Berita Terkini
Sultra

Rekanan di Kolaka Tidak Punya Visi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 21 November 2019 16:54 WIB · 2 menit baca
Rekanan di Kolaka Tidak Punya Visi
Bupati Kolaka, Ahmad Safei saat membuka rapat koordinasi Dinas PU dengan para konsultan dan kontraktor di Kantor Dinas PU Kolaka,

PUBLIKSATU, KOLAKA - Bupati Kolaka Ahmad Safei menilai sebagian besar rekanan yang ada di Kolaka tidak profesional dalam bekerja. Selain karena tidak punya visi untuk maju, umumnya mereka tidak berani bersaing untuk mendapatkan paket pekerjaan lebih besar dari APBN.

Selalu bergantung dan berharap dari proyek APBD yang anggaran maupun tantangannya tidak besar.

"Kasihan, kalau ditanya paling jawabannya sekedar cari makan. Itu jawaban orang yang tidak punya visi untuk maju," tegas bupati saat membuka rapat koordinasi dengan teknis dinas PU dengan para konsultan dan kontraktor di kantor dinas PU Kolaka, Rabu (20/11).

Salah satu buktinya, kata orang pertama di Kolaka itu, kontraktor atau konsultan yang tidak profesional dan tidak memiliki visi untuk maju, selalu pinjam-pinjam perusahaan.

Sepanjang pengamatannya, banyak paket pekerjaan dikerjakan perusahaan "pinjaman". Baik perusahaan dari luar Kolaka atau dari Kolaka sendiri.

"Itu banyak saya tahu. Itu ciri-ciri orang tidak mau maju. Masa tidak mau bikin perusahaan sendiri ada apa. Mau hindari pajak atau bagaimana. Atau mungkin tidak mau dimintai sumbangankah," sindirnya.

Selain tidak bisa maju, kebiasaan meminjam perusahaan untuk mengerjakan proyek kata bupati bisa membawa dampak buruk pada kualitas pekerjaan. Dicontohkannya, sebuah proyek yang dikerjakan oleh orang yang meminjam perusahaan akan berdampak pada besarnya dana yang harus dikeluarkan oleh rekanan.

Akibatnya, berbagai cara dilakukan untuk mengakali spek yang pada akhirnya menghasilkan pekerjaan yang tidak baik.

"Kalau sudah ada masalah kasihan orang yang punya perusahaan diblack list lagi. Yang pinjam perusahaan enak saja nanti cari lagi pekerjaan baru," ungkapnya.

Dengan berbagai fakta tersebut, kedepan bupati meminta dinas PU atau SKPD pemilik proyek lebih selektif memilih rekanan.

"Jangan lagi ada tekanan yang pinjam-pnjam prusahaan. Ini untuk kebaikan bersama, kebaikan mereka (kontraktor dan konsultan) dan kebaikan kita," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten II Setda Mustajab menyarankan para perencana juga memperhitungkan aspek keindahan dalam membuat desain sarana publik.

Desain kata Mustajab, termasuk aspek pewarnaan (pengecatan) agar sarna publik yang dibuat pemerintah dapat dinikmati oleh masyarakat.

"Sekarang ini eranya orang main selfi. Tapi bagaimana mau selfi kalau taman tempat dia selfi tidak menarik tempatnya apalagi modelnya tidak bagus. Jadi kedepan fungsi juga harus dibarengi dengan keindahan," katanya.

Turut hadir dalam rapat di aula kantor dinas PU itu, plt Kadis PU Abbas Nuhung, Kepala Bappeda Kolaka Samsul Qadar, para kepala bidang di dinas PU, konsultan dan para kontraktor.(m6)