Berita Terkini
Opini

Pentingnya Peran Perawat Sekolah dalam Menangani Masalah Bullying

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 5 Desember 2019 18:11 WIB · 3 menit baca
Pentingnya Peran Perawat Sekolah dalam Menangani Masalah Bullying

FENOMENA bullying saat ini sangat mengkhawatirkan. Korban terus berjatuhan, namun sepertinya hal tersebut hanya menjadi suatu keprihatinan nasional. Bullying adalah fenomena yang dari waktu ke waktu selalu menghantui anak-anak Indonesia.

Terbukti begitu santernya kasus bullying yang selalu ramai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dan menghiasi halaman media cetak maupun media online. Data terkait bullying di Indonesia yang dirilis oleh UNICEF pada tahun 2015 menyatakan bahwa 50% anak Indonesia pernah di-bully di sekolah. Dan yang lebih memprihatinkan adalah apa yang diungkapkan oleh menteri sosial pada tahun 2015 bahwa 40% anak yang bunuh diri di Indonesia merupakan korban bullying.

Data tersebut tentunya menjadi alarm membahayakan bagi semua lapisan masyarakat, betapa bullying menjadi faktor predisposisi utama untuk kejadian bunuh diri di kalangan remaja. Hal ini tidaklah mengherankan karena beberapa penelitian tentang bullying di tingkat global menunjukkan bullying memberi dampak negatif pada kehidupan remaja baik di bidang pendidikan maupun kesehatan remaja. Kemunduran prestasi, tingginya angka absensi dan beberapa permasalahan akdemik banyak dijumpai pada korban bullying. Dari sisi kesehatan, perasaan cemas, depresi, ketakutan, harga diri rendah, cedera dan cacat fisik menghantui semua sisi kehidupan remaja korban bullying. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa kasus bullying terus menerus terjadi?

Penulis berpendapat bahwa fenomena bullying ini tak kunjung berhenti dikarenakan penanganan bullying seperti fenomena jemput bola. Dimana ketika kasus muncul baru ada penanganan. Padahal penanganan bullying ini bersifat kompleks meliputi upaya promosi, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Khususnya tindakan promotif dan preventif masih dianggap sesuatu yang belum penting.

Padahal upaya promotif dan preventif akan meningkatkan mekanisme perlindungan siswa dalam sistem sekolah. Untuk itu, sekolah membutuhkan tenaga perawat agar seluruh upaya promosi, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam penanganan bullying bisa terlaksana.

Kenapa harus perawat? Apa peran mereka di sekolah? Mungkin pertanyaan ini muncul di pikiran masyarakat karena mereka beranggapan perawat hanya eksis di Rumah Sakit dan Puskesmas saja. Tugas mereka hanya memberikan perawatan bagi orang sakit yang datang ke Rumah Sakit atau Puskesmas. Namun, sejatinya, bukan seperti itu, perawat dapat berperan di seting apapun di masyarakat, demikian juga di sekolah.

Di Negara-Negara maju, perawat sekolah telah eksis dan diakui keberadaaanya oleh kalangan professional ataupun masyarakat umum. Begitu juga dengan World Helath Organisation (WHO), yang pada hari kesehatan mental sedunia mengakui peran perawat sekolah dalam menangani masalah kesehatan mental yang terjadi di sekolah.

Untuk mencegah terjadinya bullying di sekolah, perawat sekolah memilki tugas sebagai berikut: memfasilitasi siswa untuk menjalin hubungan yang baik dengan komunitas sekolah; melibatkan orang tua dalam kegiatan sekolah agar meningkatkan kedekatan antara siswa dengan orangtuanya, membina komunikasi antara siswa dengan orangtuanya, membahas pemecahan masalah yang dialami anaknya, dan membicarakan tentang pemantauan anaknya; mendukung kegiatan dan strategi untuk membantu membangun iklim sekolah yang mempromosikan dan mempraktekkan rasa hormat kepada orang lain; mendukung kebijakan tanpa toleransi terhadap kekerasan di lingkungan sekolah; mengadvokasi pemantauan staf sekolah di lokasi-lokasi rawan terjadi kekerasan (bullying); menjadi teladan yang baik, mengembangkan program pendampingan bagi remaja dan keluarga yang berisiko; dan mendidik siswa dan orang tua mereka tentang keselamatan di sekolah.

Dan ketika kekerasan (bullying) terjadi, intervensi perawat sekolah untuk mengatasi perilaku kekerasan (bullying) menurut asosiasi perawat sekolah nasional Amerika Serikat (NASN, 2013) adalah sebagai berikut: mengkordinasi tanggap darurat sampai tim penyelamat tiba; menyediakan perawatan untuk siswa yang terluka; menerapkan strategi intervensi krisis yang membantu mengurangi situasi krisis dan membantu menyelesaikan konflik; mengidentifikasi dan merujuk para siswa yang membutuhkan layanan konseling yang lebih mendalam; dan berpartisipasi dalam tim intervensi krisis.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan bagi pemerintah, tentang pentingnya keberadaan perawat di setiap sekolah agar kejadian bullying di sekolah bisa dicegah dan ditangani, sehingga bullying tidak lagi menghantui anak-anak Indonesia. (***)