Pemda Kolaka Ajak USN Bangun Komunikasi, Terkait Pengaspalan Jalan di Kampus Baru Popalia

PUBLIKSATU, KOLAKA - Sejak awal Pemda Kabupaten Kolaka telah membuktikan dukungannya terhadap pembangunan dan perkembangan kampus Universitas Sembilanbelas November (USN) di Kolaka. Salah satu dukungan itu termasuk pembangunan ruas jalan di sekitar kampus USN di Desa Popalia, kecamatan Tanggetada, tempat kampus baru USN berdiri.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum kabupaten Kolaka Abbas Nuhung mengungkapkan dukungan terhadap pembangunan dan perkembagan USN mulai terlihat pada tahun 2016 dimana pengaspalan jalan mulai dilakukan meski capaiannya beragam antara 1,5 dan 2 Km per tahun.
Pengaspalan jalan secara bertahap itu terpaksa diterapkan karena keterbatasan anggaran. Sementara masyarakat di wilayah lain juga mengharapkan daerah mereka tersentuh program pembuatan dan pengaspalan jalan.
Karena banyaknya tuntutan masyarakat yang menginginkan jalan di wilayahnya diaspal, sementara dana yang ada tidak mampu memenuhi semua itu, maka satu-satunya jalan yang dirasa adil oleh Pemda adalah menetapkan prioritas berdasarkan program jangka panjang, 2 kilometer per kecamatan per tahun.
“Kita punya program tahunan dua kilometer per kecamatan satu tahun sehingga dua kilometer itu itulah yang dibagi yang mana prioritas. Tahun 2016 kita tuntaskan itu sekitar (kampus) USN tahun, 2017 kita tidak laksanakan lagi karena ada juga kepentingan lain di wilayah itu dimana ada pembangunan akses bandara karena kita anggap itu juga prioritas,” ungkap Abbas yang ditemui usai menghadiri rapat pertemuan dengan perwakilan mahasiswa USN yang menggelar aksi unjuk rasa di kantor bupati Kolaka, Jumat (15/11).
Ditambahkan Abbas, pada tahun 2018 Pemda Kolaka kembali mengaspal ruas jalan di sekitar kampus USN sepanjag 1 Km. Karena sudah mendapat “jatah” pengaspalan tahun 2018 maka tahun 2019 tidak ada lagi pengaspalan karena ada prioritas lain dalam wilayah kecamatan yang sama.
Dalam tahun anggaran 2020 tambah Abbas, Pemda Kolaka sudah mengusulkan penganggaran ke pemerintah pusat melalui sistem informasi perencanaan KRISNA Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun dari Rp 36 miliar yang diusulkan namun kabupaten Kolaka hanya mendapatkan jatah Rp 12 miliar.
Dengan kenyataan tersebut lanjut Abbas, Pemda Kolaka terpaksa harus merelakan beberapa usulan proyek prioritas yang dibiayai DAK terancam tidak bisa dikerjakan dalam tahun anggaran 2020 mendatang karena keterbatasan anggaran.
“Makanya kita seharusnya perlu ada komunikasi intensif antara pihak USN dengan Pemda agar sama-sama kita memikirkan ini. Insya Allah kita akan berjuang dan mudah-mudahan paling tidak di APBD perubahan 2020 kita kasih masuk. Disitu ada keterlibatan DPRD kita (Pemda) hanya memberi verifikasi terkait tingkatan kepentingannya dan DPRD menyetujui. Pasti ada jalan. Yang terpenting komunikasi dibangun. Jangan sedikit-sedikit sudah di Medsos. Itu sama saja mencoreng kita punya daerah padahal masih bisa kita komunikasikan,” tegas Abbas.
Sebelumnya sekira pukul 09.10 wita puluhan mahasiswa USN Kolaka menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor bupati Kolaka. Unjuk rasa yang diwarnai orasi dan aksi bakar ban bekas di depan pintu masuk kantor bupati Kolaka itu dikoordinir Jayadi, salah seorang aktivis mahasiswa USN.
Dalam orasinya Jayadi dan beberapa rekannya mempertanyakan itikad Pemda Kolaka menuntaskan pengaspalan jalan di desa Popalia, terutama jalan yang selama ini menjadi akses utama mahasisawa dan pegawai USN menuju kampus mereka.
Beberapa hari sebelumnya Azhari, rektor USN Kolaka menyindir pihak tertentu dalam lama status facebook yang dinilainya tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan mahasiswa USN di kampus baru Popalia, kecamatan Tanggetada. Meski tidak menyebut nama maupun institusi dalam status facebooknya itu namun beberapa kalangan meyakini sindiran tersebut ditujukan kepada Pemda dan Bupati Kolaka Kolaka Ahmad Safei yang selama ini selalu disebutnya “saudara” dalam beberapa kesempatan.
“Sy tidak mengeluhkan urusan diriku wahai saudaraku di Kolaka. Sy hanya kasihan anak-anak saya mendapatkan jalan yang tidak layak. USN ini kita bangun utk daerah dan bangsa tapi coba tanya daerah lain bagaimana mengurus peralihan status Pemda, semua turun tangan. USN kita terima beres kenapa hanya jalan anggaran tiga miliar begitu berat. Atau berikan kami rekomendasi biar kami upayakan sendiri civitas USN bangun. Saya tidak mau anak-anak saya demo hanya untuk ego dua miliaran. Saya tidak mau anak-anak saya menjadi korban yang tidak berguna. Pak presiden, pak menteri kami akan bersurat, tolong kami korban ego politik lokal. Malu sekali bicara begini tapi saya tidak bisa lihat mahasiswa dan stafku celaka terus di jalan itu,” tulis Azhari.
“Kalian jahat tidak pantas jadi pemimpin. Kalau benci saya silahkan tapi jangan sakiti anak-anak mahasiswaku dengan kewenangan yang ada pada kalian,” kata Azhari dalam statusnya itu.
Tidak butuh waktu lama, status facebook milik Azhari itu langsung menyebar luas dan menjadi pembahasan ditengah masyarakat, bahkan hingga ke Kolaka Utara dan Kolaka Timur. Berbagai tanggapan pro dan kontra pun langsung bermunculan di tengah masyarakat.
Untuk diketahui, hubungan kurang harmonis antara bupati dengan rektor USN Kolaka telah berlangsung cukup lama. Ketidakharmonisan antara bupati dan rektor USN itu bahkan semakin memburuk dalam dua tahun terakhir, dan itu sudah menjadi “pengetahuan” umum di masyarakat.
Makin memburuknya hubungan antara kedua tokoh di kabupaten Kolaka itu salah satunya terlihat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan Pemda tidak pernah dihadiri oleh rektor atau pejabat USN. Demikian pula sebaliknya.(m6)