Masih Soal Jalan di Desa Popalia, Mahasiswa Kembali Demo Pemda
Bagikan

PUBLIKSATU, KOLAKA - Mahasiswa Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka kembali menggelar aksi unjuk rasa di kantor bupati Kolaka, Selasa (19/11). Aksi unjuk rasa yang dimotori Ketua BEM Rahmad Hidayat itu masih menyoal pengaspalan jalan menuju kampus baru USN di Desa Popalia, kecamatan Tanggetada.
Empat peleton personil polisi dari Polres Kolaka yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Bambang Satriawan turun untuk mengamankan jalannya aksi tersebut. Setelah berorasi selama lebih dari 30 menit di depan gerbang masuk kantor bupati, para mahasiswa akhirnya ditemui oleh Asisten I Setda Kolaka Muhammad Bakri, Plt Kadis PU Abbas Nuhung, serta pejabat terkait lainnya.
Sebelumnya ketegangan sempat terjadi saat polisi membatasi jumlah perwakilan mahasiswa yang dibolehkan masuk untuk berdialog dengan pejabat Pemda Kolaka.
Karena hanya dibatasi 20 perwakilan saja mahasiswa akhirnya menolak masuk ke kantor bupati. Sebaliknya mereka meminta perwakilan pejabat yang menemui mereka.
Atas permintaan pengunjukrasa, beberapa pejabat Pemda Kolaka akhirnya keluar untuk berdialog dengan mahasiswa di depan gerbang utama kantor bupati. Ketegangan kembali muncul saat dialog antara asisten I dan plt Kadis PU, dengan para mahasiswa.
Itu karena beberapa pengunjukrasa selalu menyela penjelasan teknis dari plt Kadis PU tentang progres penganggaran pengaspalan jalan di desa Popalia. Karena penjelasannya selalu dipotong oleh mahasiswa, Abbas beberapa kali terlihat marah dengan meninggikan suaranya terhadap mahasiswa. Beruntung ketegangan mampu diredam oleh Kapolres Kolaka yang turun langsung menengahi kedua pihak.
Dalam dialognya dengan para mahasiswa, plt Kadis PU Abbas Nunung kembali menegaskan perhatian Pemda Kolaka terhadap kemajuan dan perkembangan kampus USN.
"Itu terbukti dari beberapa kali pengaspalan disana, kita mulai tahun 2016 dan terakhir 2018. Antara 1 sampai 2 kilometer," katanya.
Diakui Abbas, pegaspalan jalan di Popalia untuk sementara tidak dilakukan dalam tahun 2019 karena keterbatasan anggaran. Sementara wilayah lain dalam kecamatan Tanggetada juga membutuhkan perhatian yang sama.
"Karena bandara (sangia nibendera) diperluas maka ada ruas jalan yang menghubungkan 5 desa disana ditutup. Nah sekarang menjadi tanggung jawab kita untuk membuatkan kembali akses jalan pengganti. Itu prioritas juga," tambahnya.
Terkait jalan desa Popalia yang menjadi akses utama menuju kampus USN, Abbas mengungkapkan penganggarannya sudah diusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2020. Sayangnya tambah Abbas, dari Rp 30 miliar yang diajukan untuk pembuatan jalan, hanya terealisasi Rp 12,5 miliar.
"Itu faktanya, tapi masih bisa kita upayakan bersama nanti melalui perubahan anggaran APBD 2020. Sama-sama kita kawal," katanya.
Setelah mendengar penjelasan dari plt Kadis PU, para mahasiswa akhirnya mengakhiri aksi mereka sekira pukul 11.50 wita. Polemik jalan di desa Popalia, kecamatan Tanggetada menjadi bara dalam hubungan antara Pemda Kolaka dengan USN Kolaka selama lebih dari tahun terakhir.
Pihak kampus menilai Pemda Kolaka abai terhadap warga desa Popalia dan mahasiswa USN di kampus baru mereka. Sebaliknya Pemda Kolaka menganggap tudingan kampus USN tidak berdasar karena faktanya Pemda Kolaka diperhadapkan dengan keterbatasan anggaran.
"Tiap tahun rata-rata kita hanya memiliki dana sekitar 60-an miliar. Itu pun harus dibagi ke semua kecamatan. Karena dana terbatas maka pak bupati memprogramkan 2 kilometer jalan per tahun per kecamatan," kata Abbas.(m6)