Petani Rumput Laut Raup Rp 3,2 Miliar
Bagikan

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Potensi rumput laut di Kabupaten Buton Selatan (Busel) cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, dari tiga kelompok petani rumput laut di lingkungan Kalangana, Kelurahan Bandar Batauga, Kecamatan Batauga berhasil meraup untung Rp 3,2 miliar dalam semusim.
"Sebagai wujud rasa sukur kami kepada Allah SWT atas rejeki dan nikmat yang diberikan kami menggelar syukuran, kami juga bermohon agar tahun depan rezeki kami meningkat," ujar salah satu petani rumput laut dilingkungan Kalangana, La Ode Hayun.
Ia menjelaskan, syukuran warga ini digelar sederhana. Pada biasanya pertani rumput laut mengungkapkan rasa sukur awal panen musim timur dan diakhir musim timur.
La Ode Hayun mengaku, kualitas rumput laut dari kelompoknya memang cukup menjanjikan kualitasnya. Karena kondisi alam dan rumput laut juga berhasil.
Dengan kualitas cukup bagus didukung dengan harga di pasaran cukup menjanjikan. Satu kilogram rumput laut kering Rp 23.500.
Ia mengungkapkan, total 10 rakit sebagai wadah budidaya rumput laut dengan empat kali panen dalam semusim bisa menghasilkan kurang lebih Rp 120 juta.
Jika rata-rata hasil pendapatannya dijumlah tiga kelompok nelayan rumput di lingkungan Kalangana yang berjumlah 32 orang maka hasilnya kurang lebih Rp 3,2 Miliar. Jumlah yang fantastik untuk ukuran petani rumput laut.
Ia membandingkan, hasil panen tahun lalu dengan tahun ini beda tipis. Hal ini dikarenakan tahun 2018 harga rumput laut paling mahal Rp 21.000. Sedangkan tahun ini Rp 23 ribu.
"Jumlah ini menunjang ekonomi keluarganya. Begitu pula bagi seluruh keluarga kelompok nelayan di lingkungan Kalangana yang saat ini telah tergabung menjadi satu wadah koperasi," katanya.
Kondisi ini tak didukung dengan musim barat ini. Para petani rumput laut libur. Pasalnya gelombang musim barat di Batauga cukup ganas. Tidak memungkinkan untuk bertani rumput laut.
Para petani rumput laut mulai operasi lagi diakhir bulan april atau Mei tahun depan. Saat ini bibit rumput laut masih diambil dari La Sori Mawasangka Timur.
"Jadi kami disini hanya bekerja satu musim saja, berbeda dengan di wilayah pesisir Sampolawa yang dapat dilakukan sepanjang tahun,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Busel, H La Ode Taatlan melalui Kabid Pengembangan Usaha Perikanan Budidaya Muhammad Dafis Kasri mengatakan, pengembangan rumput laut di Buton Selatan ditahun 2019 ini fokus di Sampolawa. Dengan target peremajaan bibit unggul kultur jaringan bantuan dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau.
“Diakhir musim sudah terbukti dengan baik, dan sudah ada permintaan rumput laut kultur jaringan dari petani rumput laut dari La Sori Mawasangka Timur, nanti ini pasti kedepan terus akan berkembang,” ucap Muhammad Dafis Kasri saat ditemui di ruang kerja belum lama ini.
Menurutnya, pengembangan budidaya rumput laut tidak hanya diwilayah pesisir daratan Buton Selatan yakni Batauga, Sampolawa, namun akan merambah ke wilayah kepulauan. Misalnya ditahun ini sudah ada ada tiga nelayan rumput laut di desa Karae Kecamatan Siompu memulai membudidaya rumput laut. Hasilnya, kurang lebih 2 ton rumput laut kering
Sudah ada 3 kelompok lagi di Siompu, kebetulan masih ada tali dari tahun 2016 lalu yang masih dapat digunakan, tinggal diusahakan bibit dan bambu. Disana juga menerapkan sistem long line.
Dinas Keluatan menargetkan prospek kedepan wilayah teluk Sampolawa akan menjadi penyuplai bibit kultur jaringan. Difokuskan di teluk Sampolawa karena diperairan teluk itu rumput laut dapat dibudidayakan sepanjang tahun.
“Di Sampolawa diharapkan akan menjadi pusat pembibitan rumput laut, bukan hanya menyuplai wilayah Busel tetapi diluar Busel,” tukasnya.(aga)