KPPN Baubau Ikut Meriahkan Peka Kande-Kandea

PUBLIKSATU, BAUBAU-Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Baubau ikut berpartisipasi dalam pesta rakyat tradisi masyarakat Buton yaitu Peka Kande-Kandea, Rabu (20/11).
Acara Peka Kande-Kandea digelar di Baruga (tempat musyawarah) Keraton Buton, halaman samping Masigi Ogena (Masjid Keraton Buton) dan jalan lingkungan komplek Benteng Keraton Kesultanan Buton sepanjang 3 kilometer. Acara yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Festival Keraton Masyarakat Adat ASEAN (FKMA) ke-VI Polima tahun 2019 yang dipusatkan di Kota Baubau ini dicatat oleh The Guinnes Book of World Records Indonesia sebagai rekor tala (nampan yang terbuat dari perak) terpanjang sepanjang sejarah penyelenggaraan Peka Kande-Kandea dengan jumlah 1000 tala.
FKMA ke-VI di Kota Baubau diikuti empat kerajaan dari negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, Filipina dan Korea. Selain itu FKMA ke-VI Polima juga dimeriahkan 81 kerajaan dan 20 lembaga adat yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.
Dalam bahasa Wolio, Peka Kande-Kandea berarti makan-makan. Pada masa dahulu kala, Peka Kande-Kandea diadakan untuk merayakan kemenangan dan menyambut para pejuang Kesultanan Buton yang baru pulang dari medan perang. Selain Peka Kande-Kandea, dalam tradisi masyarakat Buton juga dikenal Haroa (Doa bersama/syukuran).
Sebelum Peka Kande-Kandea dimulai terlebih dahulu diadakan Haroa sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Buton atas terselenggaranya Festival Keraton Masyarakat Adat ASEAN ke-VI Polima tahun 2019 dan sekaligus rasa syukur atas gelar pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepada Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo), Sulton Buton ke-20 dan ke-23 yang berjasa memimpin perjuangan rakyat Buton melawan penjajahan Belanda selama seperempat abad pada abad ke-18.
Gelar pahlawan nasional diberikan oleh Presiden Joko Widodo tanggal 8 November 2019 lalu di istana negara dan diterima langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi selaku ahli waris. Gelar pahlawan nasional ini sekaligus mengakhiri penantian panjang masyarakat Sulawesi Tenggara untuk memiliki sosok pahlawan nasional di daerahnya.
Acara Peka Kande-Kandea diikuti oleh seluruh Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) dan instansi vertikal dan beberapa elemen masyarakat lainnya. Dalam Peka Kande-Kandea disediakan berbagai macam kuliner khas Buton yang disajikan dalam tala. Setiap orang yang ingin mencicipi hidangan dalam tala tersebut dapat disuapi oleh penjaga tala yaitu seorang gadis yang sudah berpakaian adat Kamba Wolio.
Dalam Peka Kande-Kandea kali ini, dua orang pegawai KPPN Baubau ditunjuk menjadi penjaga tala dengan mengenakan pakaian adat Kamba Wolio. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk meningkatkan silaturahmi antar sesama masyarakat dan meningkatkan kebersamaan dalam hukum adat.
Para pejabat dan pegawai KPPN Baubau sebagai bagian dari elemen masyarakat Baubau ikut melestarikan kearifan lokal melalui keikutsertaan dalam Peka Kande-Kandea. Beruntung acara Peka Kandea-kandea ini dilaksanakan pada saat jam istirahat sehingga tidak mengganggu pelayanan kepada stakeholders.
Sebagai punggawa keuangan negara juga harus menjunjung tinggi adat istiadat setempat agar kehadiran KPPN Baubau dapat diterima seluruh lapisan masyarakat. Sehingga tugas dan fungsi KPPN untuk mengawal APBN sampai ke pelosok negeri juga dikenal oleh masyarakat luas.(iwn)