Balitbang Bakal Terbitkan Buku Sejarah Busel

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Tak lama lagi dokumen sejarah Buton Selatan (Busel)
akan segera diterbitkan. Balitbang Busel bekerja sama dengan tim ahli dari
Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) tengah merampungkan dokumen tersebut tahun
2019 ini.
Seminar akhir penyusunan dokumen sejarah Busel itu digelar di Aula Lamaindo dengan
menghadirkan tim ahli yang dipimpin Dr Andri Tenri MSi, Dr La Ode Munafi MSi, dan
Haeruddin MA. Seminar ini dibuka asisten II Setda Busel La Ode Mpute.
Asisten II Setda Busel La Ode Mpute mengatakan, dokumen itu juga kedepan nantinya
motivasinya agar bisa menjadi salah satu sumber kebijakan pemerintah daerah dalam
menentukan hari jadi Kabupaten Buton Selatan.
Dengan adanya dokumen sejarah Buton Selatan ini diharapkan menjadi landasan sumber
dokumen yang ilmiah bagi Buton Selatan.
Menurutnya, jika dalam dokumen itu nantinya akan melahirkan rekomendasi Kabupaten
Buton Selatan yang berkarakter islami. Alasannya karena pintu masuknya pertama
penyebaran islam di pulau Buton ada di Burangasi, Kecamatan Sampolawa Kabupaten
Buton Selatan.
Ini kata dia, akan menjadi salah satu poin arah kebijakan pembangunan Kabupaten
Buton Selatan menjadikan Busel sebagai daerah berbasis islami.
"Saya kira ini yang menarik dalam rekomendasi dokumen sejarah Buton Selatan. Tim
ahli secara ilmiah dalam penelitian merekomendasikan hari jadi Buton Selatan dan
menjadikan Kabupaten Buton Selatan yang berbasis atau berkarakter Islami. Karena
masuk Islam yang pertama itu oleh Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman itu dari Burangasi
sebelum menuju dan mengislamkan raja Buton saat itu," katanya.
Dokumen ini nantinya menjadi buku sejarah bagi Buton Selatan. Ini juga nantinya akan
menjadi dokumen pelajaran referensi bagi generasi berikutnya.
Menurutnya, dalam penyusunan dokumen ini semangat awal niatan untuk melahirkan
menjadi rancangan peraturan daerah (Raperda) hari jadi Kabupaten Buton Selatan.
Ketua Tim Ahli Dr Andi Tenri mengatakan, studi penyusunan dokumen sejarah Buton
Selatan. Dalam paradigma itu tim ahli menulis semua item-item sepanjang semua
mempunyai sumber sejarah yang menyangkut Buton bagian Selatan.
Sumber sejarah itu dimulai dari buku negarakartagama sampai runtutan sejarah paska
Buton bagian Selatan masuk menjadi Daerah Otonom Baru. Meskipun ia mengakui ini
tidak tuntas. "Ini gambaran secara umum konteks penulisan dokumen sejarah Buton
Selatan itu," katanya.
Tujuan yang ingin dicapai kata Andi Tenri dari penyusunan dokumen sejarah Buton
Selatan ini diharapkan dari kajian dokumen itu akan menganalisa atau memunculkan
peristiwa yang bisa direkomendasikan untuk hari jadinya Busel.
Kata dia, ada tiga peristiwa penting dalam dokumen sejarah Buton Selatan pertama
negarakartagama maknanya disitu penaklukan Majapahit. Kedua, berintegritas tiga
daerah di Buton. Kemudian masuknya islam pertama kalinya di Buton melalui pintu
Selatan Buton yakni di Rampea Burangasi.
Menurutnya dalam pandangan normatif islam itu adalah peradaban jadi besar
pengaruhnya terhadap masyarakat.
Kata dia, tim ahli merekomendasikan dalam kesimpulan dokumen itu kalau ditetapkan
hari jadi Busel maka merujuk pada tiga peristiwa penting itu. Didalam studi semua
lengkap dipaparkan.
"Tergantung dari Pemkab kalau menindaklanjuti hal ini untuk menetapkan hari jadi.
Maka akan ada lagi menyusun naskah akademik lalu diseminarkan lagi lalu ditetapkan.
Baru diusulkan ke DPRD untuk dibuatkan Perda, " katanya.
Menurutnya jika dalam penyusunan dokumen itu ada dinamika hal wajar. Dalam versi
pertama dokumen yang ditemukan masuknya islam pertama di Buton melalui Bagian
Selatan Pulau Buton tepatnya di Rampea Burangasi tahun 940 hijriah atau 1533 masehi
oleh Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman utusan dari Kesultanan Turki Usmani pusat
terakhir peradaban islam dunia.
Kata dia, ada data bandingan berkembang dari hasil seminar akhir tersebut terungkap
masuknya islam pertama kalinya di Buton mundur sekitar 20 tahun dari data yang
ditemukannya. Maupun data pembanding soal pembentukan Kabupaten Buton Selatan. Ini
menjadi referensi yang akan dianalisis untuk menjadi sumber yang ilmiah dalam
dokumen itu.
"Kami akan minta dokumen itu agar menjadi data membandingkan dua sumber itu.
Nantinya itu hasil akhirnya akan menjadi sebuah landasan, " katanya.
Sementara itu, Kepala Balitbang Busel La Amiri mengaku, dokumen ini merupakan awal
lahirnya referensi sejarah Buton bagian Selatan hingga menjadi Kabupaten Buton
Selatan.
"Dengan harapan adanya dokumen ini menjadi salah satu referensi sejarah Buton
Selatan sehingga dapat dikenang generasi berikutnya," harapnya.
Pada masa Kesultanan Buton di selatan Buton yang kini wilayah Busel penyokong
peradaban Bahari Buton yakni Pelabuhan Bandar Batauga dimana saat angin monson Timur
Batauga menjadi daerah pelindung pelayaran kearah Barat Makassar, Gresik (Surabaya,
Riau, hingga Singapura). (aga)