lanjut bagaimana efektivitasnya, kita memberikan dukungan apa yang sasaran 2020 terhadap daerah dan lebih khusus bagi kami untuk melihat Sultra, pemanfaatan dana transfer.

Ini akan menjadi bahan pengawasan, kemudian juga kita tahu ada peran-peran Pemerintah Pusat terkait pembangunan daerah, nanti kita bisa memediasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah untuk kepentingan daerah.

Lebih jauh dari itu ada tantangan-tantangan kita ke depan, tidak lepas dari kondisi perekonomian global yang nanti berdampak secara nasional dan berimplikasi terhadap ekonomi daerah. Inilah kita yang akan menjadikan konsen, kalaupun terjadi daerah tidak berdampak besar. Khususnya bagi Sultra.

Kedua, kita bisa mendengungkan dengan kabinet yang telah diumumkan oleh presiden, bagaimana pemerintah bekerja untuk percepatan pembangunan nasional. Kita harus bisa ikut di dalamnya untuk memacu daerah dengan keunggulannya. Ini bukan pekerjaan ringan, tapi memerlukan kejelian bagaimana peran-peran kita untuk membangun komunikasi di daerah, dengan berbagai stakeholder yang ada.

--Apa jurus yang diambil pemerintah daerah di Sultra untuk menghadapi tantangan global dan merealisasikan APBN 2020?

Itulah saya mengajak teman-teman senator dari Sultra dan kita juga sampaikan dalam forum-forum di DPD untuk mengefektifkan peran DPD, maka langkah pertama yang kita lakukan memetakan permasalahan di daerah.

Bagi saya sebagai wakil dari Sultra, pemetaan sementara ada empat hal. Pertama, melihat permasalahan-permasalahan di bidang pertanian. Karena Sultra salah satu kekuatannya di bidang pertanian dalam arti pangan, perkebunan, dan hasil-hasil pertanian lainnya. Kita punya keunggulan sebenarnya.

Bagaimana mengupayakan agar bisa berswasembada pangan dengan keragaman pangan Sultra, ada sagu, ubi, jagung, pisang, dan ini bagian yang memberikan kekuatan di sektor pangan bagi kita selain padi dan potensi lainnya.

Persoalannya, infrastruktur pendukung pertanian, harus menjadi PR kita untuk memberikan ruang yang besar bagi petani. Agar mereka konsentrasi terhadap sektor yang digelutinya, kemudian dukungan infrastruktur terhadapnya agar hasil pertanian dapat terjangkau, terdistribusi kepada wilayah-wilayah yang memerlukan pangan.

Kedua, sektor perikanan dan kelautan, kita punya luas laut Sultra lebih luas dari daratan, sementara hampir semua bibir-bibir pantai dihuni masyarakat nelayan. Komuditas andalan nasional sebenarnya disektor kelauatan dan perikanan, devisanya tidak kecil. Kemudian kalau kita ingin jadikan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dalam tanda kutip, bagaimana hasil-hasil tangkapanya orientasi pasarnya di daerah Jawa, kalau kita perankan secara baik bisa memberikan dukungan ekonomi masyarakat nelayan kita.

Persoalannya juga terkait infrastruktur, fasilitas pendukung katakanlah bagaimana menjaga mutu tangkapan nelayan seperti es, pabrik es, cold storage, kemudian fasilitas pendukung seperti dermaga perikanan dan bagaimana dengan alat-alat tangkap yang dimiliki masyarakat. Harus diberikan fasilitas dan dukungan sehingga produktivitas hasil tangkapan positif.

Sektor lain, sektor pariwisata, 17 kabupaten/kota di Sultra mempunyai obyek potensi pariwisata yang tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Indonesia maupun dunia. Persoalannya, talenta masyarakat. Talenta kita dibidang pertanian dan kelautan sudah ada, tapi talenta disektor parwisata masih terbatas.

Bisa dilihat dari siapa yang memainkan peran disektor pariwisata belum didominasi figur lokal Sultra yang memiliki aset terhadap potensi. Mungkin ini harus kita dorong bersama-sama agar lima tahun ke depan lebih memperluas talenta di sektor pariwisata.

Kemudian yang lain, bagaimana kita menyiapkan SDM, tapi tidak kalah pentingnya karena kita punya areal mineral tambang dan lain sebagainya cukup besar. Hampir semua daerah di Sultra memiliki potensi sumber daya alam sektor pertambangan.

Ini yang harus dapat kita wariskan pada generasi Sultra agar jadi tuan rumah dalam pengelolaan mineralnya. Kita dorong agar sektor pendidikan menjadi perhatian bagi semua, baik orang tua, masyarakat, termasuk pemerintah dan

stakeholder yang bergelut disitu untuk bisa bersama-sama membuka wawasan bahwa tidak kalah pentingnya menyiapkan SDM disektor unggulan daerah kita, khususnya di bidang pertambangan.

Empat hal itu menurut hemat saya yang perlu kita petakan secara bertahap, mungkin tidak bisa sekaligus, tapi kalau itu kita konsen, saya kira secara bertahap daerah kita akan mempunyai keunggulan yang tidak kalah dengan keunggulan daerah lain.

Selain itu, kita juga punya posisi secara geografis berada di kaki depan Sulawesi, ada masa depan global di Asia Pasifik.

Kalau kita memainkan peran secara geografis, letak geografis, saya kira kita bisa menyiapkan menjemput masa depan dengan membangun empat sektor itu termasuk menyiapkan SDM sesuai potensi, kita berada di kaki depan Pulau Sulawesi diapit ALKI II dan III.

Secara global dalam konteks sebagai negara maritim kita bisa menyiapkannya. Sebagai wakil daerah di DPD kita bisa menyuarakan dan memediasi. Kita harus punya semangat yang sama membuka diri agar masalah daerah bisa dipecahkan bersama-sama.

--Sultra punya pengaruh dalam dimensi nasional dan global, bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat agar potensi yang mereka miliki disadari sebagai kekuatan?

Kita berharap dengan kabinet yang baru dengan Menteri Pendidikan yang mempunyai kualifikasi tersendiri yang dipercaya presiden bisa melihat peta untuk bagaimana menyiapkan SDM, apalagi kita tahu bahwa Pak Jokowi pada periode ini fokus untuk meningkatkan prioritas penyiapan SDM.

Mengkaitkan antara masalah daerah yang kita butuhkan SDM. Salah satunya sektor pendidikan, mengawinkan dengan peran pemerintah terkait konsep pendidikan, sekaligus menyadarkan masyarakat untuk meningkatkan kompetensinya melalui pendidikan kejuruan yang siap kerja, siap menggali potensi daerah.

Ini yang perlu kita lakukan, sehingga nanti dengan kesiapan tenaga kerja, potensi lapangan kerja yang kita miliki, potensi sumber daya alam yang kita miliki, letak geografis yang kita punya keunggulan, bisa menarik investasi. Tanpa investasi akan lambat.

Sehingga Sultra jadi daerah terbuka, salah satu media untuk jadi daerah terbuka, kesiapan data terkait potensi plus pariwisata yang kita miliki memberikan keyakinan pelancong sebagai turis, sekaligus bisa melihat potensi sehingga punya peluang berinvestasi.(bersambung)