FKMA ASEAN VI Po5, Sultan Buton dan Kadis Pendidikan Kunjungi Stand Sekolah

PUBLIKSATU, BAUBAU - Salah satu acara yang menarik dan ditunggu-tunggu banyak orang adalah Poka Kande-Kandea, yaitu menikmati kuliner tradisi Wolio atau makanan khas Buton. Pada hari ke-3 rangkaian acara Festival Keraton Masyarakat Adat (FKMA) Asean di Baubau, Rabu (20/11) digelar acara Pekande-Kandea di Baruga Keraton Wolio dan keliling Benteng Keraton Wolio.
Peserta yang menyiapkan Pekande-Kandea terdiri dari SKPD, Kecamatan, Kelurahan dan sekolah se-Kota Baubau itu dijadwalkan dari jam 12.00-17.00 wita.
Untuk para tamu kehormatan seperti raja dan sultan serta pejabat dijamu di Baruga Keraton Wolio, sedangkan masyarakat umum dijamu di stand yang mengelilingi Benteng Keraton Wolio sepanjang 2,7 km dengan luas benteng 23 hektar. Sekolah se-Kota Baubau menempati sisi tenggara benteng terluas di dunia itu. Sampai jam 14.30 wita, para guru dan kepala sekolah masih setia menunggu dikunjungi para raja atau pejabat. Untuk mengunjungi semua stand sebanyak dan sepanjang itu bukan pekerjaan muda bagi pejabat. Tapi bagi para guru tetap menunggu.
“Kami tetap menunggu dikunjungi raja dan sultan pak,” kata Kepala SDN Tomba, Heriyanto Burhan, SAg, MPd.
Heriyanto bersama guru dan siswanya yang berpakaian adat Buton itu belum juga mencicipi isi talangnya. ”Kami belum sentuh isi talang, masih utuh,” katanya.
Tapi setelah diberitahu kalau di bagian barat dan selatan sana sudah makan, akhirnya Heriyanto mengajak guru dan siswanya makan. ”Kalau begitu kita makan sekarang, apalagi ini sudah lewat jam makan,” katanya.
Begitu mereka selesai makan, raja yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga di stand mereka. Tapi yang datang bukan Raja Buton atau raja lain di nusantara atau Asean, tapi yang datang Kepala Dinas Pendidikan Kota Baubau Abdul Karim, SPd, MSi. Dia mengunjungi satu per satu stand sekolah yang dijaga oleh siswa, guru dan kepala sekolah itu.
-
Sebagaimana adat dan tradisi Wolio, setiap tamu kehormatan yang datang harus diajak makan dan disuap oleh para gadis penjaga stand. Dan seharusnya Abdul Karim akan disuap pada setiap stand yang dikunjunginya dan memberikan sawer pada setiap penjaga stand. Kalau dia harus melayani disuap setiap stand yang dia kunjungi yang jumlahnya hampir 100 stand itu bisa pingsan di jalan.Tapi rupanya dia pintar mengatur strategis, yang disuap bukan Abdul Karim tapi kepala sekolahnya secara bergilir.
Mulai dari ujung sampai ke ujung dia berjalan diiringi para kepala sekolah. “Siapa lagi yang belum, kepala sekolah maju,” katanya memberi instruksi.
Kepala sekolah yang punya giliran pun maju, duduk manis di depan talang dan pelayan para siswa yang manis dan didandan manis lagi dengan pakaian adat Wolio siap menyuapnya. “Kasih yang besar. Ada yang tambah lagi, Kasih kepiting,” katanya.
Si gadis pelayan itu menurut, diangkatlah kepiting dan dia arahkan ke mulut kepala sekolah. Para penonton dan rombongan kadis pun tertawa terbahak-bahak. Bayangkan kepiting sebesar telapak tangan orang besar itu sudah siap masuk di mulut kepala sekolah yang lebih kecil dari kepiting itu. Wartawan dan penonton pun ramai memotret momen yang langka itu. Namun sebelum kepiting sampai di mulut kepala sekolah itu, Abdul Karim langsung memberi instruksi. “Sudah, yang penting sudah difoto, ganti menunya.”
Akhirnya si gadis manis itu menggantinya dengan kue.
Sepanjang perjalanan mendatangi sekolah-sekolah, banyak hal menarik dan lucu yang dilalui Abdul Karim bersama rombongannya. Namun tidak mengurangi nilai-nilai budaya yang akan ditanamkan pada generasi berikutnya, terutama dunia pendidikan. Seperti bagaimana melayani tamu kehormatan, sopan santun dan keramah-tamahan yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai generasi daerah kesultanan.
Jelang bubar akhirnya Sultan Buton dr H La Ode Izat Manarfa, MSc bersama rombongannya tiba juga di stand SDN Tomba dan sekitarnya. Kehadiran orang nomor satu di Kesultanan Buton itu mendapat sambutan hangat dari para siswa, guru dan kepala sekolah yang memang sejak awal mengharapkan sultan hadir di tempat mereka.(ram)